LANGIT7.ID - Kiai dulunya hanya dikenal sebagai seorang ulama yang mengasuh santri di pesantren. Namun kini para kiai tak hanya alim atau berilmu dalam tradisi pesantren namun juga dalam sistem akademik modern sebagai seorang intelektual.
Tak tanggung-tanggung, beberapa kiai pesantren saat ini berhasil meraih gelar tertinggi dalam bidang akademik, yakni guru besar atau profesor. Meraih gelar tersebut tidak mudah. Ada berbagai jenjang yang harus ditempuh. Terdapat beberapa syarat utama untuk mendapatkan gelar tersebut.
Pertama, syarat dari sisi akademik yakni angka kredit kecukupan yang harus dipenuhi minimal 850 angka kredit. Kedua, mereka juga harus memiliki karya ilmiah berstandar internasional.
Ketiga, memenuhi persyaratan administrasi berupa penilaian kinerja baik, integritas baik, dan perguruan tinggi pengusung juga paling tidak B atau prodi berakreditasi B.
Nah, berikut ini empat kiai pesantren yang bergelar profesor:
1. Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, MA
![Hebat, Para Ulama Ini Tak Hanya Kiai tapi juga Profesor]()
Prof. KH Asep Saifuddin merupakan pendiri Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur. Pesantren ini memiliki madrasah bertaraf internasional yang menjadi salah satu kebanggan masyarakat Jawa Timur.
KH Asep dikukuhkan menjadi guru besar bidang sosiologi di universitas Islam negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya pada Sabtu (29/2/2020). Saat pengukuhan juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Kala itu, Jokowi menyebut KH Asep layak mendapat gelar guru besar profesor atas kontribusinya mengembangkan studi Islam yang inovatif untuk membangun umat dan bangsa.
Salah satu kontribusi terbesar KH Asep adalah Pesantren Amanatul Ummah. Itu juga diakui Presiden Jokowi. “Pondok pesantren ada di Surabaya dan pacet, Mojokerto.” Katanya kala itu.
Santri Amanatul Ummah yang berjumlah 10 ribu orang tidak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga datang dari mancanegara.
2. Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj, M.A.
![Hebat, Para Ulama Ini Tak Hanya Kiai tapi juga Profesor]()
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, dikukuhkan jadi guru besar (profesor) di bidang Ilmu Tasawuf di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur pada November 2014 lalu.
Untuk profesor di bidang tasawuf, KH Said Aqil merupakan orang ke delapan di Indonesia. saat menyampaikan orasi ilmiah, dia menjelaskan peran tasawuf sebagai revolusi spiritual dalam kehidupan masyarakat modern. Ia menilai tasawuf sangat dibutuhkan oleh masyarakat di era globalisasi ini.
Nilai-nilai revolusi spiritual itu sangat diperlukan agar bangsa Indonesia tidak terjatuh terlalu dalam kepada hedonisme, materialisme, dan semua yang bersifat keduniawian. Revolusi spiritual itu menjadi benteng agar bangsa Indonesia tidak hanya maju secara materi, tapi juga spiritual.
Prosesi pengukuhan guru besar itu dilangsungkan di Auditorium Kampus UIN Sunan Ampel, Surabaya. Di antara tokoh yang hadir kala itu adalah M Nasir, Marwan Jafar, Khofifah Indar Parawansa, dan Imam Nahrawi.
KH Said memang produktif menulis buku mengenai tasawuf. Beberapa buku yang beliau tulis adalah Menggugat Tangung Jawab Agama-agama Abrahami bagi Perdamaian Dunia (2010); Tasawuf sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Agama sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi; Dialogo Tasawuf Kiai Said: Akhlak, Tasawuf, dan Relasi Antarumat Beragama; Islam Kalap dan Islam Karib; Islam Sumber Inspirasi Budaya Nusantara: Menuju Masyarakat Mutamaddin (2014); dan Berkah Islam Indonesia Jalan Dakwah Rahmatan Lil ‘Alamin (2015).
3. Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, MA
![Hebat, Para Ulama Ini Tak Hanya Kiai tapi juga Profesor]()
Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi merupakan mantan rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ponorogo. Beliau juga menjadi salah seorang pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor bersama KH Hasan Abdullah Sahal dan Drs KH Akrim Mariyat.
Unida Gontor mengukuhkan Prof Amal Fathullah Zarkasyi sebagai Guru Besar dalam Bidang Aqidah dan Filsafat pada 2014 silam. Pengukuhan itu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.98495/A4.3/KP/2014 yang ditetapkan oleh Direktur Jendral Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh.
Prof Amal Fathullah Zarkasyi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Aqidah dan Filsafat dengan karyanya yang berjudul ‘
Nahwa Ilmu al-Kalam al-Jadid’ atau “Menuju Pembaharuan Ilmu Kalam” yang juga menjadi judul orasi ilmiah yang ia sampaikan menggunakan bahasa Arab.
Dia menilai ilmu kalam merupakan ilmu yang digunakan untuk membuktikan kebenaran aqidah dengan dalil-dalil yang pasti bersumber dari dalil ‘aqli maupun naqli. Pembuktian tersebut untuk menjawab berbagai keraguan yang ditimbulkan oleh para penentang Islam. Hingga pada akhirnya, keraguan itu dapat hilang dan berganti keimanan.
4. Prof. Dr. KH Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed, M.Phil![Hebat, Para Ulama Ini Tak Hanya Kiai tapi juga Profesor]()
Pemerintah mengangkat KH Hamid Fahmy Zarkasyi sebagai Guru Besar filsafat pada awal 2021. Prof Hamid memang dikenal gigih mengkaji secara kritis filsafat dan peradaban barat. Di antaranya, ia pernah menulis buku berjudul Misykat, Refleksi tentang Westernisasi & Liberalisasi. Buku itu berisi tanggapan terhadap pembaratan dan liberalisasi Islam.
Pria yang kini menjadi Rektor Universitas Darussalam Gontor itu merupakan pendiri
Institute for the study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), sebuah lembaga penelitian dan kajian yang konsen pada pemikiran dan peradaban Islam.
Putra KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Darusalam Gontor itu juga membuat Program Kaderisasi Ulama (PKU) di Unida Gontor. Program itu diikuti ulama-ulama muda dari berbagai pesantren dan berlangsung selama 6 bulan. kini sudah berjalan 15 angkatan. Di UNIDA, dia mendirikan
Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS). Lembaga kajian ini aktif menggelar kajian-kajian, terutama terkait peradaban Islam dan Barat.
(jqf)