LANGIT7.ID, Semarang - Tradisi weh-wehan setiap 12 Rabiul Awal dilakukan warga Kaliwungu, Kendal. Tradisi ini menjadi unik, sebagai bentuk silaturahmi antar warga dengan membagikan sejumlah makanan ke warga sekitar.
Weh-wehan ini dalam bahasa Indonesia berarti memberi. Warga menyediakan sejumlah makanan di depan rumah. Tidak hanya di depan rumah saja, tapi juga di sudut-sudut gang. Tradisi weh-wehan ini biasanya dilakukan saat Maulid Nabi.
Siapa saja, anak-anak, orang dewasa, remaja, dibolehkan untuk mengambil makanan tersebut tanpa terkecuali. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun-temurun, dan masih bertahan hingga saat ini.
Baca juga:
Peringatan Maulid Nabi Perkara Ijtihadiyah, Tidak Dilarang atau Dianjurkan“Tradisi weh-wehan atau ketuwin ini maknanya adalah saling berbagi. Masing-masing rumah menyediakan jajanan di meja, dan menaruhnya di depan rumah dan sepanjang jalan gang,” kata Bupati Kendal Dico M Ganinduto, Selasa (19/10).
“Hampir tiap kampung dan gang-gang menyelenggarakan tradisi ini,” kata Dico lagi.
Berbagai jajanan dan makanan di sajikan di depan rumah. Seperti tahu bakso, roti, dan ketupat sumpil, yang menjadi makanan khas di Kaliwungu, maupun masyarakat Jawa Tengah. Pasalnya di Kebumen dan Temanggung juga ada jajanan sumpil.
Ketupat sumpil yang berbentuk segitiga, terbuat dari bahan baku tepung beras ini konon sudah dikenal sejak zaman Sunan Kalijaga. Ketupat sumpil ini tidak hanya sebatas makanan saja, tapi juga memiliki makna kehidupan. Makna segitiga adalah bahwa manusia memiliki hubungan tuhan dan sesama manusia.
(sof)