Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 01 Juni 2026
home global news detail berita

Hadapi Gejolak Ekonomi, Purbaya Berani Melawan Arus IMF, Pilih Cara Lindungi Rakyat

tim langit 7 Selasa, 07 April 2026 - 14:46 WIB
Hadapi Gejolak Ekonomi, Purbaya Berani Melawan Arus IMF, Pilih Cara Lindungi Rakyat
LANGIT7.ID-Jakarta; Saat banyak negara panik dan memilih mengencangkan ikat pinggang, Indonesia justru memilih sebaliknya. Bukan karena nekat, melainkan karena sudah berpengalaman.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia tidak mengikuti anjuran Dana Moneter Internasional (IMF) yang mendorong penghematan belanja di tengah krisis. "Kami tidak pakai pendekatan kencangkan ikat pinggang," ujarnya baru-baru ini di Jakarta.

Lho, kenapa? Karena Indonesia, menurut Purbaya, adalah "lulusan" krisis. Dari krisis 1998 yang memilukan, lalu krisis 2008, goncangan 2015, hingga badai pandemi 2020—semua sudah dilalui. Pengalaman pahit itulah yang kini menjadi guru terbaik.

"Pendekatan 2025 kami ubah ke arah yang bagus. Ini bukan karangan saya, tapi hasil belajar dari 25 tahun terakhir, plus trauma 1998," jelasnya.

Jadi, saat ekonomi diguncang, pemerintah justru melonggar. Memberi insentif, bukan memotong anggaran. Membelanjakan uang negara, bukan menyimpannya.

Daripada memangkas, pemerintah memilih mengalirkan bantuan. Dan yang paling besar justru untuk yang paling kecil: UMKM mendapat insentif pajak hingga Rp96,4 triliun. Bayangkan, pelaku usaha mikro, abang-abang bakso, ibu-ibu pembuat kue, dan pengrajin kecil—mereka yang selama ini jadi tulang punggung ekonomi kerakyatan—justru menjadi prioritas.

Tidak berhenti di situ, bahan makanan pokok seperti beras, jagung, kedelai, gula, hingga ikan dibebaskan PPN. Nilainya? Rp77,3 triliun. Artinya, harga pangan tetap terjangkau saat harga-harga lain melambung.

Transportasi umum juga digratiskan PPN, jasa logistik mendapat tarif khusus, sektor pendidikan dan kesehatan ikut disubsidi. Total insentif yang dikucurkan mencapai lebih dari Rp200 triliun.

"Ini menunjukkan pemerintah selalu mendukung pertumbuhan ekonomi seoptimal mungkin. Tidak pelit-pelit amat," ujar Purbaya sambil tersenyum.

Hasilnya mulai terlihat. Daya beli masyarakat terjaga. Indeks belanja Mandiri naik ke level 360,7. Penjualan ritel tumbuh nyaris 7 persen. Keyakinan konsumen juga tinggi, indeksnya mencapai 125,2.

Yang menarik, penjualan motor tumbuh 1 persen, tetapi penjualan mobil melesat 12,2 persen. Purbaya pun berkelakar, "Mungkin pembeli motor sekarang sudah kaya, jadi bergeser ke mobil. Mudah-mudahan yang beli mobil makin banyak."

Konsumsi semen juga naik 5,3 persen. Tanda orang masih membangun rumah, merenovasi warung, atau memperkeras halaman. Aktivitas tetap jalan.

Namun, tidak semuanya sempurna. Penjualan listrik untuk bisnis dan industri memang masih tumbuh, tapi mulai melambat dalam dua bulan terakhir. Ini mungkin sinyal pelan-pelan, bahwa industri mulai berhati-hati.

Tapi bagi Indonesia, itu bukan alasan untuk panik. Sekali lagi, pengalaman adalah guru. Dan Indonesia sudah berkali-kali lulus ujian.

Indonesia tidak mau sekadar ikut-ikutan saran IMF yang bilang "hemat, potong, tahan." Indonesia memilih cara lain: spending smart dengan melindungi rakyat kecil, memberi insentif besar, dan percaya bahwa daya beli adalah kunci. Sebuah keberanian yang lahir dari luka masa lalu, tapi kini berbuah strategi yang matang.(*/saf)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 01 Juni 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)