LANGIT7.ID-, Jakarta - - Kekayaan wastra Nusantara semakin mendapat tempat dalam dunia fesyen modern, termasuk busana muslim yang mulai dilirik pasar internasional.
Di balik motif, warna, dan teknik pembuatannya, tersimpan cerita tentang budaya, kearifan lokal, dan identitas masyarakat Indonesia.
Potensi tersebut tampak dalam perhelatan IN2MOTIONFEST X Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW). Ajang ini menghadirkan beragam karya yang mengangkat wastra dari berbagai daerah Indonesia, sekaligus memperlihatkan bagaimana kain tradisional dapat tampil modern tanpa kehilangan ciri khasnya.
Ada lebih dari 250 desainer dan jenama turut ambil bagian dalam rangkaian fashion show maupun trade show berstandar internasional. Karya mereka memperlihatkan bahwa kain tradisional seperti batik, tenun, songket, hingga ulos dapat diolah menjadi busana yang relevan dengan gaya hidup masa kini.
Diantaranya, karya unggulan UKM binaan KPw Bank Indonesia dan anggota IKRA Indonesia yang tampil di satu panggung dengan karya dari desainer nasional maupun internasional. Tiga desainer yang tergabung dalam Dewan IKRA, yaitu Ali Charisma, Itang Yunasz, dan Wignyo, kembali menampilkan karya terbaru dengan sentuhan wastra di runway IN2MOTIONFEST X JMFW.
Baca juga: IN2MOTIONFEST X JMFW Sukses Digelar, Catat 112 Kesepakatan Bisnis FesyenSelain itu, karya para pemenang kompetisi desain busana berbasis wastra lokal dalam Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Bank Indonesia 2026 juga turut ditampilkan. Kompetisi tersebut diselenggarakan di tiga wilayah, yaitu Sumatera, Jawa, dan Indonesia Bagian Timur, sebagai upaya mendorong kreativitas serta pengembangan desain berbasis kekayaan tekstil lokal.
Kolaborasi Desainer InternasionalKolaborasi antara desainer dalam negeri dengan desainer internasional menjadi bagian dari upaya memperluas eksposur, memperkuat daya saing, serta membuka peluang pasar bagi UKM wastra dan modest fashion dari berbagai daerah.
Ketika dipadukan dengan desain modern, wastra memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk pasar internasional. Busana muslim pun dapat tampil dengan identitas Indonesia yang kuat, tanpa harus meninggalkan kenyamanan dan kebutuhan gaya hidup masa kini.
Hal ini terlihat dari kolaborasi desainer internasional dalam IN2MOTIONFEST X JMFW. Desainer dari 10 negara menghadirkan koleksi yang memadukan kreativitas mereka dengan wastra dan hijab dari jenama Indonesia.
Mulai dari Joulia Couture dari Uni Emirat Arab (Dubai), Erika Chung dari Taiwan, Suzani by Kasimbaeva dari Uzbekistan, Phenomenon Seeper dari Korea, serta Ziya Kocaturk dari Turkiye memadukan rancangan mereka dengan hijab dari NBRS.
Sementara itu, Erkan Demiroglu dari Turkiye dan Jimmy Wong dari Malaysia memadukan koleksi mereka dengan hijab dari BYLILU. F-Statement by Ellah Ungkakay dari Filipina berkolaborasi dengan hijab dari Kisera.
Baca juga: Medan Fashion Trend 2026 Sukses Digelar, 520 Karya dari 43 Desainer Menampilkan Kekayaan Wastra NusantaraKhanijo dari India menghadirkan kreasi dengan wastra Tenun Gedogan, Baduy, sedangkan Variante dari Malaysia menggunakan wastra dari Griya Kain Tuan Kentang.
Khanijo dari India, misalnya, menghadirkan kreasi menggunakan Tenun Gedogan dari Baduy. Sementara itu, Variante dari Malaysia menggunakan wastra dari Griya Kain Tuan Kentang. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa kain tradisional Indonesia memiliki potensi untuk diapresiasi melalui desain yang beragam.
Sejalan dengan Semangat Sustainable FashionPenggunaan wastra juga sejalan dengan upaya mengembangkan
sustainable fashion, yaitu pendekatan dalam dunia mode yang memperhatikan dampak lingkungan, sosial, dan keberlanjutan usaha.
Keterlibatan perajin lokal menjadi salah satu aspek penting dalam upaya tersebut. Ketika wastra mendapat tempat dalam industri fesyen, keterampilan tradisional memiliki peluang untuk terus diwariskan dan dikembangkan.
Di saat yang sama, permintaan terhadap produk berbasis kain lokal dapat membuka kesempatan usaha bagi perajin dan pelaku industri kreatif di berbagai daerah.
Namun, keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh penggunaan kain tradisional. Proses produksi, pemilihan bahan, ketahanan produk, serta cara pelaku usaha menjalankan bisnis juga berperan penting.
Karena itu, mengembangkan wastra dalam industri fesyen modern dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat nilai budaya sekaligus mendorong praktik usaha yang lebih bertanggung jawab.
Baca juga: Kain Wastra, Kekuatan Indonesia untuk Jadi Pusat Modest Fashion Dunia(lsi)