LANGIT7.ID - , Jakarta - Derasnya arus digital yang tidak bisa dihentikan dan masa pandemi COVID-19 menjadi dua hal yang merubah pola hidup masyarakat saat ini.
Menurut Menteri Kominfo 2014-2019 sekaligus Steering Committee Indonesia Fintech Society (IFSoc) Rudiantara, dua hal tersebut menciptakan demand dan supply baru di ekosistem keuangan.
Ditambahkannya digitalisasi layanan perbankan adalah keniscayaan dan saat ini bank konvensional sudah mulai beranjak ke model operasi secara digital. Data OJK menyatakan sekitar 85-95% transaksi keuangan di bank BUKU III dan IV sudah dilakukan melalui layanan digital dan di luar kantor bank.
Baca juga : Punya Potensi Besar dalam Ekonomi Nasional, IAEI Dukung Perbankan SyariahSalah satu yang inovasi yang tercipta dari kondisi saat ini adalah neobank atau bank digital. Neobank adalah inovasi teknologi keuangan yang menawarkan layanan keuangan digital. Indonesia Fintech Society (IFSoc) memprediksi neobank atau bank digital berpeluang ke depannya.
Rudiantara juga menyoroti munculnya sentimen positif terhadap neobank yang terlihat dari besarnya nilai kapitalisasi neobank di dunia. Misalnya, market cap dari KakaoBank di Korea Selatan mencapai 33.16 triliun won (28.3 miliar dolar) dengan jumlah pengguna 25% dari populasi Korea Selatan.
Di Indonesia, kapitalisasi dari Bank Jago mencapai Rp209 triliun, melewati nilai kapitalisasi beberapa bank kelas menengah di Indonesia.
Dalam penilaian IFSoc, Indonesia memiliki potensi pertumbuhan dan pengembangan neobank. Menurut Ketua SC IFSoc Mirza Adityaswara, menyoroti potensi pasar untuk neobank di Indonesia.
Baca juga : Ini Produk yang Bisa Dimanfaatkan dari Perbankan Syariah“Awalnya, dengan pemanfaatan teknologi, neobank akan menyasar kalangan underbanked, terutama kelompok usia muda serta masyarakat di wilayah urban. Namun pada tahap berikutnya, neobank juga perlu menyasar kalangan unbanked demi mendukung peningkatan inklusi keuangan Indonesia,” Kata Mirza.
(est)