LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menyalurkan bantuan tanggap bencana bagi masyarakat dan pelaku budaya yang terdampak banjir bandang di Provinsi Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis pada Rabu (24/12), di Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Provinsi Sumatra Barat.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam arahannya menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan memiliki tanggung jawab untuk turut hadir dalam masa tanggap darurat dan fase transisi pascabencana, khususnya dalam melindungi dan memulihkan aset-aset kebudayaan serta mendukung para pelaku budaya yang terdampak.
“Sejak awal kami telah meminta seluruh Balai Pelestarian Kebudayaan di daerah yang terdampak bencana untuk melakukan pendataan terhadap cagar budaya, situs, museum, serta pelaku budaya yang terdampak bencana. Data tersebut menjadi dasar penyaluran bantuan agar tepat sasaran,” ujar Menteri Kebudayaan dalam keterangan resmi, Rabu (24/12/2025).
Menbud lebih jauh menjelaskan, pada tahap awal Kementerian Kebudayaan telah menyalurkan bantuan dari hasil penggalangan dana sebesar sekitar setengah miliar rupiah. Selanjutnya, melalui optimalisasi anggaran, kementerian Kebudayaan menyiapkan dukungan hingga sekitar Rp12 miliar yang difokuskan untuk tiga provinsi terdampak, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Terkait dengan cagar budaya yang terdampak bencana, Menbud menekankan bahwa penanganan kerusakan cagar budaya harus dilakukan secara tailor made atau disesuaikan dengan karakter dan tingkat kerusakan masing-masing objek. Kerusakan pada makam, rumah ibadah, museum, maupun situs warisan budaya memerlukan pendekatan dan intervensi yang berbeda.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Provinsi Sumatra Barat, Nurmatias, menyampaikan bahwa bencana yang terjadi pada 27 November 2025 tidak hanya berdampak pada permukiman masyarakat, tetapi juga pada sejumlah cagar budaya dan pelaku seni budaya di tiga provinsi.
Menbud Fadli juga menegaskan pentingnya penguatan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya dalam upaya mitigasi bencana.
"Ke depan, kita harus terus menjalankan program pemajuan kebudayaan nasional. Bencana ini hendaknya menjadi pelajaran penting untuk memperkuat kearifan lokal, budaya menjaga lingkungan, dan keselarasan dengan alam. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah diwariskan oleh nenek moyang kita melalui manuskrip, ritus, dan tradisi lokal," ungkap Menbud.
“Indonesia adalah wilayah rawan bencana. Karena itu, pendekatan kebudayaan harus menjadi bagian dari solusi, baik dalam mitigasi maupun pemulihan pascabencana,” tambahnya.
Turut hadir dalam pengarahan tersebut antara lain Direktur Sarana dan Prasarana Kementerian Kebudayaan, Feri Arlius; Kepala Biro Umum Kementerian Kebudayaan, Abi Kusno; Kepala Biro Perencanaan Kementerian Kebudayaan, Puguh Wiyatno; Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Wawan Yogaswara; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, Piet Rusdi; dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat, Jefrinal Arifin.
Melalui penyaluran bantuan ini, Kementerian Kebudayaan berharap proses pemulihan kebudayaan di daerah terdampak dapat berjalan secara berkelanjutan, tepat sasaran, tepat waktu, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta pelaku budaya.
Temui masyarakat Sumatera Barat, Menteri Kebudayaan serahkan sejumlah bantuan tanggap bencana di Kota Padang.
Selepas memberikan pengarahan di Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Provinsi Sumatra Barat, Menteri Kebudayaan beserta rombongan menuju lokasi terdampak bencana di Desa Batu Busuak, Kelurahan Lambuang Bukik, Kecamatan Pauh, Padang. Pada kesempatan tersebut kedatangan Menbud beserta jajaran disambut oleh Wakil Walikota Padang, Maigus Nasir.
Menbud Fadli Zon menyampaikan jika sejak awal terjadi bencana, Kementerian Kebudayaan juga melakukan penggalangan dukungan yang kemudian disalurkan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan di Sumatra Barat, Aceh, maupun Sumatra Utara, sesuai dengan kebutuhan di masing-masing daerah.
"Saya kira semua kementerian dan lembaga, pemerintah provinsi, kabupaten/kota, pihak swasta, perorangan, hingga para relawan telah banyak menunjukkan bahwa masyarakat kita memiliki budaya yang sangat baik, yaitu budaya gotong royong. Budaya inilah yang sangat kita perlukan, terutama dalam situasi musibah dan bencana, untuk saling menolong dan saling membantu," ujar Menbud.
Menbud turut menyampaikan bahwa pada masa tanggap darurat, fokus utama kita adalah pemulihan kehidupan masyarakat dalam hal-hal yang bersifat mendasar. Menurutnya dukungan bantuan yang diberikan merupakan bagian dari upaya bersama seluruh kementerian dan lembaga, serta didukung oleh LSM, pihak swasta, dan organisasi kemasyarakatan, yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Karena itu, ujar Menbud, yang selalu menjadi pertanyaan utama adalah apa kebutuhan paling mendesak pada saat ini.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bantuan berupa peralatan penunjang rumah tangga, yang secara simbolis diterima oleh Lurah Lambung Bukik, Andi Defriyan. Selepas menyerahkan bantuan, Menbud Fadli Zon mengunjungi kawasan yang terdampak bencana langsung di desa tersebut.
Kunjungan Menbud tersebut turut disambut oleh mayoritas warga yang terkena dampak bencana. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menyampaikan keluh kesah, harapan, dan sekaligus ucapan terima kasih karena Kementerian Kebudayaan turut hadir secara langsung pada masa pemulihan pasca bencana.
