LANGIT7.ID, Surabaya - Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) meluncurkan Gerakan Pesantren Asuh (GPA). Program itu merupakan gerakan untuk mengayomi para santri yang ditinggal orang tua karena Covid-19. RMI PBNU berharap, para santri itu tetap bisa melanjutkan pendidikan di pesantren.
Acara yang live dari Hotel Vasa Surabaya pada Ahad (31/10/2021) itu dihadiri sejumlah tokoh besar seperti Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dan mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan. Acara itu juga dimeriahkan oleh Gus Miftah, Tompi, Pamungkas, Nasida Ria, Feby Putri, dan Kill The Dj.
Konser Santri untuk Indonesia terselenggara atas kerjasama RMI PBNU, TV9 Nusantara, dan Rajawali Communications dan disiarkan langsung oleh TV9 Nusantara dan sejumlah kanal youtube miliki artis pengisi acara.
Acara tersebut mengundang perhatian banyak donator. Salah satunya Khofifah. Dia menyerahkan bantuan donasi sebesar Rp50 juta untuk RMI PBNU dalam membantu gerakan tersebut. Ada pula lelang virtual blangkon yang biasa dipakai Gus Miftah untuk berceramah.
Baca Juga: Luar Biasa, Hercules Akan Dirikan Pesantren di Atas Lahan 7.000 Meter
Blangkon sederhana berwarna hitam itu langsung dibeli oleh Putra Siregar, pengusaha muda pemilik PS Store seharga Rp200 juta. “Blangkon ini sering saya pakai berceramah di berbagai kesempatan, termasuk di Aljazair,” ucap Gus Miftah. Hasil penjualan blangkon itu langsung masuk ke rekening RMI PBNU untuk membiayai Gerakan Pesantren Asuh.
Selain blangkon Gus Miftah, beberapa barang pribadi yang memiliki nilai sejarah turut dilelang untuk penggalangan dana GPA. Seperti barang dari Makam Mbah Mutamakkin dan pakaian pribadi mbah KH Sahal Mahfudh, hingga properti milik para influencer seperti Gus Baha dan penyanyi Jazz Tompi.
Ketua RMI PBNU, KH Abdul Ghaffar Rozin, mengatakan, sektor pendidikan merupakan salah satu yang terdampak selama pandemi berlangsung, termasuk pendidikan di lingkungan pesantren. Melalui program PGA, RMI mengajak masyarakat untuk peduli dengan masa depan anak-anak yang menjadi korban Covid-19. Kepedulian itu bisa direalisasikan dengan bahu-membahu membantu para santri terdampak agar bisa menggapai masa depan mereka.
“Kami meminta kepada pesantren yang terafiliasi dengan NU, apabila ada santri yang ditinggal keluarganya dan terancam tidak bisa melanjutkan, kami memohon dengan sangat agar pesantren berkenan mengasuhnya,” kata Gus Rozin dalam acara tersebut.
Kepada para santri yang terdampak, Gus Rozin berpesan agar tetap semangat dan tidak sungkan menyampaikan keluhan jika ada yang memiliki kesulitan akibat pandemi. RMI akan berupaya membantu agar santri bersangkutan tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Baca Juga: DMI Dorong Menko PMK Susun Rencana untuk Anak Terdampak Covid-19
Menurut dia, peran santri sangat signifikan. Pada masa pandemi, sekira 800 kiai wafat. Dia menyebut itu sebagai kehilangan yang sangat besar. Tidak mungkin tergantikan dalam dua-tiga tahun, butuh puluhan tahun.
Santri menjadi kelompok yang sangat diharapkan menjadi ulama masa depan. Maka sejak awal pandemi, RMI sudah konsentrasi melakukan langkah-langkah produktif.
“Kita berdoa agar Gerakan Pesantren Asuh yang kita luncurkan malam ini, dikenal masyarakat luas. Manfaatnya tidak hanya untuk pesantren, tapi juga masyarakat Nahdliyin pada umumnya,” kata Gus Rozin.
(jqf)