LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, sampaikan pidato kebudayaan dalam kegiatan
Malam Budaya: Menjaga Suluh, Merawat Nurani Bangsa. Bertempat di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, acara ini merupakan salah satu dari rangkaian program Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif (BB-ASM) 2026.
Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif (BB-ASM) 2026 merupakan program tahunan yang diinisiasi MAARIF Institute sebagai upaya merawat, menghidupkan, dan menyebarluaskan pemikiran serta keteladanan Buya Ahmad Syafii Maarif sebagai Guru Bangsa. Melalui berbagai kegiatan yang berlangsung sepanjang Mei hingga Juni 2026, publik diajak untuk merefleksikan gagasan-gagasan Buya Syafii mengenai hubungan antara religiusitas, kebangsaan, dan kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam pidatonya menyampaikan apresiasi kepada MAARIF Institute yang secara konsisten merawat dan menyebarluaskan warisan pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif kepada masyarakat luas, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan sarasehan budaya tersebut. Menurut Menbud, tema “Menjaga Suluh, Merawat Nurani Bangsa” sangat relevan dengan warisan pemikiran dan keteladanan Buya Syafii Ma’arif yang menempatkan kebudayaan, moral, dan kemanusiaan sebagai landasan penting dalam membangun peradaban bangsa.
“Buya Ahmad Syafii Maarif adalah sosok yang sederhana, dengan pemikiran yang lurus serta keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Keteladanan beliau, baik dalam keilmuan yang berintegritas, patut menjadi inspirasi bagi kita semua. Dalam kehidupan berbudaya, beliau juga menunjukkan penghormatan yang tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan, yang hingga kini tetap relevan untuk dijadikan teladan,” ucap Menteri Kebudayaan dalam keterangannya, dikutip Jumat (19/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Menbud Fadli Zon juga mengenang kedekatannya dengan Buya Ahmad Syafii Maarif semasa beliau aktif di Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menurutnya, Buya Syafii merupakan sosok yang memiliki perhatian besar terhadap sejarah bangsa dan pelestarian warisan budaya Indonesia.
“Saya meyakini, pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif yang mencintai sejarah, kebudayaan, dan nilai-nilai kemanusiaan merupakan teladan bagi kita semua dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta segala pengabdian dan keteladanannya terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus,” ujar Menbud.
Dalam rangkaian acara tersebut turut diluncurkan buku
Buya Syafii di Mata Orang Biasa yang diresmikan secara simbolis oleh jajaran pengurus Yayasan Ahmad Syafii Maarif bersama Menteri Kebudayaan, Fadli Zon dan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq. Buku tersebut memuat beragam kisah, pengalaman, dan refleksi dari berbagai kalangan mengenai sosok Buya Syafii sebagai guru bangsa yang menginspirasi.
Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq; Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani; Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Andar Nubowo; Direktur Akademi Partai Golkar, Hajriyanto Y. Thohari; Ketua Lakpesdam PBNU, Ulil Abshar Abdalla; Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Delmus Puneri Salim; Wakil Bendahara Yayasan Ahmad Syafii Maarif, Fenty Noverita; serta Dewan Pengawas Yayasan Ahmad Syafii Maarif, Endang Tirtana.
Menutup pidatonya, Menbud Fadli Zon menyampaikan harapan agar gagasan dan keteladanan Buya Syafii terus menginspirasi generasi muda Indonesia untuk mencintai sejarah dan kebudayaan.
Mendukung gagasan ini, Kementerian Kebudayaan terus mendorong pemajuan kebudayaan berbasis komunitas melalui penguatan ekosistem budaya, pengembangan ekonomi budaya (
cultural economy), dan industri budaya (
cultural industry) sebagai instrumen
soft power Indonesia.
(lam)