LANGIT7.ID-Jakarta; Harley-Davidson telah menaikkan target penjualan motor global setahun penuh setelah mencatatkan kuartal kedua yang lebih baik dari perkiraan. Langkah ini cukup membuktikan klaim terbaru bahwa strategi pemulihan mereka akhirnya mulai menunjukkan hasil.
Merek asal Amerika ini kini memperkirakan akan menjual antara 133.500 hingga 138.500 unit motor secara global pada tahun 2026, naik dari panduan sebelumnya yaitu 130.000 hingga 135.000 unit, setelah penjualan ritel di Amerika Utara melampaui ekspektasi selama kuartal kedua.
Ini adalah pembaruan yang signifikan, terutama karena datang hanya beberapa hari setelah firma investasi Loop Capital menaikkan peringkat saham Harley-Davidson dari Netral menjadi Beli. Pada saat itu, firma tersebut mengatakan masukan dari dealer menunjukkan strategi 'Back to the Bricks' perusahaan mulai memberikan dampak yang berarti, sehingga Loop Capital memprediksi penjualan yang lebih kuat serta profitabilitas yang membaik hingga tahun 2027.
Laporan pendapatan terbaru ini tidak berarti masalah Harley telah hilang, tetapi ini menunjukkan bahwa para analis mungkin telah melihat tren tersebut sebelum perusahaan secara resmi mengakuinya.
Penjualan Global dan Kinerja RegionalSelama kuartal kedua, penjualan ritel motor global Harley-Davidson naik 0,5% menjadi sekitar 42.500 unit, dengan Amerika Utara—seperti yang diduga—menjadi penyumbang terbesar. Penjualan di kawasan tersebut naik 3,1% menjadi 29.888 motor, cukup mengimbangi kinerja yang lebih lemah di tempat lain.
Namun, Eropa terus menjadi kekhawatiran terbesar Harley. Penjualan di wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) turun sekitar 9%, menjadikan kawasan ini jauh tertinggal dari Amerika Utara. CEO Artie Starrs mengakui bahwa bisnis ini belum berada di posisi yang diinginkan Harley, menggambarkan Eropa sebagai pasar yang menantang dan mengatakan perusahaan "tidak puas" dengan kinerjanya di sana.
Kesulitan Harley di Eropa juga terjadi di tengah pasar yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Angka yang dirilis pekan ini oleh ACEM (Asosiasi Produsen Motor Eropa) mengungkapkan bahwa registrasi di lima pasar motor terbesar Eropa—Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Inggris—naik 3,3% selama paruh pertama tahun 2026, dengan lebih dari 636.000 motor baru terdaftar. Meskipun pertumbuhan tidak merata di setiap negara, angka-angka ini menunjukkan permintaan untuk sepeda motor baru tetap sehat secara keseluruhan, membuat penurunan 9% Harley di wilayah EMEA tampak lebih seperti tantangan spesifik merek daripada yang disebabkan oleh pasar yang lebih luas.
Tarif dan Tantangan FinansialTarif juga terus membayangi bisnis ini. Harley mengatakan mereka berinvestasi lebih lanjut dalam operasi manufaktur AS untuk mengurangi dampak bea masuk, meskipun Starrs mengakui perubahan tersebut akan membutuhkan waktu dan uang sebelum mulai membuahkan hasil.
Secara finansial, gambaran yang ada beragam. Pendapatan turun 5,9% menjadi $1,23 miliar (sekitar *Rp20,8 triliun*), sementara laba bersih turun dari $107,6 juta menjadi $79,8 juta (dari sekitar Rp1,8 triliun menjadi Rp1,35 triliun) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, pendapatan masih melampaui ekspektasi Wall Street, mencapai 75 sen per saham dibandingkan perkiraan 64 sen.
Reaksi Pasar dan Prospek ke DepanPara investor tampaknya tidak sepenuhnya yakin dengan gambaran keseluruhan, dengan harga saham Harley turun hampir 6% setelah pengumuman tersebut. Meski begitu, saham masih sekitar 27% lebih tinggi dibandingkan awal tahun, menunjukkan keyakinan terhadap cerita pemulihan jangka panjang belum hilang.
Bagi para pengendara, semua ini tidak mengubah motor yang ada di dealer Harley saat ini—motor yang bagi banyak orang masih terlalu mahal, berat, dan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun, jika strategi Back to the Bricks menghadirkan motor baru yang ringan, terjangkau, dan sesuai dengan apa yang diminati masyarakat di Eropa, kinerja buruk Harley di kawasan tersebut bisa berbalik arah.(*/saf/visordown)
(lam)