LANGIT7.ID-Jakarta; - Kebakaran hutan dan lahan (
karhutla) serta lahan gambut di Indonesia kembali memicu krisis lingkungan dan ancaman kesehatan masyarakat.
Udara di Pulau Kalimantan dan Sumatera berubah menjadi jingga kecokelatan yang mengkhawatirkan, dengan kualitas udara tercatat berada pada tingkat berbahaya.
Sebagian besar
kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia terjadi akibat pembukaan lahan dengan cara menebang dan membakar vegetasi, yang dikenal sebagai metode tebang-bakar (
slash and burn).
Metode ini telah lama digunakan petani untuk menyuburkan tanah sebelum menanam tanaman baru.
Baca juga: Kasus Karhutla, DPR Minta Pemerintah Cabut Izin Perusahaan PelanggarNamun, saat ini,
pembakaran juga banyak dikaitkan dengan kegiatan perkebunan komersial dalam skala besar sehingga lebih sulit dikendalikan.
Organisasi nirlaba lingkungan,
Greenpeace mengidentifikasi sejumlah perusahaan yang berbasis di
Singapura dan
Malaysia yang memiliki keterkaitan dengan lahan di Indonesia yang mengalami
kebakaran hutan dan lahan.Dalam laporan bertanggal 5 Oktober 2026,
Greenpeace menyebut
Kuala Lumpur Kepong (KLK) Group,
perusahaan perkebunan asal
Malaysia yang memiliki keterkaitan dengan entitas Indonesia, PT Menteng Jaya Sawit Perdana, sebagai salah satu dari 20 entitas teratas yang teridentifikasi dalam temuan kebakaran di Indonesia.
Identifikasi tersebut mengacu pada basis data sumber asap untuk periode Agustus hingga 1 Oktober 2026.
Greenpeace juga menyatakan bahwa entitas yang sama pernah diidentifikasi memiliki titik kebakaran di wilayah lahannya dalam laporan tahun 2019.
Selain itu, sedikitnya empat konsesi disebut memiliki hubungan korporasi dengan kelompok usaha asal Singapura dan seluruhnya terindikasi memiliki titik sumber asap.
Baca juga: BNPB Catat Karhutla di 16 Wilayah, Kalimantan Terbakar Hampir 19 Ribu HektarSalah satunya adalah
First Resources,
perusahaan kelapa sawit yang berbasis di
Singapura. Menurut Greenpeace, lebih dari 30 titik sumber asap tercatat pada periode Agustus hingga September di lahan yang dikelola oleh dua anak perusahaan
First Resources di Indonesia.
Dilansir dari
BBC, First Resources menyatakan telah menerapkan kebijakan tanpa pembakaran serta melakukan pencegahan, pemantauan, dan pemadaman kebakaran di seluruh wilayah operasionalnya.
Sementara, perusahaan perkebunan Malaysia, Kuala Lumpur Kepong, yang anak perusahaannya, PT Menteng Jaya Sawit Perdana, mengelola lahan di Indonesia dengan 19 titik sumber asap.
Dalam sebuah pernyataan, Kuala Lumpur Kepong Kuala Lumpur Kepong menyatakan bahwa sebagian besar kebakaran terjadi di luar area konsesinya dan semuanya telah dipadamkan.
“Kami tidak membenarkan atau mengizinkan penggunaan pembakaran terbuka untuk persiapan lahan maupun tujuan lainnya di seluruh wilayah operasional kami,” demikian pernyataan perusahaan tersebut.
Baca juga: Kabut Asap Karhutla Indonesia Meluas, Media Asing Soroti Sikap Pemerintah RISejumlah konsesi yang disebutkan dalam laporan Greenpeace meliputi PT Damai Agro Sejahtera yang terafiliasi dengan Bumitama Agri Ltd; PT Kayung Agro Lestari yang disebut memiliki hubungan dengan First Resources, ANJ, Fangiono, dan kelompok usaha berbasis di Singapura; konsesi PT Mitra yang dikaitkan dengan keluarga Fangiono dan First Resources; serta PT Arjuna Utama Sawit yang tercatat sebagai bagian dari First Borneo Plantations.
Temuan tersebut menambah sorotan terhadap hubungan antara penguasaan lahan, aktivitas perkebunan, dan risiko kebakaran hutan serta lahan gambut.
(est)