LANGIT7.ID, Istanbul,- - Sebuah tim peneliti yang dipimpin
Sivas Cumhuriyet University tengah menyelidiki formasi geologi berbentuk menyerupai kapal di
Durupinar dekat Gunung Ararat,
Turki.
Formasi yang pertamakali ditemukan pada 11 September 1959 ini dikaitkan dengan dugaan lokasi
bahtera Nabi Nuh. Namun, penelitian terbaru belum dapat memastikan apakah struktur tersebut merupakan struktur alami atau memiliki kemungkinan berasal dari aktivitas manusia pada masa lampau.
Penelitian lapangan 2026 dimulai pada 28 Juni dan berlangsung hingga 11 September. Sekitar 20 peneliti dan mahasiswa dari lima negara terlibat dalam program tersebut.
Baca juga: Kisah Inspiratif David Steward: Orang Kulit Hitam Terkaya di Amerika, Ternyata Belajar Dari Kisah Nabi NuhSejumlah metode ilmiah digunakan, mulai dari pemetaan GPS, pemodelan medan digital,
ground-penetrating radar (GPR), hingga pengeboran inti atau
core drilling.Dalam proses pengeboran, tim berhasil mencapai kedalaman hingga 18 meter di bawah permukaan formasi.
1.000 Sampel Tanah DikumpulkanSelain pengeboran, peneliti mengumpulkan sekitar 1.000 sampel tanah dari sekitar 100 hingga 150 titik di dalam dan sekitar formasi
Durupınar.
Sampel tersebut kemudian dikirim ke sejumlah laboratorium di Ankara untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Sampel inti juga berhasil diperoleh selama proses pengeboran. Analisis laboratorium terhadap material yang dikumpulkan masih berlangsung setelah penelitian lapangan berakhir.
Salah satu hal yang menjadi perhatian peneliti adalah adanya indikasi struktur tidak biasa di bawah permukaan.
Hasil pemindaian radar dilaporkan menunjukkan pola linear dan sejumlah anomali. Beberapa peneliti mengaitkan pola tersebut dengan kemungkinan keberadaan koridor, ruang atau struktur lain di bawah formasi.
Namun, temuan tersebut belum dapat disebut sebagai bukti adanya struktur buatan manusia. Sinyal radar yang tidak biasa juga dapat muncul akibat proses geologi alami.
Ada Dugaan Koridor dan Ruangan di Bawah TanahSejumlah interpretasi lebih jauh datang dari
Noah's Ark Scans, organisasi asal Amerika Serikat yang mendukung penelitian tersebut.
Baca juga: Mencari Bahtera di Tubuh Gunung: Misteri Durupinar dan Jejak Nabi NuhOrganisasi itu menyebut terdapat kemungkinan fitur berbentuk sudut siku-siku, koridor dan area yang menyerupai ruang di bawah formasi.
Meski demikian, dugaan tersebut masih berupa interpretasi hasil pemindaian dan belum dikonfirmasi sebagai temuan arkeologis.
Dengan kata lain, bentuk atau pola yang terlihat dalam hasil pemindaian belum cukup untuk memastikan bahwa struktur tersebut merupakan sisa kapal kuno.
Mata Bor Rusak Saat Menembus Lapisan KerasPerkembangan lain terjadi ketika proses pengeboran berlangsung.
Noah's Ark Scans melaporkan mata bor mengalami kerusakan setelah mencapai lapisan yang sangat keras pada kedalaman sekitar empat hingga lima meter dari permukaan.
Organisasi tersebut menyebut kayu yang telah membatu atau mengalami mineralisasi tinggi sebagai salah satu kemungkinan penyebab lapisan keras tersebut.
Namun, dugaan tersebut belum terbukti melalui pemeriksaan laboratorium.
Peneliti juga melaporkan menemukan pecahan tembikar selama kegiatan lapangan. Akan tetapi, usia dan arti penting pecahan tersebut belum diketahui.
Karena itu, temuan tembikar tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa formasi Durupınar merupakan kapal Nabi Nuh AS.
Bagaimana dengan Lokasi dalam Al-Qur'an?Dugaan mengenai formasi Durupınar sebagai bahtera Nabi Nuh juga menarik perhatian dari perspektif Islam.
Baca juga: Kisah Lamik Keturunan Nabi Idris Ternyata Ayah Nabi NuhAl-Qur'an dalam Surah Hud ayat 44 menyebutkan bahwa setelah banjir, kapal Nabi Nuh AS berlabuh di al-Judi.
"...dan kapal itu berlabuh di atas al-Judi..."
Sementara itu, Kementerian Agama Turki atau Diyanet dalam tafsir resminya mengidentifikasi Gunung Cudi di wilayah tenggara Turki dengan al-Judi yang disebut dalam Al-Qur'an.
Dalam kisah Alkitab, bahtera Nuh disebut berada di pegunungan Ararat.
Adapun Formasi Durupınar berada di Provinsi Ağrı, dekat Gunung Ararat, bukan di Gunung Cudi.
Karena itu, sekalipun penelitian di masa mendatang berhasil membuktikan bahwa Formasi Durupınar merupakan kapal kuno buatan manusia, hal tersebut dengan sendirinya belum membuktikan bahwa struktur itu adalah kapal yang disebut dalam Al-Qur'an. Sebab, Al-Qur'an secara spesifik menyebut lokasi berlabuhnya kapal Nabi Nuh sebagai al-Judi.
Dugaan bahwa Formasi Durupınar merupakan bahtera Nabi Nuh selama ini juga menghadapi penjelasan dari perspektif geologi.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 1996 dalam Journal of Geoscience Education menyimpulkan bahwa formasi tersebut merupakan struktur geologi alami, bukan bahtera Nabi Nuh.
Baca juga: Kisah Nabi Nuh Marah: Mendoakan Keturunan Ham Hitam dan Terhina Menjadi BudakPeneliti dalam studi tersebut menilai sejumlah fitur yang oleh pendukung teori bahtera dianggap sebagai struktur buatan sebenarnya dapat dijelaskan sebagai hasil proses geologi.
Penjelasan lain datang dari ahli geologi Murat Avcı melalui penelitian pada 2007. Ia mengaitkan bentuk tidak biasa tersebut dengan *Telçeker earthflow* atau aliran tanah Telçeker di kawasan Gunung Ararat.
Karena itu, penelitian terbaru berupaya menguji kembali apakah material dan struktur di bawah permukaan dapat memberikan bukti mengenai asal-usul formasi tersebut atau justru dapat dijelaskan melalui proses geologi alami.
Meskipun penelitian lapangan 2026 telah berakhir, namun proses pemeriksaan belum selesai.
Para peneliti kini melanjutkan analisis terhadap tanah dan sampel inti yang telah dikumpulkan. Mereka akan memeriksa kandungan organik, kemungkinan jejak kayu, serta material lain yang dapat membantu menentukan asal-usul formasi tersebut.
Hasil yang lebih lengkap diharapkan muncul setelah seluruh analisis laboratorium selesai, dengan temuan lanjutan diperkirakan tersedia pada 2027.
Untuk saat ini, belum ada penemuan ilmiah yang terkonfirmasi bahwa bahtera Nabi Nuh AS berada di Formasi Durupınar. (Sumber: Daily Sabah/Islamic Information).
(est)