Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 24 Januari 2026
home masjid detail berita

Masjid, Rumah Sunyi yang Tak Selayaknya Riuh: Menjaga Kesucian Rumah Allah di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

miftah yusufpati Kamis, 16 Oktober 2025 - 16:47 WIB
Masjid, Rumah Sunyi yang Tak Selayaknya Riuh: Menjaga Kesucian Rumah Allah di Tengah Hiruk Pikuk Dunia
Masjid seharusnya menjadi ruang hening di tengah kebisingan zaman. Ruang di mana manusia bisa merasa kecil di hadapan Tuhan, tapi besar dalam kemanusiaan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID — Di tengah kota yang semakin gaduh, masjid seharusnya menjadi satu-satunya tempat di mana kesunyian terasa sakral. Namun, kini tak jarang azan bersahutan dengan suara promosi acara, pengumuman proyek, atau bahkan pedagang asongan yang menjajakan dagangan di serambi.

Dalam buku Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 1996), Prof. Dr. M. Quraish Shihab menegaskan bahwa masjid adalah milik Allah, bukan ruang publik tanpa batas. Karena itu, setiap hal yang berpotensi mengurangi kesuciannya, baik perilaku maupun aktivitas, harus dijauhi. “Segala sesuatu yang mengesankan pengurangan kesucian masjid, tidak boleh dilakukan di dalamnya,” tulis Quraish Shihab.

“Masjid sekarang kadang lebih mirip aula,” kata KH. Ahmad Hasyim Muzadi (alm), mantan Ketua PBNU, tentang fenomena “riuhnya” masjid modern dalam wawancara tahun 2015. “Ada seminar politik, bazar, bahkan urusan partai. Padahal Rasulullah Saw. menegaskan: masjid adalah tempat dzikir, bukan tempat dagang.”

Quraish Shihab mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim: “Masjid-masjid tidak wajar untuk tempat kencing atau membuang sampah. Ia hanya untuk berzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.”

Hadis lain, yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, mempertegas batasnya: “Jika engkau mendapati seseorang menjual atau membeli di dalam masjid, katakanlah: semoga Allah tidak memberi keuntungan bagi perdaganganmu.”*

Larangan itu, jelas Quraish Shihab, bukan hanya soal etika ruang, tetapi juga soal menjaga “suasana batin” tempat ibadah. Masjid adalah ruang yang diciptakan untuk menenangkan, bukan menegangkan.

Dari Zaman Nabi hingga Era Digital

Dalam catatan sejarah Islam, masjid memang berfungsi luas: tempat musyawarah, pendidikan, dan pelayanan sosial. Tapi semua itu tetap berada dalam kerangka ibadah — bukan urusan duniawi semata.

“Masjid boleh menjadi tempat belajar, bahkan bermusyawarah tentang urusan umat,” kata Prof. Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). “Namun, ketika politik praktis atau bisnis mulai menguasai ruang sakral itu, maka masjid kehilangan rohnya.”

Larangan bertransaksi di dalam masjid bukan berarti menolak ekonomi umat, melainkan menjaga agar masjid tidak menjadi pasar spiritual. Rasulullah SAW sendiri menolak kehadiran para pedagang di pelataran masjid, bukan karena menolak perdagangan, tetapi karena ingin melindungi kesakralan suasana ibadah.

Zuhud di Tengah Aroma Bawang

Quraish Shihab juga menyinggung persoalan kecil tapi bermakna besar: bau. Dalam salah satu hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang makan bawang putih atau merah, hendaklah menjauhi masjid kita.”

Bagi Shihab, ini menunjukkan bahwa kesucian masjid tidak hanya menyangkut kebersihan fisik, tapi juga kenyamanan spiritual. Masjid adalah tempat “berhias diri untuk Allah”, sebagaimana perintah QS Al-A’raf (7):31: “Hai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid.”

Ritual berwangi-wangian dan berpakaian rapi sebelum ke masjid bukan sekadar sopan santun, tetapi ekspresi kehadiran di hadapan Yang Maha Suci.

Antara Ibadah dan Pendidikan

“Masjid harus menjadi pusat ketenangan dan pencerahan,” tulis Quraish Shihab.

Dalam pengertian luas, ia tidak hanya tempat salat, tetapi juga tempat pendidikan ruhani dan sosial. Sebagaimana Rasulullah SAW membina para sahabat di Masjid Nabawi, masjid semestinya menjadi tempat belajar nilai-nilai Al-Qur’an—tentang kasih, kebersamaan, dan akhlak.

Namun, Quraish Shihab menegaskan batasnya: “Masjid bukan untuk hal-hal yang menodai kesuciannya, baik dengan kata, perbuatan, atau niat.”

Kini, di banyak kota besar, masjid telah menjadi bagian dari lanskap modern—ber-AC, berlayar LED, dan berjadwal rapat. Tapi kesucian bukan soal arsitektur, melainkan suasana batin.

Masjid seharusnya menjadi ruang hening di tengah kebisingan zaman. Ruang di mana manusia bisa merasa kecil di hadapan Tuhan, tapi besar dalam kemanusiaan. Menjaga kesucian masjid, kata Quraish Shihab, bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan memastikan dunia tidak mengotori tempat sujud.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 24 Januari 2026
Imsak
04:22
Shubuh
04:32
Dhuhur
12:08
Ashar
15:30
Maghrib
18:20
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan