LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Kebudayaan menggelar silaturahmi dan buka puasa bersama keluarga besar Kementerian Kebudayaan pada Ramadan ke-22. Acara yang digelar di Plaza Insan Berprestasi, ini sebagai bagian dari upaya mempererat kebersamaan di bulan suci Ramadan.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyampaikan bahwa tradisi buka puasa bersama merupakan bagian dari praktik budaya yang mengandung nilai kebersamaan dan silaturahmi. Ia menjelaskan bahwa tradisi
iftar bahkan telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang diajukan oleh sejumlah negara.
“Buka puasa bersama atau
iftar telah menjadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang didaftarkan oleh sejumlah negara. Di Indonesia sendiri, tradisi
iftar juga telah berlangsung lama dengan berbagai bentuk, salah satunya seperti kegiatan silaturahmi yang diisi dengan ceramah dan ditutup dengan buka puasa bersama,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (12/3/2026).
Menbud menambahkan bahwa kegiatan buka puasa bersama di lingkungan Kementerian Kebudayaan menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan dan memperkuat kekompakan keluarga besar kementerian. Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan dalam merayakan berbagai hari besar keagamaan yang ada di Indonesia, baik Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, maupun kepercayaan lainnya.
Lebih lanjut, Menbud Fadli Zon menilai keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang justru memperkuat persatuan. Keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menurutnya, perlu terus dijaga sebagai kekuatan yang mempersatukan masyarakat di tengah perbedaan.
“Kita adalah negara yang memang berbeda-beda tetapi tetap satu. Keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan kekayaan kita.
Megadiversity yang kita miliki bukan sesuatu yang mengancam persatuan, justru menjadi
binding power dan
energizing force yang memperkuat bangsa,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan juga menyinggung situasi global yang tengah diwarnai berbagai konflik yang berdampak pada kondisi ekonomi dunia. Ia mengingatkan bahwa Indonesia patut bersyukur karena hingga saat ini tetap berada dalam kondisi aman dan kondusif, sehingga stabilitas dan keharmonisan bangsa perlu terus dijaga bersama, terlebih di bulan Ramadan yang identik dengan penguatan silaturahmi dan semangat saling memaafkan menjelang Idulfitri.
Kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama tersebut juga diisi dengan tausiyah oleh sastrawan dan dai Habiburrahman El Shirazy atau yang populer disapa Kang Abik, yang dikenal melalui karya-karya novel religiusnya seperti
Ayat-Ayat Cinta dan
Ketika Cinta Bertasbih.
Dalam tausiyahnya, Kang Abik menyampaikan keutamaan Lailatul Qadar sebagai salah satu malam paling mulia dalam bulan Ramadan sehingga menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, doa, dan introspeksi diri. Ia juga mengingatkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan waktu yang sangat dianjurkan untuk meningkatkan amal ibadah, karena pada malam-malam tersebut terdapat kesempatan bagi setiap muslim untuk meraih keberkahan dan ampunan Allah SWT.
Acara ini dihadiri oleh jajaran Kementerian Kebudayaan, antara lain Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo; Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta; Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan, Fryda Lucyana; Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Para Staf Ahli dan Staf Khusus Menteri Kebudayaan; para pejabat dan segenap pegawai di lingkungan Kementerian Kebudayaan.
Melalui kegiatan ini Kementerian Kebudayaan berharap momentum Ramadan dapat semakin mempererat hubungan kekeluargaan di lingkungan kementerian sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dalam merawat kebudayaan dan menjaga persatuan bangsa.
(lam)