Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home sports detail berita

Kelly Corrigon: Novak Djokovic, Aku Salah Menilaimu

sururi al faruq Sabtu, 12 Juli 2025 - 08:27 WIB
Kelly Corrigon: Novak Djokovic, Aku Salah Menilaimu
LANGIT7.ID-London; Dia memang tak pernah jadi favorit penonton, tapi saat kulihat penampilannya di Wimbledon—kalah melawan Jannik Sinner di semifinal Jumat lalu—aku justru bingung mengapa orang-orang terus meragukannya.

Apakah karena dia tak segagah dan seanggun Roger Federer? Atau tak setegar dan sekhas Rafael Nadal? Apa kita kesal padanya hanya karena dia mengalahkan dua idola yang sudah kita kagumi bertahun-tahun?

Atau karena tanah kelahirannya, Serbia, tak semenarik Swiss atau Spanyol—negeri cokelat dan sangria, bukan perang dan kejahatan kemanusiaan?

Ya, dia pernah bersikap buruk pada wasit. Ya, dia menolak vaksin. Ya, bola yang dipukulnya secara emosional pernah mengenai hakim garis, dan dia berjuang untuk tetap bermain. Tapi bukankah kita semua juga pernah emosi? Aku sendiri tumbuh dengan musim panas dihabiskan untuk ski air, bukan berlari ke bunker.

Ada yang bilang dia terlalu berusaha keras. Tapi apa salahnya? Bukankah inisiatif, kegigihan, dan ketangguhan justru nilai yang ingin kita tanamkan pada anak-anak? Setidaknya dalam olahraga, hasrat untuk menjadi yang terbaik bukanlah aib.

Terlebih ketika kau benar-benar mencapainya. Sementara kita sibuk memuja dua rivalnya, Djokovic justru melampaui keduanya—mengumpulkan 24 gelar Grand Slam, mengalahkan Federer (20) dan Nadal (22).

Tapi kita tak pernah memberinya penghargaan yang layak. Mungkin masalahnya ada pada kita.

Kini di usia 38 tahun, ketika dia berjuang mati-matian melawan generasi baru yang akan segera menggesernya, barulah dia terasa "manusiawi". Usia di mana berusaha keras bukan lagi pilihan. Di perempat final, saat terjatuh setelah berusaha menjangkau forehand keras, dia tergeletak lemas—sebelum bangkit lagi, mengeluarkan dua servis mematikan, dan memenangkan pertandingan.

Kelly Corrigon: Novak Djokovic, Aku Salah Menilaimu

Sebut aku sentimental, tapi aku suka saat dia memanggil putrinya "sayang" dalam wawancara. Aku suka fakta bahwa dia menikahi cinta pertamanya, dan betapa keluarganya membuatnya begitu rapuh. Seluruh wajahnya berseri saat menatap kedua anaknya di tribun, suaranya pecah saat mengaku telah mengecewakan putranya setelah kalah.

Aku suka bagaimana dia menangis saat berbicara tentang pengungsi perang. Sebagai orang Serbia, hidupnya dibentuk oleh pengalaman yang jauh melampaui tenis—ingatan dari dua perang yang dia alami. Bersama istrinya, dia berkolaborasi dengan UNICEF dan Bank Dunia untuk pendidikan anak usia dini di Serbia. Masih pantas kita sebut dia brengsek?

Musim semi ini, di ulang tahun pernikahanku yang ke-25, aku menyaksikannya langsung di Madrid Open. Dia kalah dari petenis Italia muda tak berperingkat. Dengan anggun, dia memeluk sang pemenang di net. Saat itulah aku jatuh cinta padanya—lelaki yang lusuh, tak sempurna, tapi setia. Kita menyaksikan seorang atlet yang hidup bergantung pada fisiknya mulai menerima bahwa waktu tak bisa dikelak.

Sebentar lagi, dia akan pergi dari lapangan utama, membawa servis balik revolusioner dan sliding-nya yang seperti pesenam. Bukankah akan indah melihat namanya terpampang sekali lagi di piala perak Wimbledon, bersanding dengan tulisan "The All England Lawn Tennis Club Single Handed Championship of the World"?

Kekaguman pada atlet—terutama yang bertarung sendirian—selalu lebih dari sekadar soal bakat. Kita larut dalam hubungan terpenting mereka saat kamera berganti-ganti antara sang pemain dengan orang tua, pasangan, atau anak-anaknya. Saat putra Djokovic menutup mata karena ayahnya melakukan double fault, kita merasa menjadi bagian dari kisah mereka. Atau setidaknya, kita pikir begitu. Kita merasakan apa yang (mungkin) mereka rasakan: cinta itu menyakitkan. Ketika putrinya yang manis memimpin tarian khas keluarga Djokovic, kita diingatkan bahwa hidup kadang masih bisa begitu indah.

Mungkin zaman akhirnya menyusul Djokovic. Kini kita menghargai hal-hal yang menjadi dirinya—"grit" ala Angela Duckworth dan "vulnerability" versi Brené Brown adalah dua konsep paling populer dalam satu dekade terakhir.

Atau mungkin begini: bahkan pada pesaing yang harus dikalahkannya untuk meraih gelar mayor ke-25, Djokovic adalah mentor yang dermawan. Dia berbagi analisis mendalam, strategi, dan pelajaran berharga pada pemain muda. Tanya Holger Rune, Jakub Mensik, atau Alexander Zverev. Siapa yang melakukan itu? Hanya orang yang tak pernah lupa bagaimana dia sampai di puncak.

Mungkin dia kalah di lapangan rumput minggu ini, tapi Novak Djokovic tetaplah panutan. Pembelajar seumur hidup yang mencintai anak-anaknya, berkontribusi untuk kebaikan, terus berusaha meningkatkan kebugaran dan ketenangan diri—dan selalu ingat, ketika segalanya tampak hilang, untuk menarik napas dalam dan kembali bekerja.(*/saf/kelly korrigan/thenewyork times)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)