LANGIT7.ID–Jakarta; Perbankan syariah Indonesia tengah memasuki babak baru. Tidak lagi hanya berperan sebagai pelengkap sistem keuangan nasional, industri ini kini diarahkan menjadi salah satu motor utama penggerak ekonomi. Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) menegaskan komitmennya untuk memperkuat daya saing dan memperluas pangsa pasar agar setara dengan negara-negara lain yang telah lebih dulu mapan di sektor keuangan syariah.
Ketua Umum Asbisindo, Anggoro Eko Cahyo, menyebut bahwa pertumbuhan perbankan syariah nasional terus melampaui kinerja rata-rata industri perbankan konvensional. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga akhir Desember 2024, total aset perbankan syariah tercatat mencapai Rp980,30 triliun, naik 9,88 persen secara tahunan (year on year), dengan pangsa pasar meningkat menjadi 7,72 persen. Anggoro menilai ruang pertumbuhan masih sangat besar untuk digarap.
“Perbankan syariah rata-rata tumbuh di atas industri bank. Secara global, aset keuangan syariah naik sekitar 10 persen per tahun dengan rata-rata pangsa pasar sekitar 20 persen. Ruang tumbuh bank syariah di Indonesia masih cukup lebar bisa tiga kali lipat dari posisi saat ini,’’ kata Anggoro Eko Cahyo dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (5/11/2025).
Momentum 2025 disebut Anggoro sebagai titik krusial bagi ekspansi ekonomi syariah nasional. Dalam visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, pengembangan ekonomi syariah telah ditetapkan sebagai salah satu pilar utama pembangunan nasional. Pemerintah pun dinilai telah memberikan dukungan komprehensif, mulai dari peta jalan ekonomi syariah Indonesia, Masterplan Industri Halal 2023–2029, hingga pembentukan Komite Nasional Pengembangan Keuangan Syariah (KNKS).
Selain itu, hadir pula kebijakan baru seperti Peraturan OJK (POJK) tentang Kegiatan Usaha Bullion yang membuka peluang besar bagi bank syariah untuk masuk ke ekosistem emas nasional. Langkah ini menjadi fondasi bagi terbentuknya bank emas (bullion bank) yang diluncurkan Presiden RI pada 26 Februari 2025 sebagai sarana investasi syariah yang aman, mudah, dan tahan inflasi. Asbisindo berharap emas dapat menjadi aset likuid perbankan syariah sekaligus dihitung sebagai pengurang Giro Wajib Minimum (GWM).
Dalam rangka mempercepat transformasi sektor ini, Asbisindo telah menyiapkan strategi “winning proposition” yang selaras dengan prinsip maqashid syariah serta kebijakan pemerintah. Pendekatan tersebut mencakup penguatan ekosistem halal, hilirisasi industri produktif bernilai tambah, hingga pemerataan ekonomi berbasis syariah di tingkat desa.
Asbisindo juga mendorong inovasi produk melalui instrumen keuangan seperti Cash Waqf Linked Deposit (CWLD) dan Sharia Restricted Intermediary Account (SRIA) agar industri perbankan syariah semakin kompetitif dan inklusif. Meski begitu, asosiasi menilai masih dibutuhkan dorongan kebijakan fiskal dan perpajakan agar industri ini dapat tumbuh lebih cepat dan menarik bagi masyarakat luas.
Anggoro menegaskan, dukungan kebijakan dan arah regulasi yang kuat telah menandai babak baru perbankan syariah sebagai bagian integral pembangunan nasional.
“Dukungan kebijakan, regulasi, dan pasar ini menunjukkan bahwa ekonomi syariah bukan lagi pelengkap, melainkan arus utama pembangunan nasional. Tentunya dibutuhkan transformasi, adaptif dan inovasi untuk menjadi pemain utama perbankan nasional,” ujarnya yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Dengan langkah strategis tersebut, Asbisindo berkomitmen memperkuat kolaborasi antara regulator dan pelaku industri guna menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan dan ekonomi syariah dunia yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan.
(lam)