LANGIT7.ID-Jakarta; Kinerja industri asuransi syariah di Indonesia menunjukkan tren yang kontras dibandingkan sektor asuransi secara umum sepanjang 2025. Saat industri asuransi mengalami tekanan, segmen syariah justru mencatat pertumbuhan signifikan, seiring meningkatnya kepercayaan dan pemahaman masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) mencatatkan lonjakan kinerja yang melampaui rata-rata industri. Perusahaan membukukan pertumbuhan tahunan sekitar 38 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri asuransi syariah yang berada di kisaran 13 persen. Sebaliknya, industri asuransi secara keseluruhan mengalami kontraksi sekitar 5 persen, sementara asuransi konvensional turun sekitar 6 persen.
Presiden Direktur Prudential Syariah, Iskandar Ezzahuddin Ahmad Zulkiflee, menyampaikan bahwa capaian perusahaan juga tercermin dari sisi bisnis utama. Prudential Syariah berhasil mencatatkan Annualized Premium Equivalent (APE) tertinggi sepanjang sejarah, mencapai Rp1 triliun pada 2025. Selain itu, total aset perusahaan meningkat sekitar 20 persen secara tahunan menjadi Rp8 triliun, serta pembayaran klaim kepada nasabah mencapai Rp2,2 triliun.
“Capaian ini menempatkan kami pada posisi market leader dengan pangsa pasar sekitar 22 persen di industri asuransi syariah,” ujar Iskandar dalam keterangannya, dikutip Senin (27/4/2026).
Dominasi tersebut tidak hanya terlihat dari sisi finansial, tetapi juga dalam aspek non-keuangan. Prudential Syariah mencatat posisi teratas dalam kepuasan pelanggan dan preferensi merek di segmen asuransi syariah.
Menurut Iskandar, perubahan besar terjadi dalam dua tahun terakhir, terutama terkait persepsi publik terhadap asuransi syariah. Jika sebelumnya konsep produk syariah sering dipertanyakan, kini tingkat kepercayaan masyarakat meningkat signifikan. Pemahaman bahwa asuransi syariah memiliki model berbeda dari asuransi konvensional turut mendorong peningkatan minat.
“Ini menunjukkan bahwa pasar syariah bukan lagi sekadar potensi, tetapi sudah menjadi realitas yang tumbuh sangat cepat,” katanya.
Transformasi juga terlihat pada perilaku tenaga pemasaran. Dengan jumlah sekitar 65.000 agen, perusahaan melihat perubahan sikap yang cukup mencolok di lapangan. Jika sebelumnya minat terhadap produk syariah relatif rendah, kini justru terjadi pergeseran yang signifikan.
“Dulu, ketika kami membahas produk syariah, banyak agen yang kurang tertarik. Bahkan saat sesi presentasi, sebagian peserta memilih keluar,” ujar Iskandar.
Kini kondisi tersebut berbalik, bahkan agen non-Muslim turut aktif mendorong pengembangan produk berbasis syariah.
“Mereka sekarang yang datang kepada kami, meminta produk baru, meminta kampanye baru. Ini menunjukkan bahwa permintaan pasar memang sudah berubah,” ungkapnya.
Perubahan perilaku agen ini menjadi salah satu indikator berkembangnya pasar secara organik. Selain itu, pertumbuhan industri juga didorong oleh faktor struktural seperti kebijakan spin-off unit syariah, penguatan regulasi, serta dukungan pemerintah dalam pengembangan ekonomi syariah nasional.
Kenaikan literasi keuangan syariah turut berperan penting. Tingkat literasi meningkat dari sekitar 9 persen pada 2023 menjadi 45 persen saat ini, yang mempercepat adopsi produk syariah di masyarakat.
Dengan tren tersebut, Prudential Syariah memandang peluang industri masih terbuka lebar. Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia dinilai berpotensi menjadi salah satu pusat keuangan syariah di tingkat global.
“Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, kami melihat pertumbuhan asuransi syariah akan jauh lebih cepat. Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bisa menjadi acuan global,” pungkasnya.
(lam)