Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 03 Oktober 2026
home global news detail berita

Ketika Teori Bertemu Kenyataan: Sebuah Cerita dari Kelas Makroekonomi, Sampai ke Jalan Pemberdayaan

tim langit 7 Sabtu, 03 Oktober 2026 - 15:05 WIB
Ketika Teori Bertemu Kenyataan: Sebuah Cerita dari Kelas Makroekonomi, Sampai ke Jalan Pemberdayaan
Dr Ikhwan Abidin Basri, Dosen Pasca Sarjana Institut Ilmu Al Quran
Oleh : Ichwan A. basri

Langit7.id,-
Kelas yang Bengong


Waktu itu saya kuliah dengan textbook Macroeconomics karya Rudiger Dornbusch dan Stanley Fischer-buku wajib generasi kami. Kelas saya bukan kelas biasa. Isinya mahasiswa dari seluruh penjuru dunia ketiga: Indonesia, Somalia, Pakistan, Afghanistan, India, Bangladesh. Kami datang dari negara yang berbeda, tapi ternyata membawa satu benang merah yang sama tanpa kami sadari.

Semester pertama berjalan lancar. Materi-materi dasar -permintaan agregat, kebijakan fiskal, inflasi- bisa kami cerna dengan cukup baik. Tapi begitu masuk ke bab tentang teori konsumsi, khususnya Life-Cycle Hypothesis dari Modigliani dan Permanent Income Hypothesis dari Friedman, kelas kami mendadak sunyi. Bukan sunyi karena khusyuk.

Sunyi karena bengong

Teori itu bilang: orang meratakan konsumsinya sepanjang hidup berdasarkan ekspektasi pendapatan jangka panjang. Orang menabung di usia produktif untuk dipakai nanti di hari tua. Orang membedakan mana pendapatan permanen, mana yang cuma sementara, lalu menyesuaikan konsumsinya secara rasional dan mulus.

Kedengarannya rapi di atas kertas. Tapi di kepala kami, satu per satu muncul pertanyaan yang sama: rapi buat siapa?
"Ayo Pulang Saja"

Sampai akhirnya ada yang tidak tahan dan nyeletuk keras di tengah kelas: "Buat apa belajar bab ini. Ayo pulang saja."

Yang lain malah ikut menyerukan hal yang sama - bahwa teori ini terlalu susah dan tidak nyambung.
Dosen kami mencoba menjelaskan, tapi penjelasannya tetap tekstual - persis seperti yang tertulis di buku, tanpa satu pun contoh yang menyentuh realita ekonomi tempat kami masing-masing berasal. Beliau tidak bisa -atau tidak sempat- menerjemahkan model itu ke dalam bahasa yang kami kenal.

Saya ingat berdiri dan mengatakan sesuatu yang waktu itu terasa berat untuk diucapkan di depan kelas: "Kalian jangan belagu sok paham. Jangan pura-pura paham teori ini agar dilihat orang lain paham. Kalau saya memang tidak paham, terserah orang mau bilang apa."

Detik berikutnya, hampir serentak, teman-teman sekelas mengangguk dan mengacungkan jari-solidaritas kolektif orang-orang yang sama-sama mentok di titik yang sama.

Itu bukan kegagalan memahami. Itu, saya sadari jauh kemudian, adalah insting intelektual yang justru benar.
Bertahun-tahun Kemudian, Saya Buka Lagi Bab Itu
Kami lulus. Kami pulang, masing-masing ke negaranya sendiri. Bertahun-tahun berlalu. Suatu hari, entah kenapa, saya membuka lagi bab yang dulu bikin satu kelas bengong itu.

Baca juga: Ekspansi Kontemporer Konglomerasi Finansial Asia Timur di Indonesia: Analisis Penetrasi Pasar Jepang versus Korea Selatan

Kali ini saya coba uji dengan fenomena yang paling saya kenal: Lebaran. Kalau Life-Cycle dan Permanent Income Hypothesis benar, THR dan bonus tahunan itu kan sudah bisa diprediksi jauh-jauh hari. Karena sudah diantisipasi, seharusnya orang sudah "meratakan" konsumsinya - tidak ada lonjakan belanja mendadak.

Kenyataannya? Justru sebaliknya. Konsumsi meledak drastis. Mudik besar-besaran, THR nyaris habis dibelanjakan dalam hitungan hari, pasar dan mal penuh sesak. Persis fenomena yang dalam literatur disebut excess sensitivity of consumption to income-konsumsi tetap melonjak mengikuti kapan uang cair, meski pendapatannya sudah sepenuhnya diantisipasi.

Tidak ada satu pun ruang di model itu untuk peran keluarga besar sebagai jaring pengaman, untuk remittance dari anggota keluarga yang merantau, untuk kewajiban sosial seperti zakat dan mudik, atau untuk keterbatasan akses ke lembaga keuangan yang membuat orang tidak bisa "meminjam di muka" dari pendapatan yang akan datang.

Teori itu mandul menjelaskan Lebaran. Bukan karena Lebaran aneh. Tapi karena teorinya dibangun dari dunia yang berbeda.

Mereka Pemenang Nobel. Lalu Kami Siapa?

Ini bagian yang paling mengguncang saya. Modigliani dan Friedman bukan sembarang ekonom-mereka pemenang Hadiah Nobel. Di kalangan mahasiswa ekonomi, nama-nama seperti itu nyaris disembah seperti dewa. Dikutip tanpa dipertanyakan. Diajarkan sebagai kebenaran final.

Lalu siapa kami? Mahasiswa dari Jakarta, Karachi, Dhaka, Mogadishu-berani-beraninya merasa teori pemenang Nobel itu "tidak nyambung" dengan negara kami sendiri?

Tapi semakin saya pikirkan, semakin saya sadar: Nobel adalah penghargaan atas lompatan teoretis pada masanya, bukan sertifikat keberlakuan universal selamanya. Bahkan hukum Newton pun terbukti tidak berlaku di skala kuantum - itu tidak membatalkan kejeniusan Newton, hanya menunjukkan batas ruang lingkupnya.

Dan yang lebih menenangkan: kritik terhadap Life-Cycle dan Permanent Income Hypothesis bukan datang dari mahasiswa nekat seperti kami saja. Ekonom-ekonom besar sendiri, lewat riset tentang excess sensitivity, sudah lama menunjukkan model itu tidak sepenuhnya cocok dengan data-bahkan di Amerika, tempat teori itu lahir. Behavioral economics, yang juga melahirkan pemenang Nobel lain, tumbuh justru dari kritik terhadap asumsi rasionalitas semacam ini.

Yang saya dan teman-teman rasakan di kelas itu, tanpa kami sadari, adalah persis apa yang dilakukan ilmu itu sendiri terhadap dirinya: membandingkan model dengan realita, dan membiarkan realita menang.

AER dan Ritual Jadi Jagoan

Ironinya, semua kesadaran itu sempat pudar ketika saya masuk graduate school. Di sana, hari-hari saya dihabiskan membuka American Economic Review-jurnal paling bergengsi waktu itu, ditulis oleh nama-nama yang banyak juga bergelar Nobel. Setiap kali sudah membaca materi yang ditugaskan, seorang mahasiswa bisa merasa seperti jagoan ekonomi.

Separuh perjalanan graduate school itu, saya mengakui, saya ikut larut dalam ritual itu — ikut berlomba menunjukkan bahwa saya "paham" paper-paper rumit itu di depan kelas, demi terlihat kompeten, persis kebalikan dari sikap saya sendiri waktu S1 dulu.

Tapi separuh kedua, sesuatu berubah. Saya sampai pada satu kalimat yang menjadi titik balik: "Aku bisa hidup tanpa ini."

Teori-teori ini terlalu sederhana untuk bisa menjelaskan fakta. Dan kalau terus dipertahankan, habis usia saya.
Itu bukan kekalahan. Itu keputusan sadar untuk berhenti menghabiskan energi intelektual mempertahankan kerangka yang sejak S1 sudah saya tahu keterbatasannya.

Ke Mana Saya Akhirnya Berlabuh

Dari sinilah saya menemukan development economics-bidang yang justru lahir dari pertanyaan yang sama yang membuat saya gelisah sejak kelas Dornbusch-Fischer itu: kenapa model yang dibangun dari pengalaman negara maju gagal menjelaskan kondisi riil negara berkembang?

Dan dari sana pula, saya melangkah lebih jauh: mengabdi langsung pada pemberdayaan orang miskin. Bukan lagi sekadar mengkritik teori dari menara akademik, tapi turun bekerja bersama realita yang dulu membuat satu kelas penuh mahasiswa dari dunia ketiga terdiam bengong.

Sekarang, ketika saya menengok ke belakang, saya melihatnya bukan sebagai cerita kegagalan memahami teori orang-orang hebat. Saya melihatnya sebagai cerita menemukan di mana kontribusi saya yang sesungguhnya berada.

Untuk Generasi Sekarang

Kalau kamu sedang duduk di kelas ekonomi hari ini, dan merasa ada teori yang "tidak nyambung" dengan hidup yang kamu kenal-jangan buru-buru menyalahkan dirimu sendiri.

Boleh jadi kamu sedang melakukan hal yang sama persis yang dilakukan ilmu pengetahuan itu sendiri: membandingkan model dengan kenyataan. Dan kadang, kenyataan yang menang.

Keberanian untuk berkata "saya tidak paham", atau "teori ini tidak menjelaskan negara saya", bukan tanda kelemahan. Itu modal-modal epistemik yang datang dari hidup langsung di tengah realita yang buku teks belum sanggup jangkau.
Gelar Nobel layak dihormati. Tapi penghormatan itu tidak pernah berarti berhenti bertanya. (Dr Ikhwan Abidin Basri, Dosen Pasca Sarjana Institut Ilmu Al Quran)

(lsi)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 03 Oktober 2026
Imsak
04:12
Shubuh
04:22
Dhuhur
11:45
Ashar
14:49
Maghrib
17:50
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan