LANGIT7.ID, Jakarta - Peringatan Maulid Nabi jadi momentum penguatan ummat Islam dengan mengingat kembali perjuangan Nabi Muhammad dalam syiar Islam hingga sampai ke bumi Nusantara.
Hikmah peringatan Maulid Nabi menyegarkan kembali pemahaman terhadap visi pembinaan umat yang bertolak dari masjid dan persaudaraan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah.
Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Muhammad Fuad Nasar mengatakan, kualitas unggul umat Islam yang dikehendaki Nabi Muhammad bukan sekadar umat yang dihitung dalam statistik, tetapi umat yang diperhitungkan dalam kehidupan bangsa dan dunia.
Sejauh ini peringatan hari-hari besar Islam jarang dikaitkan dengan agenda yang dapat dikenang sepanjang masa. Kesuksesan peringatan Hari Besar Islam hanaya dipandang dari kuantitas jamaah yang hadir dan menghadirkan penceramah terkenal.
Namun, jarang terpikirkan memperingati hari besar Islam yang ditandai dengan sesuatu yang monumental. Seperti pencanangan dimulainya pembangunan masjid, sekolah, panti sosial yatim piatu, pembukaan klinik sehat dhuafa dan lainnya.
"Sangat baik sekiranya umat Islam mengenang terwujudnya sarana dan prasarana sosial dalam nuansa keterkaitan memperingati hari-hari besar Islam, seperti Maulid, Nuzulul Quran, Isra’ dan Mi’raj dan Tahun Baru 1 Muharam," katanya, Selasa (19/10/2021).
Fuad menjelaskan, dalam kehidupan sosial, pesan yang sangat kuat dari Nabi Muhammad tentang kualitas hubungan seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagai satu bangunan, satu bagian dengan bagian lainnya saling menopang dan memperkuat.
"Islam adalah agama yang mengajarkan sikap menghargai orang lain," imbuhnya.
Sikap menghargai orang lain berarti menghormati usianya, menghormati ilmunya, menghormati kepribadiannya, menghormati keyakinannya dan menghormati kemanusiaannya. Namun, tidak sampai pada pengkultusan sesama manusia.
Nabi Muhammad mengajarkan, setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya dan sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya.
Islam yang diajarkan Nabi Muhammad mendidik umat manusia dengan ajaran akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap sesama makhluk Allah, akhlak terhadap sesama manusia dan akhlak terhadap diri sendiri.
(bal)