LANGIT7.ID-Jakarta; Tak banyak yang menyangka, gadis yang dulu sering duduk di bangku paling belakang kelas kini berdiri tegak sebagai salah satu finalis Top 30 Miss Universe Indonesia 2025. Ia adalah Afina Syifa Biladina, 25 tahun, berhijab, penyintas ADHD, bipolar, dan penyakit langka Stevens-Johnson Syndrome (SJS).
Sejak kecil, Afina sulit untuk fokus, terlalu aktif, tak bisa diam di kelas—karakteristik khas ADHD yang didiagnosis sejak dini. Tapi di balik kerumitan akademik itu, tumbuh benih kreativitas luar biasa.
Saat SMA, Afina belajar otodidak menulis skenario, mengoperasikan kamera, dan mengedit video. Ia membuat film pendek yang diputar bak bioskop mini di tempatnya bersekolah. Karya itulah awal kebangkitannya.
![Afina Syifa, Finalis Miss Universe Indonesia: Bangkit dari Luka, Melangkah untuk Menginspirasi Indonesia]()
Afina memilih jalur IPS dan melawan pandangan sinis banyak orang. Ia berhasil lolos seleksi PTN Universitas Padjadjaran sebagai satu dari hanya dua siswi dari seluruh angkatan putri sekolahnya. Tapi perjuangan tak berhenti di sana.
Di semester dua kuliah, Afina didiagnosis bipolar disorder. Ia sempat mengurung diri selama berhari-hari, ingin mengakhiri hidup. Tapi ia memilih jalan berbeda: bertahan. Ia menjalani terapi, minum obat, belajar menerima diri. Di tengah stigma masyarakat, Afina justru memilih untuk speak up—berbicara lantang di forum publik dan media sosial, bahkan tampil di acara Kick Andy, menyuarakan perjuangan para penyintas gangguan jiwa yang selama ini dianggap tabu.
Lulus kuliah bukan akhir dari perjuangannya. Afina kembali diuji dengan terkena Covid-19, lalu mengalami reaksi alergi hebat akibat kombinasi obat stabilizer mood. Tubuhnya melepuh, wajahnya rusak. Ia didiagnosis Stevens-Johnson Syndrome, penyakit langka yang nyaris merenggut hidupnya. “Saya sudah seperti zombie,” katanya di sebuah video TikTok yang viral hingga ditonton lebih dari 34 juta kali.
Belum cukup di sana. Efek pengobatan menyebabkan kerusakan parah pada kepala tulang panggul. Ia harus menjalani operasi besar dan ditanam stem cell. Selama enam bulan penuh, ia dilarang berjalan. Tapi Afina tidak pernah berhenti. Ia menulis, merekam, berbagi semangat ke ribuan pengikutnya. Ia mengubah penderitaan menjadi pesan, luka menjadi kekuatan.
Afina bukan sekadar penyintas. Ia menjadi simbol. Ia aktif di berbagai seminar, forum kesehatan mental, hingga konten digital yang dikemas dalam gaya khasnya—modis, jujur, dan tulus. Ia bicara tentang acceptance, self-love, dan keberanian untuk meminta bantuan. Ia menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja, asalkan kita tidak pernah berhenti berjuang.
![Afina Syifa, Finalis Miss Universe Indonesia: Bangkit dari Luka, Melangkah untuk Menginspirasi Indonesia]()
Kini, ia tampil di panggung Miss Universe Indonesia 2025, mengenakan hijab dengan percaya diri.
Tapi ia datang bukan untuk sekadar meraih mahkota. Ia datang membawa suara. Suara untuk semua anak yang pernah diremehkan, untuk semua penyintas yang tak pernah didengar, untuk semua jiwa yang pernah merasa tak berharga tapi memilih tetap hidup.
Afina tak sedang bertanding. Ia sedang memperjuangkan ruang untuk mereka yang selama ini tak punya panggung bicara.
Ia telah menang jauh sebelum kompetisi dimulai. Menang atas depresi, stigma, trauma, dan batasan fisiknya sendiri. Ia adalah bukti bahwa kecantikan sejati tak diukur dari wajah, tapi dari keberanian untuk hidup—meski hidup tak selalu ramah.
Untuk Afina. Untuk mimpi-mimpinya. Untuk semua yang ia wakili.
Karena saat Afina berdiri di atas panggung itu, yang ia bawa bukan hanya namanya sendiri—melainkan harapan dari jutaan jiwa yang sedang berjuang diam-diam agar tetap waras, tetap hidup, dan tetap bermakna.(*)
(lam)