LANGIT7.ID-Dalam keriuhan berita internasional yang saban hari mewarnai layar kaca dan gawai kita, ada satu kata yang meluncur begitu saja tanpa hambatan: Israel. Nama ini telah menjadi label standar bagi sebuah entitas politik di tanah Palestina yang kerap menjadi sorotan karena tindakan militernya.
Namun, di balik kelaziman bahasa jurnalistik dan percakapan harian tersebut, tersimpan sebuah gugatan teologis yang mendalam. Benarkah kita diperbolehkan menamai negeri yang dimurkai Allah tersebut dengan nama Israel, lalu melemparkan cercaan kepadanya atas nama tersebut?
Syaikh Prof. Dr. Rabi bin Hadi Al-Madkhali, dalam catatannya yang bertajuk Ain Salsabil Min Ma’ini Imamil Jarhi Wa Ta’dil, melontarkan sebuah peringatan keras. Baginya, fenomena ini bukan sekadar urusan semantik atau teknis penamaan geografi, melainkan sebuah persoalan yang menyentuh kehormatan seorang utusan Allah yang mulia. Israel bukanlah sekadar nama negara; ia adalah gelar suci bagi Nabi Yaqub Alaihissalam.
Mari kita menengok kembali lembaran wahyu. Dalam Al-Quran, tepatnya pada Surah Shod ayat 45 sampai 47, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Yaqub bersama bapak-bapaknya, Ibrahim dan Ishaq, sebagai hamba-hamba pilihan yang memiliki kekuatan besar dan ilmu yang tinggi. Allah menyucikan mereka dengan akhlak yang mulia, yakni senantiasa mengingatkan manusia kepada negeri akhirat. Di sisi Tuhan, mereka adalah orang-orang pilihan yang paling baik.
Di sinilah letak ironinya. Israel secara bahasa berarti hamba Allah atau kekasih Allah yang merujuk langsung pada sosok Yaqub. Maka, ketika banyak kaum muslimin menggunakan nama ini untuk mencela sebuah negeri yang dipenuhi dengan pengkhianatan dan kekafiran, secara tidak langsung mereka sedang menyeret nama seorang nabi ke dalam kubangan cercaan.
Kalimat-kalimat seperti Israel adalah bangsa terkutuk atau Israel telah melakukan pembantaian secara teknis bahasa menempatkan subjek Israel sebagai pelaku kejahatan tersebut.
Menurut pandangan Syaikh Rabi, hal ini merupakan sebuah kemungkaran yang sangat berbahaya. Bagaimana mungkin nama seorang rasul yang disucikan oleh Allah justru dilekatkan pada orang-orang Yahudi yang dalam sejarahnya dikenal sebagai musuh para nabi? Bagaimana mungkin kemuliaan Yaqub dijadikan inang bagi sebuah entitas yang brengsek dan kafir? Inilah fenomena ganjil yang menurut beliau nyaris tidak ada yang mengingkarinya di kalangan umat Islam saat ini.
Lebih jauh lagi, penamaan ini sebenarnya merupakan bentuk keberhasilan propaganda lawan. Dengan menamai diri mereka sebagai Israel, entitas Yahudi modern seolah ingin melegitimasi bahwa mereka adalah pewaris sah dari garis kenabian Yaqub. Padahal, Islam menegaskan bahwa kedekatan dengan para nabi bukan didasarkan pada garis keturunan biologis semata, melainkan pada kemurnian tauhid. Ketika mereka menyimpang dari ajaran tauhid, maka hubungan itu terputus.
Menggunakan istilah Yahudi atau Zionis dipandang jauh lebih selamat secara akidah dan tepat secara fakta sejarah. Istilah Yahudi merujuk pada identitas etnoreligius yang memiliki catatan panjang dalam syariat Islam, sementara Zionis merujuk pada gerakan politik kolonial yang merampas tanah. Dengan menghindari penyebutan Israel, seorang muslim sedang menjaga lisannya agar tidak mencemarkan nama suci Yaqub Alaihissalam dalam narasi-narasi negatif.
Penulisan sejarah dan berita seharusnya tidak boleh menabrak batas-batas kehormatan nabi. Bahasa adalah alat yang sangat kuat untuk membentuk opini, namun bahasa juga bisa menjadi jebakan yang menjerumuskan pemakainya ke dalam pelecehan terhadap simbol agama tanpa disadari.
Syaikh Rabi menekankan bahwa hal yang benar (al-haq) adalah ketidakbolehan menggunakan nama Israel sebagai objek cercaan, karena kemuliaan nama itu tetap milik Nabi Yaqub, bukan milik penguasa Tel Aviv.
Kesadaran ini menuntut ketelitian kita dalam berdialektika. Menghormati para nabi adalah bagian dari rukun iman. Menjaga lisan dari penamaan yang salah adalah bagian dari adab terhadap wahyu. Sudah saatnya kaum muslimin memilah kembali diksi yang digunakan dalam memandang konflik di Timur Tengah. Jangan sampai niat hati ingin membela keadilan bagi Palestina, namun tanpa sadar lisan kita justru menodai kehormatan hamba-hamba pilihan Allah yang telah disucikan dalam kitab suci.
(mif)