LANGIT7.ID-Berlin; Lima belas bulan setelah mengejutkan dunia tenis di Miami, petenis Filipina, Alex Eala kembali menorehkan jejak kemenangan atas para lawan elit—dengan Elina Svitolina menjadi korban terbarunya di Berlin.
Bintang tenis asal Filipina yang wajahnya dikatagorikan manis dikomunitas tenis dunia ini, melesat ke empat besar Berlin Open 2026 setelah meraih kemenangan spektakuler 6-3, 6-4 atas Svitolina yang menduduki peringkat ke-8 dunia, pada Sabtu dini hari waktu Filipina, di Steffi Graf Stadion.
Ini adalah kemenangan keenamnya melawan lawan yang masuk sepuluh besar dunia, dan untuk pertama kalinya sejak Miami Open 2025, Eala berhasil meraih kemenangan beruntun melawan pemain sekaliber ini—di mana saat itu ia mengalahkan Madison Keys dan Iga Świątek secara berturut-turut.
Membawa momentum dari kemenangan sebelumnya atas Elena Rybakina, Eala langsung tancap gas di set pertama—memimpin 3-0 lebih dulu berkat perolehan break di gim kedua dan dua kali servis yang aman.
Kedua pemain kemudian menemukan ritme servis mereka, saling mempertahankan gim selama empat gim berikutnya, sebelum Svitolina menemukan celah. Mantan petenis peringkat ketiga dunia ini berhasil melakukan break di gim ketujuh, memperkecil ketertinggalan menjadi 4-3 dan mengancam akan bangkit.
Namun, Eala dengan cepat mengendalikan kembali jalannya set. Tak gentar dengan kemunduran itu, petenis Filipina ini membalas dengan break di gim kedelapan, sebelum dengan percaya diri menyelesaikan set pembuka di gim kesembilan, mengakhiri awal yang kuat dengan kemenangan 6-3 di set pertama.
Meskipun jumlah ace lebih banyak dimenangkan Svitolina (4-1), Eala masih unggul dalam persentase servis pertama (69% berbanding 62%) dan juga unggul dalam perolehan poin (15-11) di set pembuka.
Eala membawa momentumnya ke set kedua, dengan bertahan dalam gim pembuka yang berlangsung alot selama 18 poin sebelum akhirnya meraih break awal. Ia lalu mengamankan servisnya untuk unggul 2-0.
Namun Svitolina memberikan respons yang layak bagi pemain sekelasnya. Petenis Ukraina itu memenangkan servisnya sebelum melakukan break di gim keempat untuk menyamakan kedudukan 2-2 dan sempat merebut kembali momentum.
Namun Eala dengan cepat membalikkan keadaan lagi. Ia berhasil melakukan break di gim kelima dan ketujuh, diselingi dengan dua kali memenangkan servis, untuk melesat unggul 5-2 dan tinggal selangkah lagi menuju semifinal.
Svitolina yang berusia 31 tahun tak menyerah begitu saja. Ia melakukan break di gim kedelapan dan mempertahankan servisnya untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 5-4.
Namun, dengan garis finis di depan mata, Eala menunjukkan ketenangan luar biasa, menyelesaikan servisnya di gim kesepuluh untuk mengukuhkan kemenangan penting lainnya di musim terobosannya.
Pada akhirnya, pengembalian bola dari pemain berusia 21 tahun itulah yang membawanya meraih kemenangan impresif lainnya, dengan keunggulan 13-9 dalam pengembalian servis pertama dan 21-19 dalam pengembalian servis kedua.
Selanjutnya, Eala akan menghadapi Linda Nosková, peringkat ke-13 dunia, di semifinal. Ia berambisi memutus kutukan melawan lawan-lawan asal Ceko—di mana saat ini ia memiliki reor 1-13 yang timpang melawan pemain dari negara Eropa tersebut.
Sabalenka Bangkit dari Tepi Kekalahan di BerlinAryna Sabalenka mengatakan kini ia tahu "bagaimana rasanya bermain melawan diriku sendiri" setelah meraih kemenangan comeback yang sangat dibutuhkannya atas Nikola Bartunkova untuk melaju ke semifinal Berlin Open.
Petenis nomor satu dunia itu tertinggal satu set dan 0-4 setelah kewalahan di awal pertandingan oleh Bartunkova yang berbakat dari Ceko.
Sabalenka terlihat banyak melakukan kesalahan sendiri, mudah kesal, dan servisnya tak efektif—penampilan yang mengingatkan pada kekalahan mengejutkannya di perempat final Prancis Terbuka.
Namun, Sabalenka berhasil menenangkan diri dan menemukan kembali ritmenya untuk bangkit menang 2-6, 7-6 (7-2), 6-4.
Keempat gelar Grand Slam tunggal Sabalenka diraih di lapangan keras, dan ia kerap nyaris berhasil di SW19 maupun Roland Garros.
Petenis 28 tahun ini menjadi unggulan di Paris setelah sejumlah kekalahan dini, tetapi kekalahannya dari Diana Shnaider saat unggul 6-3, 4-1 di babak delapan besar sempat mempertanyakan ketahanan mentalnya.
Namun kemenangan seperti ini—bangkit dari posisi yang tampak mustahil—akan memberi Sabalenka kepercayaan diri menjelang Wimbledon, di mana ia mencapai semifinal tahun lalu.
"Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya berpikir, wah, begini rupanya rasanya bermain melawan saya," ujar Sabalenka.
"Setiap bola yang saya berikan padanya, ia pukul habis-habisan jadi winner. Pemain hebat—pastinya calon superstar masa depan.
"Saya hanya mencoba memunculkan 'harimau kecil' di dalam diri saya dan berjuang untuk pertandingan ini."
Sabalenka akan berhadapan dengan petenis peringkat keempat dunia, Jessica Pegula, untuk memperebutkan tiket final setelah Pegula mengalahkan sahabatnya Madison Keys dengan skor 7-6 (7-5), 7-6 (10-8).
Bartunkova mengalami tahun terobosan, mengalahkan Belinda Bencic yang saat itu peringkat 10 dunia di Australia Terbuka dan menjadi runner-up di turnamen lapangan rumput Birmingham awal Juni.
Pukulan datar dan pengembalian servisnya yang kuat membuat Sabalenka kewalahan, dan dengan cepat ia tertinggal 5-1.
Setelah kehilangan empat gim beruntun, Sabalenka menyelamatkan empat set point di servisnya dan memiliki dua peluang break-back saat Bartunkova mencoba menutup set pertama—namun petenis berusia 20 tahun itu melepaskan dua servis pertama yang keras dan tak terjangkau.
Petenis peringkat 62 dunia itu berteriak keras merayakan keunggulannya, dan permainan agresifnya membawanya unggul empat gim pertama di set kedua.
Servis Sabalenka nyaris tak berperan—salah satu bola bahkan mengenai bingkai raket dan melambung keluar lapangan—hingga ia berhasil memenangkan servisnya untuk pertama kalinya di set tersebut.
Meski harus menyelamatkan satu break point lagi, Sabalenka memenangkan lima gim berikutnya untuk memimpin untuk pertama kalinya di pertandingan ini sebelum memenangkan tie-break.
Momentum berbalik di set penentuan, di mana Sabalenka dua kali harus merebut kembali keunggulan setelah kehilangan break, tetapi pukulan forehand winner yang keras membawanya pada posisi unggul 5-4 dan bersiap untuk menyelesaikan pertandingan.
Dua match point datang dan pergi sebelum pukulan forehand silang khasnya mengamankan kemenangan bagi unggulan teratas ini.
Meskipun kemenangan sengit ini akan menyenangkan Sabalenka, ia juga sempat mengompres bahu kanannya saat pergantian sisi—cedera yang membuatnya absen di Wimbledon dua tahun lalu.(*/saf/espn/bbc)
(lam)