LANGIT7.ID-Jakarta; Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin meminta perusahaan yang beroperasi di wilayah Kalimantan Selatan membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
Permintaan tersebut disampaikan H. Muhidin di hadapan para pimpinan perusahaan yang hadir dalam pertemuan membahas penanganan karhutla di Kalimantan Selatan.
Menurut Muhidin, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan saat ini membutuhkan dukungan dari para pengusaha, terutama untuk membantu penanganan karhutla yang terjadi di tengah kondisi kemarau ekstrem.
“Alhamdulillah hari ini walaupun ada sebagian diwakilkan nggak apa-apa. Yang penting pada saat ini kami sebagai gubernur yang saat ini Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan itu sangat membutuhkan, membutuhkan kelurusan tangan daripada pengusaha ini yaitu CSR-nya pokoknya kan berapa aja nggak masalah,” kata Muhidin di Mandarin Oriental, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).
Muhidin mengatakan bantuan CSR dari perusahaan dapat digunakan untuk membantu kebutuhan penanganan di lapangan. Ia juga meminta perusahaan yang berusaha di Kalimantan Selatan menghubungi pihaknya untuk mendapatkan informasi rekening penyaluran bantuan.
“Nah jadi eh kepada perusahaan yang ada hari ini mumpung kita ketemu tolong beri telepon kepada bosnya ya yang bekerja yang pengaruh artinya yang berusaha di Kalimantan Selatan tolong CSR-nya berapakah nggak masalah,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Muhidin juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah perusahaan yang telah membantu penanganan karhutla maupun kebutuhan masyarakat.
Salah satunya PT Jhonin yang disebut telah memberikan dana dan 100 unit pompa air. Sementara itu, Muhidin menyebut PT Antam telah membantu CSR sebesar Rp1 miliar.
“Nah jadi artinya saat ini pun kami ucapkan terima kasih kepada Antam. Mana Antam? Nah yang masih kemarin saya telepon Antam ini eh membantu CSR-nya Rp 1 miliar ya. Nanti saya kasih nomor rekening. Itu langsung sama saya,” kata Muhidin.
Muhidin juga menjelaskan kondisi karhutla di Kalimantan Selatan yang menurutnya cukup sulit ditangani, terutama pada wilayah gambut.
Ia mengatakan api yang berada di lahan gambut dapat kembali muncul meski sebelumnya telah dipadamkan. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang dihadapi dalam penanganan karhutla di wilayah Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.
“Jadi hujan kalau sekali hujan itu tidak apa, tidak ada artinya, tidak ada reaksinya. Tapi kalau misalnya dua hari lagi panas itu yang api timbul lagi,” ujarnya.
Muhidin juga menyinggung kondisi di sekitar Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum yang terdampak asap karhutla. Ia mengatakan sejumlah kamar di rumah sakit tersebut terpaksa dievakuasi karena kondisi asap yang luar biasa.
Selain dukungan CSR, Muhidin menyebut Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan tengah berkoordinasi dalam penanganan karhutla, termasuk dengan BPBD, Polri, TNI, relawan, dan pihak terkait lainnya.
Ia juga mengatakan perusahaan yang telah membantu pemadaman maupun menyediakan genset diminta melaporkan bantuannya kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Muhidin menambahkan, penanganan karhutla juga membutuhkan pengaturan petugas pada siang dan malam hari serta patroli. Ia menyebut jumlah polisi, TNI, relawan, dan personel BNPB perlu didata untuk memastikan kebutuhan penanganan di lapangan.
Dalam penanganan lahan gambut, Muhidin mengatakan pemerintah menggunakan sistem pembasahan atau pemadaman dengan metode penyuntikan. Ia juga menyebut kebutuhan bahan khusus untuk metode tersebut dan rencana pembelian sekitar delapan ton.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, kata Muhidin, terus berupaya menangani karhutla bersama berbagai pihak di tengah kondisi kemarau yang disebutnya semakin ekstrem.
(lam)