Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 19 Juni 2026
home community detail berita

Belajar Sejarah lewat Nisan Kubur, Bukan Cuma Penanda Kematian

fajar adhitya Sabtu, 02 Oktober 2021 - 20:05 WIB
Belajar Sejarah lewat Nisan Kubur, Bukan Cuma Penanda Kematian
Belajar sejarah lewat nisan kubur. (Foto: Pixabay).
LANGIT7.ID, Jakarta - Belajar sejarah bisa lewat nisan kubur, karena batu tersebut bukan sebatas penanda kematian. Hal inilah yang dilakoni komunitas Pelestari Nisan Nusantara.

Menurut mereka, nisan bisa menjadi sumber pelacakan sejarah dari suatu peradaban dan kebudayaan. Fungsi pelacakan sejarah melalui nisan sebagai tanda genealogi dan ideologi semakin dilupakan pada abad modern ini.

Inisiator Pelestari Nisan Nusantara (Pernisanan), Muhammad Luthfi Gozali mengatakan, dari sekian banyak peninggalan yang sifatnya arkeologis di Indonesia, kajian tentang nisan tidak sepopuler candi, rumah kuno, keris, tombak, serat, babad, dan sebagainya.

“Makam juga merupakan warisan, salah satunya nisan dari sekian unsur yang terdapat pada makam,” kata Luthfi dalam obrolan daring “Mengenali Nisan Sebagai Warisan” yang diselenggarakan komunitas Indonesia Graveyard baru-baru ini.

Pegiat yang lebih senang digelari Sarjana Kuburan (Sarkub) ini menjelaskan, setidaknya ada tiga elemen yang dapat dikaji dari sebuah makam. Selain nisan, ada cukup atau penutup makam dan denah makam. Pada nisan itu sendiri ada pula bagian yang disebut jirat (badan nisan).

“Ini punya filosofinya masing-masing dan setiap tempat punya filosofinya masing-masing. Ternyata di satu zaman, orangtua kita memberikan suatu pakem tertentu. Misalkan denah makam darah biru (keluarga kerajaan) berbeda dengan denah makam ulama atau tokoh agama,” tuturnya.

Menurutnya, banyak pengaburan sejarah terjadi karena publik tidak peduli terhadap kajian-kajian tekstual tentang peninggalan sejarah. Fenomena lain dari ketidakpedulian ini munculnya mitos atau takhayul terhadap makam-makam kuno yang tidak kalah runyamnya.

Kemudian, istilah Sarkub sebagai pegiat sejarah juga baru muncul pada satu dasawarsa belakangan. Sarkub biasanya diidentikkan dengan komunitas santri yang gemar melakukan perjalanan ziarah makan dalam rangka mengkaji sejarah.

“Para sarkub dari dunia pesantren ini punya ketelatenan tertentu. Misalnya serius mengkaji ceritanya, mencari nasab atau silsilah, dan banyak hal yang berbeda dengan penghobi ziarah pada umumnya. Maka sarjana kuburan sebagai pegiat sejarah beberapa tahun ini seperti menjadi komunitas baru,” tutunya.

(bal)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 19 Juni 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
11:57
Ashar
15:18
Maghrib
17:50
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)