LANGIT7.ID, Jakarta - - Membahas Rasulullah dari berbagai sisi seolah tidak ada habisnya, selalu ada nilai-nilai perjuangan hidup yang dapat dijadikan sebagai motivasi. Selain penutup para nabi, beliau adalah sosok yang dijadikan suri tauladan bagi seluruh umat Islam, tak terkecuali generasi muda atau mereka yang sedang menginjak usia remaja.
Masih dalam momentum Hari Sumpah Pemuda, para remaja dapat menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam menentukan orientasi dan tujuan hidup serta apa yang harus dilakukan saat masih usia remaja. Nilai-nilai perjuangan serta kehebatan Rasulullah pada saat masih usia remaja patut dijadikan sebagai rujukan oleh generasi muda hari ini.
Baca juga: Pesan Hamka: Agar Jadi Generasi Unggul, Pemuda Wajib Paham Agama dan SejarahTanpa mencontoh dan merujuk kepada salah satu nabi termasuk Nabi Muhammad, maka kita akan kehilangan spirit dalam menjalani dan menghabiskan masa muda. Sebab, masa tersebut adalah masa peralihan atau masa transisi, di mana seseorang yang tadinya kanak-kanak akan menjalani masa dewasa yang penuh dengan dinamika dan kompleksitas kehidupan.
Berikut empat nilai Rasulullah yang dapat dijadikan motivasi oleh generasi muda.
1. Tidak terbawa arus Rasulullah merupakan manusia biasa yang sama seperti kita, hanya saja beliau diberikan wahyu dan tugas kerasulan oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah ke muka bumi. Saat masih muda, beliau juga menginginkan seperti pemuda-pemuda pada umumnya. Hanya saja, setiap kali ingin mengikuti tren, oleh Allah subhanahu wata’ala dijaga sehingga urung melakukannya.
Suatu hari, pasca-menggembala kambing, beliau sudah berjanji dengan teman sesama penggembala untuk menyaksikan hiburan. Namun, rupanya Allah Subhanahu wata’ala menidurkannya sehingga baru bangun pada keesokan hari. Setiap kali hendak melakukannya, kejadian itu terulang, sehingga beliau tidak mengulanginya lagi.
2. Bersungguh-sungguh dalam bekerjaMasa muda bisa terbilang masa emas karena seorang anak tentunya masih mengandalkan orang tua untuk mencukupi kebutuhan dan memenuhi keinginannya. Namun tidak demikian dengan Rasulullah, beliau memanfaatkan masa mudanya untuk berdagang hingga ke negeri Syam.
Paling tidak, ada dua pekerjaan yang dijalaninya sampai beliau menikah dengan Khadijah, yaitu: menggembala kambing dan berniaga. Mengenai penggembalaan kambing ini, Abu Hurairah radiallahu anhu meriwayatkan sabda nabi:
«مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الغَنَمَ» ، فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ»
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan (sebelumnya berprofesi) sebagai penggembala kambing.” Mendengar jawaban nabi, sahabat merespon, “Apa Anda juga?” “Ya. Dulu aku menggembala kambing penduduk Makkah dengan upah sejumlah uang.” (HR. Bukhari).
Baca juga: Dubes Al Busyra Basnur Ingatkan Pemuda: Jangan Harap Bangsa Lain Memajukan Indonesia3. Memiliki jiwa kepemimpinan Selain berniaga, beliau juga mendapat pengalaman luar biasa dalam bidang leadership (kepemimpinan). Tidak mengherankan jika Al-Hafidz Ibnu Hajar al-`Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan: Hikmah diilhaminya para nabi menggembala kambing sebelum diutus menjadi nabi karena (supaya mereka pengalaman sebelum mengurus umat), (Fathul Bari, 7/99).
4. Pengalaman militer dan diplomatikDi usia yang masih muda, semangat beliau untuk berjihad telah tertanam dan terpatri dalam jiwanya. Ahmad As-Suhaili dalam Raudhah al-Anfi (1421: II/149) menyebutkan bahwa ketika meletus Perang Fijar antara Suku Kinanah bersama Qurays melawan Qais, beliau membantu paman-pamannya menyiapkan anak panah untuk melawan Suku Qais.
Perang ini kemudian berakhir dengan kesepakatan damai yang kemudian dalam sejarah diabadikan dengan istilah Hilf al-Fudhul (Perjanjian Fudhul). Rumah Abdullah bin Jadan menjadi saksi bisu perdamaian luhur ini. Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengalami pengalam diplomatik yang luar biasa ketika menghadiri perjanjian ini, sampai-sampai beliau berkomentar saat mengenang kembali peristiwa ini:
لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا لَوْ دُعِيتُ بِهِ فِي الْإِسْلَامِ لَأَجَبْتُ
“Sesungguhnya aku telah menyaksikan di rumah Abdullah bin Jad’an satu perjanjian; seandainya aku diajak melakukannya dalam Islam, tentu aku kabulkan. (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, II/355).
5. Menjadi problem solverSaat terjadi polemik mengenai peletakan Hajar Aswad pasca-renovasi Ka’bah, diusianya yang baru 35 tahun, beliau mampu menjadi problem solver (pemecah solusi) bagi permasalahan yang hampir menimbulkan konflik berdarah ini. Tak mengherankan jika kesuksesannya ini membuat beliau dijuluki al-amin (yang tepercaya).
Pada usia 38-40, saat Ramadhan beliau terbiasa menyendiri bertafakkur di Gua Hira. Menariknya, saat beliau diangkat jadi nabi (di usia 40), dan pulang dalam kondisi ketakutan, Khadijah menenangkannya, Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tak ada, menjamu tamu dan sentiasa membela faktor-faktor kebenaran. (HR. Bukhari dan Muslim). Dikutip dari berbagai sumber.
Baca juga: 93 Tahun Sumpah Pemuda, Anak Muda harus Kuasai Perekonomian Digital(asf)