LANGIT7.ID-Jakarta; PP Muhammadiyah bersiap memperkuat kemandirian sektor kesehatan dengan membangun pabrik cairan infus sendiri di Karang Ploso, Malang, Jawa Timur. Proyek ini digarap melalui entitas Suryavena Farma Indonesia dengan nilai investasi yang ditargetkan mencapai Rp700 hingga Rp800 miliar.
Direktur Utama Suryavena Farma Indonesia sekaligus Wakil Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Tatat Rahmita Utami, menjelaskan bahwa pembangunan pabrik ini dilatarbelakangi kebutuhan besar internal Muhammadiyah, khususnya dari jaringan rumah sakit yang terus berkembang.
Saat ini, Muhammadiyah telah memiliki sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik. Namun, kebutuhan alat kesehatan dan obat-obatan, termasuk cairan infus, masih sepenuhnya dipasok dari pihak luar.
“Di kesehatan itu, kita punya seratus tiga puluh rumah sakit, ya, existing. Seratus tiga puluh rumah sakit dan itu akan terus naik karena tiap tahun kita nambah dua sampai dengan tiga rumah sakit dan ada tiga ratus lebih klinik,” ujar dia usai Launching PT Suryavena Farma Indonesia, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Menurut Tatat, kondisi tersebut mendorong Muhammadiyah untuk mulai masuk ke sektor hulu kesehatan, dimulai dari produksi cairan infus secara mandiri.
Lokasi Malang dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan ini dikenal sebagai pusat industri cairan infus di Indonesia, dengan sejumlah pabrik besar beroperasi di wilayah tersebut. Muhammadiyah sendiri memiliki lahan seluas 14 hektar di Karang Ploso yang dinilai memenuhi syarat untuk pembangunan pabrik, termasuk dari sisi kualitas air.
Proyek ini saat ini masih dalam tahap awal, dengan pembentukan perusahaan sebagai langkah formal. Studi kelayakan (feasibility study) telah berjalan selama empat bulan terakhir dengan melibatkan Institut Teknologi Bandung (ITB), serta didukung kajian financial engineering untuk mematangkan skema pembiayaan.
“Sekitar Rp700 Miliar sampai Rp800 miliar,"
Angka tersebut menjadi target pembiayaan pembangunan pabrik, dengan opsi pendanaan yang masih terbuka, baik melalui investasi swasta maupun pinjaman perbankan. Muhammadiyah menegaskan bahwa skema yang dipilih bukan berupa penyertaan saham.
Jika berjalan sesuai rencana, pembangunan fisik pabrik ditargetkan dimulai secepatnya. Sementara itu, operasional produksi diharapkan bisa dimulai pada akhir 2027 atau paling lambat awal 2028.
Pabrik ini dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 15 juta botol cairan infus per tahun. Dengan kebutuhan internal Muhammadiyah yang diperkirakan mencapai 13 juta botol per tahun, sebagian besar produksi akan diserap oleh jaringan rumah sakit sendiri. Sisanya berpotensi dipasarkan ke luar.
Langkah ini menjadi tonggak penting bagi Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan yang mulai masuk ke industri hulu kesehatan, sekaligus memperkuat kemandirian dalam memenuhi kebutuhan medis internal.
(lam)