LANGIT7.ID-, Madagaskar - Aksi protes besar-besaran di
Madagaskar masih berlangsung, bahkan kini tentara ikut bergabung dengan para demonstran. Situasi pun makin memanas dan isu
kudeta makin menguat. Buntutnya,
Presiden Madagaskar Andry Rajoelina melarikan diri menggunakan pesawat Prancis, pada hari Minggu (12/10) lalu.
Rajoelina telah melarikan diri dari Madagaskar untuk menyelamatkan diri di tengah protes nasional yang dimulai akhir bulan lalu. Dalam siaran langsung melalui Facebook, Senin (13/10), dikabarkan ia telah pergi ke lokasi yang aman menyusul laporan dan rumor bahwa ia telah diterbangkan keluar dari negara itu.
Presiden Madagaskar seharusnya menyampaikan pidato di televisi pada Senin sore, tetapi pidatonya ditunda setelah sekelompok angkatan bersenjata mengancam akan mengambil alih media milik negara. Demikian pernyataan kantor Rajoelina di Facebook.
Pada Senin, kemarin,
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan keprihatinannya atas situasi di bekas koloni negaranya, di mana Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan setidaknya 22 orang tewas dalam bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan.
Baca juga: Tentara yang Bergabung di Aksi Demo Madagaskar Terus Bertambah, Kemungkinan Terjadi Kudeta Kian MenguatBerbicara dari sebuah pertemuan puncak di Mesir,
Macron menolak berkomentar apakah Rajoelina telah dievakuasi oleh Prancis.
"Saya tidak akan mengonfirmasi apa pun hari ini," ujarnya. "Saya hanya ingin menyampaikan keprihatinan kami yang mendalam." Melansir
Al Jazeera, Selasa (14/10/2025).
Sebuah sumber militer mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Rajoelina meninggalkan Madagaskar pada hari Minggu dengan pesawat Casa milik Angkatan Darat Prancis, setelah dibawa ke Bandara Sainte Marie dengan helikopter.
Kepergian presiden yang dilaporkan terjadi setelah unit-unit militer membelot pada hari Sabtu, dan Rajoelina mengecam langkah tersebut sebagai "upaya untuk merebut kekuasaan secara ilegal dan dengan kekerasan".
Beberapa jam setelah komentarnya, unit elit militer CAPSAT, yang memainkan peran penting dalam membawa Rajoelina berkuasa melalui kudeta tahun 2009, menyatakan telah mengambil alih kendali militer negara. Sebelumnya, unit tersebut telah mengumumkan akan "menolak perintah untuk menembak" para demonstran.
Baca juga: Cerita Dibalik Demo Gen Z Madagaskar: Emosi Warga, Pembubaran Pemerintah, dan Tuntutan Lengserkan PresidenSejak kemarin, ratusan pengunjuk rasa, bersama tentara dan pasukan keamanan berkumpul di luar balai kota di Antananarivo, ibu kota Madagaskar, sambil mengibarkan bendera dan meneriakkan slogan-slogan.
Salah satu pengunjuk rasa, Finaritra Manitra Andrianamelasoa (24) mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa ia berharap presiden "akan meminta maaf dan mengumumkan pengunduran dirinya dengan sungguh-sungguh".
"Setelahnya, kami dapat mempertimbangkan penyelenggaraan pemilihan umum dan menentukan siapa yang cocok untuk mengambil peran kepemimpinan," tambah Andrianamelasoa.
Demonstrasi di Madagaskar mengikuti tren global gerakan protes Gen Z, termasuk di Nepal, yang menyebabkan lengsernya Presiden Nepal KP Sharma Oli pada awal September 2025.
Protes di Madagaskar dimulai sejak 25 September lalu. Protes ini muncul sebagai buntut adanya pemadaman air dan listrik di sana. Kemudian protes tersebut terus meningkat dan mencerminkan ketidakpuasan yang lebih luas terhadap pemerintahan Rajoelina atas tingginya pengangguran, korupsi, dan krisis biaya hidup. (*/lsi/aljazeera)
(lsi)