Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 01 Juni 2026
home global news detail berita

Ekonomi RI Dihantam 4 Guncangan Global, Tapi Masih Kantongi Surplus Energi 26 Miliar Dolar

tim langit 7 Selasa, 07 April 2026 - 10:36 WIB
Ekonomi RI Dihantam 4 Guncangan Global, Tapi Masih Kantongi Surplus Energi 26 Miliar Dolar
LANGIT7.ID–Jakarta; Ketidakpastian global kembali menekan fondasi ekonomi Indonesia. Dari konflik Timur Tengah hingga pergeseran arus modal dunia, tekanan datang berlapis. Namun di balik situasi tersebut, Indonesia ternyata masih menyimpan kekuatan yang kerap luput dari perhatian.

Dalam Diskusi Awal Pekan Forum Guru Besar dan Doktor INSAN CITA, Dr. Ariyo DP Irhamna memetakan empat guncangan utama yang saat ini memengaruhi ekonomi global dan berdampak langsung ke Indonesia.

Salah satu yang paling terasa adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada biaya impor energi, tetapi juga langsung menekan neraca transaksi berjalan Indonesia.

“Ada 4 guncangan ekonomi dunia yang berpengaruh saat ini yakni : Kesatu, Eskalasi timteng diperkirakan kenaikan 10 USD per barel telah menekan Current Account Devisit (CAD) Indonesia senilai 3-4 miliar USD yang langsung teraca di neraca pembayaran," ujar dia dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).

Di saat bersamaan, ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat ikut memperburuk situasi. Perubahan tarif yang tidak konsisten dinilai menciptakan ketidakjelasan bagi pelaku ekonomi global, yang pada akhirnya berdampak ke Indonesia.

Tekanan lain datang dari China yang terus mendorong ekspor produknya ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Produk baja, elektronik, hingga tekstil membanjiri pasar domestik, sementara kebijakan pembatasan yang ada belum cukup efektif menahan laju tersebut. Kondisi ini semakin rumit dengan adanya pemisahan teknologi antara China dan Amerika Serikat, yang membuat posisi Indonesia berada di tengah tarik-menarik dua kekuatan besar.

“Ketiga, China saat ini tengah menekan baja, elektronik dan tekstilnya yang membanjiri pasar domestik Indonesia dan berbagai policy non tarif yang ternyata tidak efektif untuk menahan arus ini. Keempat, ada decoupling technology antara China dan USA. Dan kita terjepit, karena 34 % impor mesin Indonesia dari China, juga 25% total impor kita dari china tapi sekira 12-13 miliar dolar US ekspor kita ke USA," ujar dia.

Di sektor energi, tantangan Indonesia juga tidak kecil. Produksi minyak nasional yang hanya sekitar 600 ribu barel per hari jauh tertinggal dari kebutuhan yang mencapai 1,6 juta barel per hari. Kesenjangan ini membuat Indonesia sangat bergantung pada impor dan rentan terhadap gejolak harga global.

Meski begitu, Ariyo mengingatkan bahwa melihat energi Indonesia tidak bisa hanya dari sisi minyak. Indonesia masih memiliki posisi kuat sebagai eksportir energi, terutama dari batu bara, LNG, dan CPO.

“Yang perlu dipertimbangkan, saat ini Indonesia adalah net eksportir Batubara, net eksportir LNG, dan net eksportir CPO. Karenanya ada hal strategis yang harus dilihat, tidak hanya minyak bumi, tetapi energi at all. Lagipula kita punya agenda transisi energi," ujar dia.

Data menunjukkan bahwa pada 2025, total ekspor energi Indonesia mencapai 54,5 miliar dolar AS, sementara impor BBM berada di kisaran 28,5 miliar dolar AS. Artinya, Indonesia masih mencatat surplus energi sekitar 26 miliar dolar AS.

Dengan kondisi ini, Ariyo menilai perspektif yang digunakan dalam membaca tekanan energi perlu diubah.

“Pertanyaan sebenarnya bukan berapa kenaikan biaya impor BBM, tapi bagaimana net term of trade (ToT) bergeser ketika semua harga energi naik bersamaan," ujar dia.

Sementara itu, Dr. Halim Alamsyah melihat dampak global terhadap ekonomi Indonesia tidak hanya datang dari sektor riil, tetapi juga dari sisi keuangan dan psikologi pasar.

Ia menjelaskan bahwa dampak konflik Timur Tengah terhadap perdagangan Indonesia relatif terbatas, mengingat nilai ekspor ke kawasan tersebut tidak terlalu besar. Namun tekanan utama justru datang dari perubahan perilaku investor global.

“Sementara dari jalur keuangan, Masyarakat dunia terutama para orang kaya, lebih melihat resiko yang berubah. Berbagai resiko geopolitik menyebabkan orang cenderung melepas USD dan membeli emas. Sehingga harga emas pernah menyentuh harga 5.000 USD/ons," ujar dia.

Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga global membuat arus dana menjadi sangat dinamis. Investor dengan cepat memindahkan asetnya mengikuti arah kebijakan moneter dan risiko geopolitik, yang berdampak langsung pada negara berkembang seperti Indonesia.

Halim bahkan menyoroti kondisi capital outflow Indonesia yang saat ini berada dalam tekanan serius.

“Capital outflow Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 20 tahun. Sejak era Prabowo, perlahan mereka yang memiliki uang (domestic ataupun orang asing) melarikan dananya ke luar negeri dan belum Kembali sampai saat ini," ujar dia.

Menurutnya, jalur ekspektasi menjadi faktor yang paling cepat memicu gejolak. Ketika pelaku pasar memperkirakan adanya risiko ekonomi, arus modal bisa keluar dalam waktu singkat tanpa menunggu perubahan fundamental.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, diskusi ini menegaskan satu hal penting: ekonomi Indonesia memang sedang menghadapi ujian berat. Namun dengan struktur energi yang masih mencatat surplus dan potensi kebijakan yang tepat, ruang untuk bertahan tetap terbuka—meski tantangannya semakin kompleks dan tidak bisa dianggap remeh.

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 01 Juni 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)