LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melaksanakan diskusi strategis bersama Rektor Universitas Darussalam Gontor, Prof. Hamid Zarkasyi yang berlangsung di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta. Pertemuan tersebut membahas penguatan ekosistem budaya di pesantren, di antaranya rencana aktivasi museum pesantren Gontor dan pengusulan pesantren sebagai warisan budaya takbenda (WBTb) Indonesia.
Dalam dialog tersebut, Menteri Fadli mendukung penuh rencana aktivasi museum yang mengangkat tema pesantren dan pendidikan Islam. Menbud menjelaskan bahwa terdapat sejumlah unsur yang harus diperhatikan dalam aktivasi museum, yakni arsitektur, tata pamer, tata pencahayaan hingga narasi sejarah berdasarkan riset mendalam. Lebih lanjut, Menbud menyebutkan Museum Rahmah El Yunusiyah sebagai salah satu referensi museum yang mengangkat sejarah islam.
“Contoh museum bernuansa islam, yaitu Museum Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang, dimana museum itu merupakan rumah asli dari Rahmah El Yunusiyah sendiri. Walaupun sederhana, semua itu bisa dijadikan museum yang menarik,” ungkap Menbud Fadli dalam keterangan resmi, Kamis (9/4/2026).
Lebih lanjut, Menteri Kebudayaan turut menerangkan bahwa rencana aktivasi Museum Gontor dapat menjadi model bagi pesantren lain untuk mempunyai museum serupa yang menceritakan histori pendidikan Islam. Menurut Menteri Fadli, museum berbasis pesantren juga dapat disebut sebagai open museum yang memanfaatkan bangunan atau bentang alam yang sudah ada, seperti candi, gua, hingga sawah.
Menteri Kebudayaan juga menyebutkan bahwa praktik mempelajari ilmu agama di pesantren merupakan ekspresi kultural yang dapat menjadi warisan budaya. Pengusulan pesantren sebagai warisan budaya, lanjut Menbud, merupakan upaya yang memerlukan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah karena memerlukan riset mendalam dari kearifan lokal masing-masing daerah.
“Pesantren itu harus menjadi warisan budaya takbenda Indonesia, karena itu termasuk good practices. Kita juga bisa mendorong pesantren menjadi warisan budaya dunia UNESCO lewat pengusulan, karena pesantren itu adalah ekspresi kultural dan peradaban yang memiliki ciri khas,” tutur Menteri Fadli.
Selaras dengan pernyataan Menbud, Rektor Universitas Darussalam Gontor, Prof. Hamid Zarkasyi, mengungkapkan bahwa pesantren Gontor merupakan bukti historis bahwa pendidikan Islam tidak bisa terpisahkan dari lanskap sosial Indonesia. Ia mengungkapkan, “pendidikan di Gontor sudah berlangsung selama 100 tahun, dan kami juga mengadakan banyak acara yang mempunyai nuansa seni, seperti festival musik, film, dan kaligrafi.”
Hadir dalam pertemuan tersebut Staf Ahli Menteri bidang Hubungan Antar Lembaga, Ismunandar; Staf Khusus Menteri bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, B.R.A Putri Woelan Sari Dewi; serta Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana.
Menutup dialog, Menteri Fadli menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan terus berkomitmen untuk melestarikan ekspresi budaya, termasuk praktik pendidikan pesantren. “Kami terus berupaya untuk memelihara kearifan lokal pesantren dengan program revitalisasi bangunan bersejarah hingga makam dan dari sufi besar yang menyebarkan ajaran Islam di Indonesia,” tutup Menteri Kebudayaan.
(lam)