LANGIT7.ID-, Jogjakarta- - Pemerintah akan mengaktifkan kembali Istana Kepresidenan Yogyakarta atau yang dikenal dengan Gedung Agung. Tempat bersejarah ini bisa dijadikan panggung diplomasi budaya, pameran seni hingga edukasi lintas generasi.
“Gedung Agung bukan hanya situs sejarah, tapi juga ruang publik yang hidup. Kita bisa manfaatkan tempat ini sebagai panggung diplomasi budaya, pameran seni, residensi kreatif, atau laboratorium edukasi lintas generasi. Kreativitas bisa hadir dari ruang yang memiliki jiwa dan tempat ini penuh makna,” ujar Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar saat mengunjungi
Gedung Agung.
Kunjungan ini sebagai upaya menggali potensi kolaborasi antara seni, budaya, dan ekonomi kreatif di ruang-ruang bersejarah. Kunjungan ini juga sebagai langkah konkret mendorong aktivasi ruang publik berbasis nilai lokal dan warisan budaya untuk mendukung ekosistem ekonomi kreatif yang lebih inklusif.
Selama kunjungan, Wamen Ekraf Irene dan rombongan menelusuri area museum, menyaksikan langsung koleksi seni dari maestro Indonesia seperti Affandi, Soedjojono, dan Basuki Abdullah, serta arsip foto-foto bersejarah kepresidenan.
Baca juga:
Indonesia Ranking 7 Negara dengan Kuliner Terlezat di DuniaSetelahnya Wamen Ekraf berdiskusi bersama pengelola istana, membahas peluang aktivasi ruang yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga fungsional untuk memperkuat narasi budaya Indonesia ke publik. Sebagai salah satu dari tujuh istana kepresidenan dan cagar budaya nasional, Gedung Agung memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia.
Dibangun pada 1824, gedung ini pernah menjadi kediaman Presiden Soekarno saat Yogyakarta menjadi ibu kota sementara (1946–1949). Gedung Agung juga telah menyambut lebih dari 65 kepala negara, termasuk Ratu Elizabeth II dan Pangeran Charles.
Pertemuan ditutup dengan makan malam bersama Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta Deni Mulyana sembari menjajaki kemungkinan kolaborasi ke depan mulai dari program residensi seni, aktivasi konten edukatif berbasis museum, hingga penguatan diplomasi budaya melalui karya-karya kreatif berbasis nilai lokal.
Kunjungan ini juga dihadiri Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto yang turut memberikan pandangannya.
“Kita bisa menghidupkan kembali ruang-ruang bersejarah lewat pendekatan kreatif yang relevan dengan zaman. Perpaduan seni, musik, dan teknologi bisa menjadikan tempat seperti Gedung Agung bukan hanya monumen masa lalu, tapi juga simbol inspirasi lintas generasi,” ujar Yovie.
(ori)