LANGIT7.ID, Jakarta - Belajar sejarah bisa lewat nisan kubur, karena batu tersebut bukan sebatas penanda kematian. Hal inilah yang dilakoni komunitas Pelestari Nisan Nusantara.
Menurut mereka, nisan bisa menjadi sumber pelacakan sejarah dari suatu peradaban dan kebudayaan. Fungsi pelacakan sejarah melalui nisan sebagai tanda genealogi dan ideologi semakin dilupakan pada abad modern ini.
Inisiator Pelestari Nisan Nusantara (Pernisanan), Muhammad Luthfi Gozali mengatakan, dari sekian banyak peninggalan yang sifatnya arkeologis di Indonesia, kajian tentang nisan tidak sepopuler candi, rumah kuno, keris, tombak, serat, babad, dan sebagainya.
“Makam juga merupakan warisan, salah satunya nisan dari sekian unsur yang terdapat pada makam,” kata Luthfi dalam obrolan daring “Mengenali Nisan Sebagai Warisan” yang diselenggarakan komunitas Indonesia Graveyard baru-baru ini.
Pegiat yang lebih senang digelari Sarjana Kuburan (Sarkub) ini menjelaskan, setidaknya ada tiga elemen yang dapat dikaji dari sebuah makam. Selain nisan, ada cukup atau penutup makam dan denah makam. Pada nisan itu sendiri ada pula bagian yang disebut jirat (badan nisan).
“Ini punya filosofinya masing-masing dan setiap tempat punya filosofinya masing-masing. Ternyata di satu zaman, orangtua kita memberikan suatu pakem tertentu. Misalkan denah makam darah biru (keluarga kerajaan) berbeda dengan denah makam ulama atau tokoh agama,” tuturnya.
Menurutnya, banyak pengaburan sejarah terjadi karena publik tidak peduli terhadap kajian-kajian tekstual tentang peninggalan sejarah. Fenomena lain dari ketidakpedulian ini munculnya mitos atau takhayul terhadap makam-makam kuno yang tidak kalah runyamnya.
Kemudian, istilah Sarkub sebagai pegiat sejarah juga baru muncul pada satu dasawarsa belakangan. Sarkub biasanya diidentikkan dengan komunitas santri yang gemar melakukan perjalanan ziarah makan dalam rangka mengkaji sejarah.
“Para sarkub dari dunia pesantren ini punya ketelatenan tertentu. Misalnya serius mengkaji ceritanya, mencari nasab atau silsilah, dan banyak hal yang berbeda dengan penghobi ziarah pada umumnya. Maka sarjana kuburan sebagai pegiat sejarah beberapa tahun ini seperti menjadi komunitas baru,” tutunya.
(bal)