Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 06 Mei 2026
home masjid detail berita

Ketika Masa Lalu Mengetuk Pintu Rumah Tangga: Luka Lama Membuka Lembaran Baru

miftah yusufpati Kamis, 21 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Ketika Masa Lalu Mengetuk Pintu Rumah Tangga: Luka Lama Membuka Lembaran Baru
Islam mengajarkan: dosa pribadi yang telah disesali dan ditinggalkan, cukup diketahui antara hamba dan Tuhannya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Pada suatu sore di sebuah kafe Jakarta Selatan, seorang perempuan muda, sebut saja Dina, bercerita lirih kepada temannya. Wajahnya diliputi kegelisahan. “Aku sudah dilamar. Tapi aku bingung, apakah aku harus menceritakan masa lalu kelamku?” katanya. Sebuah pertanyaan sederhana, tapi sesungguhnya berat: apakah aib masa silam harus diungkap kepada orang yang hendak membangun rumah tangga dengannya?

Pertanyaan ini bukan hanya problem Dina. Ia mewakili kegelisahan banyak orang yang pernah salah langkah, lalu bertobat, dan kini ingin menapaki hidup baru.

Islam sebenarnya memberikan garis panduan yang jelas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menegaskan:

“Setiap umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang berterus-terang dalam bermaksiat.”

Beliau menggambarkan, ada orang yang berbuat dosa di malam hari, Allah menutupi aibnya, tapi esoknya ia justru menceritakan sendiri perbuatannya kepada orang lain. “Padahal Rabbnya telah menutupi perbuatannya, justru ia malah menyingkap tabir Allah dari dirinya,” sabda Nabi (HR. al-Bukhari dan Muslim, Muttafaqun ‘alaih).

Baca juga: Apakah Allah Taala Menerima Tobat Koruptor saat Sudah Tak Menjabat Lagi?

Hadis lain, yang diriwayatkan al-Baihaqi, menguatkan: “Barang siapa yang melakukan perbuatan nista, hendaknya ia menutupinya dengan tabir Allah. Sebab, bila ia menyingkapkannya, maka hukum Allah akan ditegakkan kepadanya.” (HR. al-Baihaqi, dinilai hasan oleh al-Albani).

Artinya, Islam mengajarkan: dosa pribadi yang telah disesali dan ditinggalkan, cukup diketahui antara hamba dan Tuhannya. Menyingkapkannya justru pertanda lemahnya rasa malu dan penyesalan.

Lantas, bagaimana jika aib itu terkait dengan pernikahan? Di sinilah dilema moral muncul.

Menurut ulama, kewajiban seorang yang dilamar hanyalah menyampaikan hal-hal yang memang bisa menghalangi atau mengurangi kesempurnaan hubungan rumah tangga. Misalnya penyakit menular atau kondisi medis serius. Sementara perbuatan dosa yang telah ditinggalkan tidak termasuk hal yang harus diungkap.

Tidak sepantasnya seorang wanita yang pernah berbuat zina dan sudah bertobat menceritakan masa silamnya kepada siapapun, termasuk laki-laki yang melamarnya.

Pandangan ini, tentu saja, tidak serta-merta menghapus kekhawatiran calon pasangan. Dalam tradisi masyarakat modern, kejujuran sering dimaknai sebagai keterbukaan total, termasuk soal masa lalu. Banyak pasangan yang percaya, membuka semua rahasia akan memperkuat pondasi pernikahan.

Baca juga: Kesempurnaan Tobat dan Kontinuitasnya Menurut Imam Ghazali

Maka, kembali ke Dina. Ia akhirnya memilih diam, dengan keyakinan bahwa Tuhan telah menerima tobatnya. Yang ia sampaikan kepada calon suami hanyalah tekadnya untuk setia dan membangun keluarga sakinah.

Pertanyaannya, apakah itu sebuah kebohongan? Tidak. Dalam kerangka ajaran Islam, ia justru menjaga harga diri dan kehormatannya.

Seperti yang ditegaskan Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: “Menutup aib diri adalah bentuk menjaga amanah Allah. Mengumbarnya sama saja dengan merobek pakaian yang telah dipakaikan Tuhan untuk menutupi cela.”

Akhirnya, pertanyaan tentang perlu atau tidaknya membuka masa kelam kepada calon pasangan mungkin lebih tepat dijawab begini: bukan soal keberanian bercerita, melainkan soal kebijaksanaan untuk menjaga. Karena, siapakah manusia yang tak punya masa lalu?

Baca juga: Ajakan Bertobat bagi Ahli Ilmu Pengetahunan yang Menyembunyikan Kebenaran

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 06 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)