LANGIT7.ID, Jakarta - Arsitektur
masjid tua di Indonesia bila diperhatikan rata-rata tak memiliki kubah. Gaya bangunan ini merupakan ciri khas baitullah pada abad ke-16 sampai 18.
Ciri khas masjid kuno ialah atapnya yang bertumpang atau bersusun limas dimana betuknya makin ke atas makin kecil. Jumlah atap limas pada masjid kuno seringkali berjumlah ganjil ada yang, tiga, lima bahkan lebih.
Contoh-contoh dari masjid-masjid dengan jenis atap seperti ini antara lain Masjid Agung Demak, Masjid Agung Cirebon, Masjid Agung Banten, Masjid Agung Kuto Gede, dan Masjid Agung Palembang.
Baca Juga: Masjid Tertua di Indonesia, Pusat Dakwah sebelum Era MajapahitMengutip situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, masjid kuno di Indonesia dengan ciri-cirinya menunjukkan kekhasannya sendiri. Penerapan arsitektur yang tidak condong kepada budaya arab ini. Sebab dalam Al Quran maupun Hadist Nabi, masjid dijelaskan secara universal.
Islam tidak mengambil banyak peran mengenai bentuk-bentuk khusus dalam pembangunan masjid, kecuali arah atau kiblatnya. Dengan demikian di berbagai negeri dan masyarakat Muslim akan terdapat bentuk atau gaya masjid berbeda-beda.
Menurut Altman (1980), sebagai produk budaya, arsitektur pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, faktor budaya, dan teknologi. Faktor lingkungan, mencakup kondisi alamiah lingkungan seperti faktor geografis, geologis, iklim dan suhu.
Faktor teknologi, meliputi aspek pengelolaan sumber daya dan ketrampilan teknis membangun. Sedangkan Faktor budaya, di antara banyak definisi tentang kebudayaan, meliputi aspek falsafah, norma, struktur sosial dan keluarga dan ekonomi.
Atap bersusun yang makin ke atas makin kecil yang didukung oleh bentuk joglo dengan pemberian jarak antara atap satu dengan atap lainnya memungkinkan terjadinya krospentilasi sehingga menyebabkan kemudahan lalu lintas udara yang menyebabkan udara dalam masjid dingin.
Penggunaan atap bertingkat atau bersusun juga cocok untuk alam tropik yang juga mengenal musim penghujan. Sehingga memudahkan curah hujan meluncur dari atap sehingga tidak mudah bocor. Dari keberadaan atap bertingkat itulah berarti arsitek-arsitek Muslim masa itu sudah memerhatikan ekologi lingkungan alamnya.
(bal)