LANGIT7.ID - 25 November merupakan Hari Guru Nasional. Ini menjadi momentum tepat untuk mengenang jasa-jasa para guru, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Guru sebagai orang yang mendidik, membimbing, mengajarkan, mengarahkan, melatih, dan menilai adalah orang yang memiliki kemuliaan.
Seorang guru tidak pernah pelit ilmu. Wawasan yang dia miliki selalu dibagikan kepada murid-muridnya, sehingga kebaikan itu tidak akan pernah terputus meski sudah meninggal dunia. Di dalam Al-Qur’an, guru memiliki kedudukan istimewa. Salah satu ayat yang menerangkan keutamaan guru adalah surah Al-Mujadilah ayat 11.
“Hari orang-orang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Derajat, yang dimaksud dalam ayat di atas menurut Ibnu Abbas adalah orang-orang yang berilmu memiliki kedudukan tujuh ratus derajat di atas orang-orang mukmin.
Namun, ada hal yang harus diperhatikan dengan baik bagi para guru agar mampu menggapai derajat tinggi tersebut. Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengingatkan, seorang guru harus mampu memiliki perilaku yang baik.
“Pahala dari Allah dan penghormatan dari murid itu bergantung bagaimana keikhlasan dari sikap guru dalam mengajar,” kata UAH melalui kanal youtube Cahaya Syiar Islami, dikutip Kamis (25/11/2021).
Guru harus memiliki jiwa penyayang. Itu akan membuat para murid menyayangi guru, bukan malah takut. Sebab, secara logika disayangi akan lebih baik daripada ditakuti. Maka itu, setiap guru harus mampu menjadi sosok yang digugu dan ditiru oleh semua murid di dalam kelas.
“Ada akhlak sebagai seorang guru, pertama akhlak kepada Allah bagaimana mengikhlaskan hatinya dia pelajari dulu, pilihan dia untuk mengajar maka begini cara pencarian ilmunya,” kata UAH.
Guru yang memiliki hati ikhlas saat mengajar akan berbeda rasa dengan guru yang yang materialistik. Guru yang memiliki rasa pamrih tidak akan mampu menjadi seperti guru yang memiliki hati yang ikhlas dalam mengajar.
UAH mencontohkan murid-murid yang tidak senang jika diajar oleh guru karena memiliki sifat tidak menyenangkan. Hal tu tergantung dari keikhlasan dari hati guru yang mengajar, semakin ikhlas memberikan ilmu, maka akan semakin tentram keadaan kelas. Bukan hanya disukai para murid, tapi juga ilmu yang diajarkan mudah diserap.
“Dari situ dihadirkan rasa takut kepada Allah, sehingga yang ia sampaikan tidak sembarangan ia sampaikan tapi dipastikan Allah ridho dengan penyampaiannya,” ucap UAH.
Maka Hari Guru Nasional bukan hanya menjadi momentum para murid mengenang jasa para guru, tapi juga teruntuk guru dalam mengoreksi diri. Setidaknya menanyakan dalam diri sendiri, apakah sudah memiliki hati ikhlas dalam mengajar.
Sebab, sesuai janji Allah Ta’ala, ilmu yang bermanfaat akan menjadi amalan jariyah. Amalan yang tidak akan pernah terputus meski sudah meninggal dunia. Guru yang memiliki hati ikhlas akan memperoleh keberuntungan dunia akhirat, pahala akan terus mengalir jika berhasil mendidik para murid.
Selalu Doakan MuridGuru yang baik tak hanya mendidik dan mengajar di dalam kelas. Namun tiap kali usai shalat selalu menyempatkan diri mendoakan para muridnya. Dengan mendoakan, Allah akan mudahkan menenangkan hati para murid-murid saat mengajar.
“Mendoakan murid, supaya apa yang disampaikan itu meresap dalam jiwanya, ia berusaha memberikan keringanan terhadap murid,” ucap UAH.
(jqf)