LANGIT7.ID-London; Pesawat tempur dan tank Israel kembali menggempur Gaza bagian utara dan selatan pada Selasa, menghancurkan deretan rumah warga, sementara orang kepercayaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang berada di Washington untuk membahas kemungkinan gencatan senjata.
Ribuan warga kembali mengungsi setelah Israel mengeluarkan perintah evakuasi baru. Tank-tank Israel juga dilaporkan masuk ke wilayah timur Gaza City di utara serta Khan Younis dan Rafah di selatan.
Menurut otoritas kesehatan setempat, serangan udara dan tembakan pasukan Israel dalam 24 jam terakhir telah menewaskan sedikitnya 112 orang dan melukai lebih dari 400 lainnya. Beberapa kawasan yang terdampak parah termasuk distrik Shejaia dan Zeitoun di Gaza City, bagian timur Khan Younis, dan Rafah. Militer Israel belum memberi tanggapan soal laporan ini.
Ismail, seorang warga daerah Sheikh Radwan di Gaza City, mengatakan kepada Reuters bahwa banyak keluarga yang baru mengungsi terpaksa mendirikan tenda di jalanan karena tidak menemukan tempat aman lagi.
“Kami tidak bisa tidur karena suara ledakan dari tank dan pesawat. Pasukan pendudukan menghancurkan rumah-rumah di timur Gaza, Jabalia, dan wilayah sekitar kami,” katanya lewat pesan teks. Nama belakangnya tidak disebutkan demi alasan keamanan.
Ron Dermer, Menteri Urusan Strategis Israel sekaligus orang dekat Netanyahu, sedang berada di Washington pekan ini untuk bertemu dengan sejumlah pejabat Gedung Putih, kata juru bicara Trump, Karoline Leavitt, dalam konferensi pers hari Senin.
Menurut seorang pejabat Israel, Dermer akan membahas peluang kerja sama diplomatik regional usai perang 12 hari Israel dengan Iran bulan lalu, sekaligus upaya menghentikan perang di Gaza.
Netanyahu sendiri dijadwalkan akan ke Washington minggu depan dan bertemu Presiden Trump pada 7 Juli. Seorang pejabat AS menyebut, pertemuan itu akan membahas isu-isu besar seperti Iran, Gaza, Suriah, dan tantangan regional lainnya.
Pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri, mengatakan bahwa tekanan dari Trump terhadap Israel bisa jadi kunci untuk menghidupkan kembali pembicaraan gencatan senjata yang kini terhenti.
“Kami menyerukan kepada pemerintahan AS untuk menebus dosanya terhadap Gaza dengan menyatakan penghentian perang,” kata Abu Zuhri.
Sebelumnya sempat ada gencatan senjata selama enam minggu di awal tahun ini, namun upaya untuk memperpanjangnya terhenti di tengah jalan.
Menurut sumber Palestina dan Mesir yang mengikuti perkembangan terbaru, mediator dari Qatar dan Mesir telah meningkatkan intensitas komunikasi mereka dengan kedua pihak yang bertikai. Namun hingga kini belum ada tanggal yang ditetapkan untuk putaran pembicaraan berikutnya.
Hamas menyatakan siap membebaskan seluruh sandera yang tersisa, tapi hanya jika ada kesepakatan menyeluruh untuk mengakhiri perang. Sementara Israel tetap pada posisinya: semua sandera harus dibebaskan, dan perang baru akan berakhir jika Hamas dilucuti senjata dan tak lagi menguasai Gaza.
Perang ini dimulai pada 7 Oktober 2023 saat pejuang Hamas menyerang ke wilayah Israel, menewaskan 1.200 orang—kebanyakan warga sipil—dan menculik 251 orang lainnya untuk dibawa ke Gaza.
Sejak itu, serangan balasan Israel telah menewaskan lebih dari 56.000 warga Palestina, sebagian besar adalah warga sipil, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Hampir seluruh dari 2,3 juta penduduk Gaza kini mengungsi, dan wilayah tersebut mengalami krisis kemanusiaan yang sangat parah.
(lam)