Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 23 April 2026
home global news detail berita

Momentum Sumpah Pemuda: Ini Kehebatan Rasulullah saat Remaja

ahmad zuhdi Jum'at, 29 Oktober 2021 - 22:05 WIB
Momentum Sumpah Pemuda: Ini Kehebatan Rasulullah saat Remaja
Ilustrasi. (Foto: Langit7.ID/iStock)
LANGIT7.ID, Jakarta - - Membahas Rasulullah dari berbagai sisi seolah tidak ada habisnya, selalu ada nilai-nilai perjuangan hidup yang dapat dijadikan sebagai motivasi. Selain penutup para nabi, beliau adalah sosok yang dijadikan suri tauladan bagi seluruh umat Islam, tak terkecuali generasi muda atau mereka yang sedang menginjak usia remaja.

Masih dalam momentum Hari Sumpah Pemuda, para remaja dapat menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam menentukan orientasi dan tujuan hidup serta apa yang harus dilakukan saat masih usia remaja. Nilai-nilai perjuangan serta kehebatan Rasulullah pada saat masih usia remaja patut dijadikan sebagai rujukan oleh generasi muda hari ini.

Baca juga: Pesan Hamka: Agar Jadi Generasi Unggul, Pemuda Wajib Paham Agama dan Sejarah

Tanpa mencontoh dan merujuk kepada salah satu nabi termasuk Nabi Muhammad, maka kita akan kehilangan spirit dalam menjalani dan menghabiskan masa muda. Sebab, masa tersebut adalah masa peralihan atau masa transisi, di mana seseorang yang tadinya kanak-kanak akan menjalani masa dewasa yang penuh dengan dinamika dan kompleksitas kehidupan.

Berikut empat nilai Rasulullah yang dapat dijadikan motivasi oleh generasi muda.

1. Tidak terbawa arus

Rasulullah merupakan manusia biasa yang sama seperti kita, hanya saja beliau diberikan wahyu dan tugas kerasulan oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah ke muka bumi. Saat masih muda, beliau juga menginginkan seperti pemuda-pemuda pada umumnya. Hanya saja, setiap kali ingin mengikuti tren, oleh Allah subhanahu wata’ala dijaga sehingga urung melakukannya.

Suatu hari, pasca-menggembala kambing, beliau sudah berjanji dengan teman sesama penggembala untuk menyaksikan hiburan. Namun, rupanya Allah Subhanahu wata’ala menidurkannya sehingga baru bangun pada keesokan hari. Setiap kali hendak melakukannya, kejadian itu terulang, sehingga beliau tidak mengulanginya lagi.

2. Bersungguh-sungguh dalam bekerja

Masa muda bisa terbilang masa emas karena seorang anak tentunya masih mengandalkan orang tua untuk mencukupi kebutuhan dan memenuhi keinginannya. Namun tidak demikian dengan Rasulullah, beliau memanfaatkan masa mudanya untuk berdagang hingga ke negeri Syam.

Paling tidak, ada dua pekerjaan yang dijalaninya sampai beliau menikah dengan Khadijah, yaitu: menggembala kambing dan berniaga. Mengenai penggembalaan kambing ini, Abu Hurairah radiallahu anhu meriwayatkan sabda nabi:

«مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الغَنَمَ» ، فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ»

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan (sebelumnya berprofesi) sebagai penggembala kambing.” Mendengar jawaban nabi, sahabat merespon, “Apa Anda juga?” “Ya. Dulu aku menggembala kambing penduduk Makkah dengan upah sejumlah uang.” (HR. Bukhari).

Baca juga: Dubes Al Busyra Basnur Ingatkan Pemuda: Jangan Harap Bangsa Lain Memajukan Indonesia

3. Memiliki jiwa kepemimpinan

Selain berniaga, beliau juga mendapat pengalaman luar biasa dalam bidang leadership (kepemimpinan). Tidak mengherankan jika Al-Hafidz Ibnu Hajar al-`Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan: Hikmah diilhaminya para nabi menggembala kambing sebelum diutus menjadi nabi karena (supaya mereka pengalaman sebelum mengurus umat), (Fathul Bari, 7/99).

4. Pengalaman militer dan diplomatik

Di usia yang masih muda, semangat beliau untuk berjihad telah tertanam dan terpatri dalam jiwanya. Ahmad As-Suhaili dalam Raudhah al-Anfi (1421: II/149) menyebutkan bahwa ketika meletus Perang Fijar antara Suku Kinanah bersama Qurays melawan Qais, beliau membantu paman-pamannya menyiapkan anak panah untuk melawan Suku Qais.

Perang ini kemudian berakhir dengan kesepakatan damai yang kemudian dalam sejarah diabadikan dengan istilah Hilf al-Fudhul (Perjanjian Fudhul). Rumah Abdullah bin Jadan menjadi saksi bisu perdamaian luhur ini. Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengalami pengalam diplomatik yang luar biasa ketika menghadiri perjanjian ini, sampai-sampai beliau berkomentar saat mengenang kembali peristiwa ini:

لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا لَوْ دُعِيتُ بِهِ فِي الْإِسْلَامِ لَأَجَبْتُ

“Sesungguhnya aku telah menyaksikan di rumah Abdullah bin Jad’an satu perjanjian; seandainya aku diajak melakukannya dalam Islam, tentu aku kabulkan. (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, II/355).

5. Menjadi problem solver

Saat terjadi polemik mengenai peletakan Hajar Aswad pasca-renovasi Ka’bah, diusianya yang baru 35 tahun, beliau mampu menjadi problem solver (pemecah solusi) bagi permasalahan yang hampir menimbulkan konflik berdarah ini. Tak mengherankan jika kesuksesannya ini membuat beliau dijuluki al-amin (yang tepercaya).

Pada usia 38-40, saat Ramadhan beliau terbiasa menyendiri bertafakkur di Gua Hira. Menariknya, saat beliau diangkat jadi nabi (di usia 40), dan pulang dalam kondisi ketakutan, Khadijah menenangkannya, Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tak ada, menjamu tamu dan sentiasa membela faktor-faktor kebenaran. (HR. Bukhari dan Muslim). Dikutip dari berbagai sumber.

Baca juga: 93 Tahun Sumpah Pemuda, Anak Muda harus Kuasai Perekonomian Digital

(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 23 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)