Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Polemik Penamaan Israel: Ulama Ingatkan Larangan Mencatut Nama Nabi Ya'qub

miftah yusufpati Selasa, 07 April 2026 - 04:00 WIB
Polemik Penamaan Israel: Ulama Ingatkan Larangan Mencatut Nama Nabi Ya'qub
Menghargai Yaqub Alaihissalam berarti tidak membiarkan gelar mulianya disalahgunakan untuk melegitimasi sebuah pendudukan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di ruang-ruang redaksi berita hingga percakapan di meja warung kopi, satu kata kerap meluncur begitu saja tanpa beban: Israel. Nama ini digunakan secara masif untuk merujuk pada sebuah entitas politik dan militer di tanah Palestina yang kerap melakukan kekejian. Namun, di balik kelaziman sebutan tersebut, tersimpan sebuah fenomena ganjil yang menyentuh relung akidah yang paling mendasar.

Bagi sebagian ulama, menyebut negeri Yahudi yang dimurkai Allah dengan nama Israel adalah sebuah kemungkaran yang nyaris tanpa pengingkar.

Syaikh Prof. Dr. Rabi bin Hadi Al-Madkhali, seorang ulama terkemuka dalam bidang hadis dan jarh wa ta'dil, dalam catatannya yang dimuat melalui laman Islam Spirit, mengangkat kegelisahan yang mendalam mengenai hal ini.

Baginya, penggunaan nama Israel untuk entitas Yahudi modern bukan hanya salah alamat, melainkan juga menyinggung kehormatan seorang rasul mulia, yakni Nabi Ya’qub Alaihissalam. Israel, dalam akar sejarah dan bahasa langit, adalah gelar suci bagi Ya’qub, sosok yang dipuji Allah dalam Al-Quran bersama bapak-bapaknya yang mulia, Ibrahim dan Ishaq.

Dalam Surah Shod ayat 45 hingga 47, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai kedudukan mereka: "Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik."

Penegasan wahyu ini menunjukkan betapa sucinya nama tersebut di sisi Tuhan. Israel adalah simbol bagi hamba pilihan yang memiliki ketaatan mutlak. Maka, menjadi sebuah ironi yang menyakitkan ketika nama seorang nabi yang terjaga dilekatkan pada sebuah bangsa yang justru dikenal dalam sejarah Islam sebagai pembangkang dan pembunuh para nabi.

Penempelan label ini seolah-olah mengonfirmasi klaim sepihak kaum Yahudi bahwa mereka adalah representasi sah dari garis keturunan dan ajaran Ya’qub, padahal secara ideologis mereka telah lama menyimpang.

Kekhawatiran Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali bukan tanpa alasan. Banyak kaum muslimin, secara sadar maupun tidak, membawa-bawa nama rasul ini saat mencela kebijakan politik negeri tersebut. Kalimat-kalimat seperti "Israel telah melakukan serangan" atau "Israel melanggar perjanjian" sebenarnya secara tidak langsung mencatut nama Ya’qub dalam narasi keburukan. Dalam logika bahasa, subjek yang melakukan tindakan keji tersebut diasosiasikan dengan nama Israel.

Fenomena ini dianggap berbahaya karena mampu mengaburkan batas antara identitas kenabian yang suci dengan entitas politik yang penuh lumuran darah. Menurut pandangan Syaikh Rabi, keberadaan penamaan ini di tengah kaum muslimin seharusnya memicu pengingkaran yang kuat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya; penamaan ini telah menjadi fenomena global yang diterima begitu saja sebagai standar penulisan berita maupun opini.

Penggunaan nama Yahudi atau Zionis dipandang jauh lebih tepat dan selamat secara akidah. Yahudi merujuk pada identitas bangsa yang memiliki rekam jejak hubungan teologis tertentu dengan Islam, sementara Zionis merujuk pada gerakan politik yang merampas tanah Palestina. Dengan menghindari penyebutan Israel, seorang muslim sejatinya sedang menjaga lisan dari menyandarkan tindakan maksiat kepada nama seorang utusan Allah.

Interpretasi ini mengajak kita untuk lebih teliti dalam berbahasa. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah pembawa pesan dan penjaga martabat sejarah.

Menghargai Ya’qub Alaihissalam berarti tidak membiarkan gelar mulianya disalahgunakan untuk melegitimasi sebuah pendudukan. Di tengah perang opini dunia yang kian keruh, mengembalikan nama-nama pada tempatnya yang benar adalah bagian dari perjuangan menjaga kemurnian akidah. Sudah saatnya kaum muslimin menyadari bahwa setiap kata "Israel" yang diucapkan untuk merujuk pada kekejian, ada nama seorang rasul pilihan yang sedang dipertaruhkan kehormatannya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)