LANGIT7.ID-Jakarta; - Kebakaran hutan dan lahan (
karhutla) di Indonesia kembali menjadi sorotan
media internasional setelah
kabut asap berdampak pada kualitas udara di sejumlah negara Asia Tenggara.
Malaysia dan Singapura termasuk wilayah yang terdampak, sementara pemberitaan juga menyoroti penanganan kebakaran, dampak kesehatan masyarakat, serta upaya pemerintah Indonesia memadamkan
api.Reuters dalam laporan 22 Oktober 2026 menyebut Indonesia masih berada dalam status siaga tinggi menghadapi
karhutla.
Baca juga: Anggota Parlemen Malaysia Kirim Pesan ke Prabowo soal Karhutla dengan Bahasa JawaMeski jumlah titik panas menurun dari lebih dari 1.200 pada 14 Oktober menjadi 565 pada 22 Oktober, hujan yang turun belum cukup untuk memadamkan seluruh kebakaran. Kondisi kering yang berkaitan dengan fenomena El Niño turut meningkatkan risiko kebakaran berulang.
Respons pemerintah juga disorot dalam laporan
Associated Press (AP), Channel News Asia (CNA), dan
The Guardian. AP memberitakan
kabut asap tebal di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah yang mengganggu penerbangan serta mengurangi jarak pandang.
Sementara itu, CNA sebelumnya melaporkan kabut asap dari Sumatra dan Kalimantan telah menyebar ke Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Filipina, dengan sejumlah wilayah mengalami penurunan kualitas udara.
Pemerintah Indonesia telah mengerahkan personel pemadam, pesawat untuk operasi pengeboman air (
water bombing), serta modifikasi cuaca.
Reuters melaporkan pada 22 Oktober bahwa lebih dari 69.000 personel dan sekitar 50 pesawat telah dikerahkan. Pemerintah juga menguji metode tambahan untuk menekan kebakaran.
Di sisi lain, Reuters pada 16 Oktober memberitakan Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui penerimaan bantuan dari negara tetangga, menyusul tawaran dukungan Malaysia dan Singapura.
Baca juga: Prabowo Ancam Cabut Izin Perusahaan Penyebab KarhutlaMeski berbagai langkah penanganan dilakukan, sejumlah media internasional menyoroti tantangan dalam merespons krisis tersebut.
Mongabay dalam laporan 16 Oktober mengulas kritik kelompok lingkungan terhadap kesiapsiagaan pemerintah, pengelolaan lahan gambut, dan penanganan dampak asap lintas batas. Dalam laporannya, Mongabay juga menyoroti perdebatan mengenai data luas kebakaran dan lambatnya kepastian tindak lanjut atas tawaran bantuan dari negara tetangga pada saat laporan diterbitkan.
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan melalui penurunan kualitas udara, tetapi juga terhadap kesehatan masyarakat.
Reuters melaporkan ratusan ribu kasus gangguan pernapasan telah tercatat di wilayah terdampak di Indonesia. Sementara, Al Jazeera pada 22 Oktober menyoroti desakan agar pihak yang bertanggung jawab atas pencemaran asap ditindak secara hukum, termasuk tantangan kerja sama regional dalam penegakan aturan terhadap pencemar lintas negara.
Pemberitaan tersebut menunjukkan bahwa karhutla Indonesia menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan regional, bukan semata-mata masalah dalam negeri.
Penurunan titik panas menjadi perkembangan positif, tetapi belum menandakan kebakaran sepenuhnya terkendali. Konsistensi pemadaman, pencegahan kebakaran baru, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, perlindungan masyarakat terdampak, serta koordinasi dengan negara tetangga tetap menjadi faktor penting dalam penanganan krisis kabut asap.
(est)