LANGIT7.ID, Jakarta,- -
Oleh: Ubaidillah Amin(Tokoh Muda NU)Ada banyak cara untuk
membangun sebuah daerah. Tidak semuanya harus dimulai dari gedung pemerintahan, proyek besar, atau investasi dengan nilai yang fantastis. Terkadang, pembangunan justru berawal dari sesuatu yang sederhana: kesadaran bahwa desa sendiri memiliki potensi yang layak diperjuangkan.
Gagasan itu yang menjadi perhatian Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU)
Ubaidillah Amin. Menurutnya,
pembangunan desa akan lebih kuat apabila masyarakat setempat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut mengambil peran dalam menentukan masa depan daerahnya.
Baca juga: Percepat Pembangunan Desa, Gus Halim Minta Mahasiswa dan Pendamping Desa Kolaborasi
Bagi Ubaidillah, setiap desa memiliki cerita dan kekuatannya masing-masing. Ada desa yang hidup dari hamparan sawah dan
perkebunan. Ada yang memiliki
peternakan yang dapat dikembangkan. Di tempat lain, kekuatan itu mungkin berada di dapur-dapur warga yang menghasilkan makanan khas, kerajinan tangan, seni, budaya, hingga berbagai usaha kreatif yang tumbuh dari keseharian masyarakat.
Potensi tersebut, kata dia, tidak seharusnya berhenti sebagai sesuatu yang hanya dikenal oleh warga setempat. Dengan pendampingan, kreativitas, dan kemauan untuk bergerak bersama, potensi desa dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus membuka kesempatan ekonomi yang lebih luas.
“Desa itu sebenarnya memiliki banyak potensi. Tinggal bagaimana masyarakatnya memiliki kesadaran untuk membangun daerahnya sendiri dan mengembangkan apa yang sudah mereka miliki,” ujar Ubaidillah di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Kesadaran semacam itu menjadi penting karena pembangunan tidak akan bertahan lama jika hanya bergantung pada bantuan dari luar. Masyarakat perlu merasa bahwa kemajuan desa merupakan bagian dari kepentingan mereka sendiri.
Baca juga: Komunitas Seni Lokal Dilibatkan dalam Pembangunan Desa Wisata Ketika petani mulai melihat pertanian bukan sekadar pekerjaan sehari-hari, tetapi sebagai usaha yang bisa dikembangkan. Ketika pelaku kuliner berani memperkenalkan produknya lebih luas. Ketika anak-anak muda melihat budaya lokal bukan sebagai sesuatu yang kuno, melainkan sebagai bagian dari identitas sekaligus peluang ekonomi kreatif, dari situlah perubahan perlahan dapat tumbuh. Desa pun tidak lagi hanya menjadi tempat orang pulang setelah bekerja di kota. Desa dapat menjadi tempat orang membangun masa depan.
Ketika Mereka yang Pernah Mengabdi Kembali ke Desa Dalam gagasan Ubaidillah, ada kelompok masyarakat yang juga dapat mengambil peran lebih besar dalam proses tersebut, yakni para pensiunan pejabat negara.
Mereka yang selama bertahun-tahun bekerja dalam pemerintahan memiliki pengalaman, jaringan, pengetahuan, serta kemampuan untuk melihat persoalan dari berbagai sudut. Setelah menyelesaikan masa pengabdian formalnya, pengalaman itu tidak harus berhenti bersama berakhirnya masa jabatan.
Baca juga: Percepat Pembangunan Desa, Gus Halim Sowan Sultan HB X Para pensiunan pejabat negara, menurut Ubaidillah, dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat di daerah masing-masing. Tidak harus dengan membangun sesuatu yang besar. Kehadiran mereka dapat dimulai dengan berbagi pengalaman, memberikan motivasi, mendampingi masyarakat, atau membantu memperkenalkan potensi daerah kepada jaringan yang lebih luas.
“Pensiunan pejabat bisa menjadi tokoh yang ikut mendorong pembangunan desa. Mereka bisa memberikan motivasi kepada masyarakat, terutama agar masyarakat percaya bahwa daerahnya sendiri memiliki potensi yang bisa dikembangkan,” tuturnya.
Kehadiran tokoh dengan pengalaman panjang di tengah masyarakat juga dapat memberikan semangat baru. Masyarakat desa bisa memperoleh ruang untuk berdiskusi, menyampaikan persoalan, sekaligus mencari jalan keluar berdasarkan pengalaman orang-orang yang pernah terlibat langsung dalam pengelolaan pemerintahan.
Bukan soal jabatan yang pernah dimiliki, melainkan pengalaman yang bisa dibagikan.
Di tengah masyarakat, seorang pensiunan pejabat dapat menjadi jembatan antara gagasan dan tindakan. Ia bisa membantu anak muda melihat peluang usaha di kampungnya, mendorong kelompok tani mengembangkan produk, mengajak masyarakat menghidupkan kembali potensi budaya, atau sekadar meyakinkan warga bahwa usaha yang mereka lakukan memiliki nilai dan layak dikembangkan.
Dari Potensi Menjadi Perputaran Ekonomi Pembangunan desa pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai bangunan fisik. Ada manusia yang harus diberdayakan, ada usaha yang perlu tumbuh, dan ada keluarga yang membutuhkan sumber penghasilan.
Karena itu, ketika potensi lokal berhasil dikembangkan, dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Satu usaha kuliner yang berkembang membutuhkan bahan baku dari petani. Produk pertanian yang semakin dikenal membutuhkan tenaga pengolah dan distribusi. Kegiatan wisata berbasis budaya dapat menghidupkan usaha kecil, penginapan, transportasi, hingga produk kerajinan masyarakat.
Dari satu kegiatan, muncul kegiatan lainnya. Dari satu peluang, terbuka peluang berikutnya.
Inilah yang menurut Ubaidillah menjadi salah satu alasan penting mengapa pembangunan desa perlu melibatkan masyarakat secara langsung. Ketika masyarakat bergerak, ekonomi lokal ikut bergerak.
Lapangan kerja pun dapat tumbuh tanpa harus selalu menunggu perusahaan besar datang dari luar daerah.
“Kalau potensi desa dikembangkan dengan baik, tentu akan menciptakan kegiatan ekonomi. Masyarakat bisa mendapatkan pekerjaan, usaha bisa tumbuh, dan uang berputar di daerah,” katanya.
Gagasan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Sawah, kebun, kandang ternak, dapur rumah, kerajinan tangan, kesenian, tradisi, dan kreativitas anak muda adalah bagian dari modal pembangunan yang sering kali sudah tersedia di desa.
Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk melihatnya sebagai kekuatan.
Desa sebagai Tempat untuk Kembali Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pembangunan ekonomi ketika seseorang memilih kembali memberi perhatian kepada daerah asalnya.
Desa adalah tempat banyak orang tumbuh. Di sanalah seseorang mengenal keluarga, tetangga, guru, tradisi, dan lingkungan yang membentuk kehidupannya. Karena itu, ketika seseorang yang pernah memperoleh kesempatan untuk mengabdi di tingkat nasional kemudian kembali memberikan perhatian kepada kampung halamannya, ada nilai sosial yang ikut dibangun.
Bagi Ubaidillah, semangat semacam itu perlu terus ditumbuhkan. Mereka yang memiliki pengalaman dan kemampuan dapat menjadi bagian dari perubahan di daerah masing-masing, sementara masyarakat desa tetap menjadi pelaku utama pembangunan.
Dengan begitu, pembangunan tidak datang sebagai sesuatu yang asing dari luar, tetapi tumbuh dari kesadaran bersama.
Desa tidak harus menunggu menjadi kota untuk disebut maju. Desa dapat menemukan ukuran kemajuannya sendiri: ketika warganya memiliki pekerjaan, anak mudanya melihat masa depan di kampung sendiri, produk lokal memiliki pasar, budaya tetap hidup, dan masyarakat merasa memiliki alasan untuk terus menjaga serta mengembangkan daerahnya.
Pada titik itulah, pulang ke desa bukan sekadar kembali ke tempat asal.
Pulang dapat menjadi bentuk pengabdian lain—membawa pengalaman, membagikan pengetahuan, membuka kesempatan, dan membantu masyarakat menemukan kekuatan yang selama ini mungkin ada di depan mata, tetapi belum sepenuhnya disadari.(*)
(est)