Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home masjid detail berita

Syaikh Al-Qadhawi: Al-Quran, Mukjizat yang Indah dan Abadi

miftah yusufpati Selasa, 11 November 2025 - 04:15 WIB
Syaikh Al-Qadhawi: Al-Quran, Mukjizat yang Indah dan Abadi
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: al Jazeera
LANGIT7.ID – Di antara sekian banyak mukjizat para nabi, tidak ada yang menandingi daya hidup dan pesona Al-Qur’an. Mukjizat Rasulullah SAW ini tidak berhenti pada keajaiban logika atau kekuatan pesan, tetapi juga pada keindahan bahasa dan getaran estetikanya. Ia berbicara kepada akal, menggugah rasa, dan menenangkan jiwa.Dr. Yusuf Qardhawi dalam Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah (Citra Islami Press, 1997) menulis, “Al-Qur’an adalah mukjizat yang indah sebelum ia menjadi mukjizat yang logis.” Kalimat-kalimatnya tersusun rapi, berirama, dan memancarkan harmoni yang bahkan oleh bangsa Arab—yang terkenal dengan keindahan sastranya—dianggap melampaui batas kemampuan manusia. Sebagian mereka bahkan menyebutnya sihir, bukan karena tipu daya, melainkan karena pesonanya yang tak tersentuh oleh kata biasa.

Bahasa yang Menundukkan Bangsa Arab

Dalam sejarah, bangsa Arab dikenal sebagai masyarakat yang hidup dari bahasa: syair, retorika, dan pidato. Namun, ketika Al-Qur’an diturunkan, segala ukuran keindahan itu terguncang. Abdul Qahir al-Jurjani, tokoh besar ilmu balaghah, menyebut bahwa rahasia keindahan Al-Qur’an terletak pada “nazhm”—tatanan kata yang bukan hanya indah, tetapi juga bermakna dalam dan tak tergantikan.Ar-Rafi‘i dalam I’jaz al-Qur’an menggambarkannya sebagai “keindahan yang tidak bisa ditiru, karena setiap katanya terikat pada makna yang ditiupkan dari langit.” Sedangkan Sayyid Quthb dalam Fi Zhilal al-Qur’an menulis bahwa bacaan Al-Qur’an yang benar tidak hanya membangkitkan keimanan, tetapi juga “menggetarkan rasa seni manusia.”Al-Qur’an sendiri mengajarkan cara membacanya: “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 4). Ayat ini bukan hanya tentang tajwid, tetapi tentang penghormatan terhadap keindahan firman Allah. Rasulullah SAW pun bersabda, “Bukan termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari).Hadis lain menegaskan, “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Muslim). Bacaan yang indah bukanlah pameran suara, melainkan bentuk khusyuk yang memuliakan wahyu. Bahkan Nabi sendiri memuji sahabat Abu Musa al-Asy‘ari: “Engkau telah diberi seruling dari seruling keluarga Dawud.” (HR. Muslim).Al-Qardhawi mengutip gurunya, Dr. Muhammad Abdullah Darraz, yang pernah menegaskan bahwa keindahan bacaan Al-Qur’an bukan sekadar pertimbangan agama, tetapi juga nilai seni yang tinggi. “Mendengar Al-Qur’an bukan hanya soal ibadah, tapi juga soal rasa—keindahan yang menyentuh estetika manusia,” katanya.

Simfoni Spiritual dan Estetika

Al-Qur’an bukan hanya teks suci, tapi juga simfoni spiritual. Ketika dibaca dengan tartil dan tajwid yang benar, ia menghadirkan harmoni antara makna dan bunyi. Penelitian modern tentang “neuroestetika religius” bahkan menunjukkan bahwa ritme bacaan Al-Qur’an dapat menenangkan sistem saraf dan menurunkan tingkat stres, memperlihatkan bahwa mukjizatnya menjangkau tubuh dan jiwa.Sastra Islam klasik mencatat, setiap huruf dalam Al-Qur’an membawa gema makna. Bagi para sufi seperti Jalaluddin Rumi, keindahan itu adalah “nafas Ilahi yang menyapa hati manusia.” Sementara bagi ulama seperti Hamka, keindahan bacaan Al-Qur’an adalah “seni yang melahirkan iman.”Mukjizat para nabi sebelumnya berakhir bersama zaman mereka. Tongkat Musa tak lagi membelah laut, dan mukjizat Isa tak lagi menghidupkan jasad. Tapi mukjizat Muhammad SAW tetap hidup: Al-Qur’an yang terus dibaca, dihafal, dan dirasakan jutaan manusia setiap hari.Keindahannya tidak pudar ditelan waktu. Ia menjadi bagian dari kebudayaan, melahirkan seni tilawah, kaligrafi, hingga arsitektur masjid yang memantulkan harmoni wahyu.Sebagaimana ditulis Qardhawi, “Dalam Al-Qur’an bertemu agama, ilmu, sastra, dan seni. Ia memuaskan akal, membangunkan perasaan, dan menyejukkan hati.”Mukjizat ini bukan sekadar untuk didengar—tetapi untuk dirasakan. Sebab, di setiap getar ayatnya, ada keindahan yang menyapa manusia dari langit.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)