Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home masjid detail berita

Paradoks Syawal: Melacak Aliran Triliunan Rupiah di Balik Gempita Lebaran

miftah yusufpati Rabu, 18 Maret 2026 - 04:00 WIB
Paradoks Syawal: Melacak Aliran Triliunan Rupiah di Balik Gempita Lebaran
Bukanlah hari raya itu milik orang yang berbaju baru, namun hari raya adalah milik orang yang ketakwaannya bertambah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Nuansa berlebaran di tengah handai taulan di kampung halaman sering kali menjadi magnet yang begitu kuat. Rindu yang membuncah seolah mematikan nalar ekonomi. Akibatnya, banyak orang tidak lagi mempersoalkan seberapa besar biaya yang harus ditanggung atau seberat apa perjuangan yang harus dilalui demi sebuah ritual mudik dan perayaan. Idulfitri, yang secara filosofis adalah hari kembali ke fitrah, pelan namun pasti bergeser menjadi festival belanja kolosal yang menyerap likuiditas dalam jumlah yang mencengangkan.

Fenomena ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan potret kolektif umat. Benar bahwa Islam merestui umatnya untuk bersenang-senang dan menikmati hasil jerih payah selama setahun. Sebagaimana dikisahkan oleh Aisyah Radhiyallahu anha, ketika Abu Bakar menghardik dua anak wanita yang bernyanyi pada hari raya, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam justru bersabda: "Wahai Abu Bakar, sejatinya setiap kaum pastilah memiliki hari perayaan, dan hari ini adalah hari perayaan kita." (Muttafaqun alaih).

Namun, restu untuk bergembira bukan berarti lampu hijau untuk lepas kontrol dan tanpa ukur. Sebuah data dari Bank Indonesia memberikan tamparan realitas yang cukup keras. Pada periode Idulfitri beberapa waktu lalu, permintaan uang tunai masyarakat mencapai angka fantastis sebesar 77 triliun rupiah. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan periode sebelumnya dan mencerminkan peningkatan nilai belanja umat sebesar 12 persen hanya dalam kurun waktu sekitar empat minggu.

Pertanyaan kritisnya adalah: ke mana larinya uang umat sebesar itu?

Jika kita mencermati pusat-pusat perbelanjaan yang dibanjiri umat Islam selama Ramadhan, kita akan menemukan fakta ironis. Sebagian besar dana tersebut mengalir ke kantung-kantung pemilik modal yang bahkan mungkin tidak merayakan Idulfitri. Sementara itu, ketika hari besar umat lain tiba, jarang sekali ada umat Islam yang turut menikmati berkah ekonomi serupa. Ketidakpedulian umat terhadap arah aliran dana ini menunjukkan betapa lemahnya kedaulatan ekonomi kita di tengah konsumsi yang masif.

Kemampuan membelanjakan 77 triliun rupiah dalam waktu singkat adalah bukti sahih bahwa umat Islam sejatinya kaya. Namun, kekayaan ini adalah kekayaan konsumtif, bukan produktif. Bayangkan jika dana sebesar itu diinvestasikan pada proyek produktif yang menciptakan lapangan kerja. Lebih jauh lagi, jika dana tersebut dialokasikan untuk menyantuni fakir miskin, kemiskinan di negeri ini mungkin sudah tuntas. Sebagai ilustrasi, jika 77 triliun rupiah dibagi kepada 30,02 juta rakyat miskin (berdasarkan data BPS Maret 2011), masing-masing individu bisa mendapatkan sekitar 2,4 juta rupiah—sebuah angka yang sangat berarti untuk modal usaha guna menyambung hidup.

Kenyataannya, dana tersebut habis untuk baju baru yang berpasang-pasang, sepatu, serta aneka hidangan yang seolah menjadi syarat sahnya Idulfitri. Perayaan ini telah beralih fungsi dari nuansa ibadah dan syukur menjadi ajang pamer perhiasan dan kendaraan. Padahal, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam hadits riwayat Bukhari: "Makan, minum, berpakaian dan bersedekahlah, tanpa ada sikap berlebih-lebihan dan kesombongan."

Nilai ubudiyah atau penghambaan kepada Allah seharusnya tidak luntur hanya karena gempita fisik. Esensi patuh saat menahan lapar di bulan puasa harusnya selaras dengan kepatuhan mengelola harta di hari raya. Sejarah mencatat betapa bersahajanya para sahabat. Ummu Athiyah pernah bertanya kepada Rasulullah tentang wanita yang ingin shalat Ied tapi tidak memiliki jilbab. Rasulullah tidak menyuruhnya membeli yang baru, melainkan bersabda: "Hendaknya temannya meminjamkan jilbab kepadanya, sehingga ia turut serta mendapatkan kebaikan."

Idulfitri bagi para sahabat adalah soal kehadiran dalam kebaikan dan doa, bukan soal kompetisi penampilan. Jika umat Islam hari ini kembali menekankan nilai ibadah di atas penampilan, potensi kekayaan yang luar biasa ini tidak akan terhambur sia-sia. Kebahagiaan sejati bukanlah milik mereka yang berbaju baru, melainkan mereka yang ketakwaannya maju nan menderu.

Laisa al-idu liman labisa al-jadid, innama al-idu liman tha'atuhu tazid. Bukanlah hari raya itu milik orang yang berbaju baru, namun hari raya adalah milik orang yang ketakwaannya bertambah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)