LANGIT7.ID - Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK), timbulan sampah yang dicakup dari 291 kabupaten/kota pada tahun 2020 hampir mencapai 37 juta ton sampah. Tentu ini belum termasuk sampah-sampah yang berserakan alias sampah Tidak Terkelola yang presentasenya mencapai 32.04% atau hampir 12 juta ton sampah.
Sampah yang diangkut oleh petugas setiap harinya dari rumah ke rumah dan jalanan menuju ke TPA, bukan berarti masalah sampah rumah selesai. Justru tumpukkan sampah yang kian menggunung akan menjadi bom waktu.
Dalam Islam, umat Muslim yang lahir ke dunia di utus sebagai khalifah di muka bumi. Diperintahkan berbuat amar makruf nahi mungkar, tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga semua yang ada di Bumi, mulai hewan, tumbuhan, perairan, daratan dan udara.
Bagaimana caranya? Mengubah gaya hidup solusinya dan soal ini prinsip
zerowaste layak diadopsi.
Apa itu
zero waste?
Zero waste atau minim sampah yakni gaya hidup dengan semangat merawat bumi, menghormati makhluk hidup dan ramah terhadap lingkungan. Sesuai namanya, gerakkan
zero waste sangat mengusahakan gaya hidup yang seminim mungkin memproduksi sampah untuk dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA).
Dalam penerapannya, gaya hidup ini mengurangi pemakaian kemasan sekali pakai, mengurangi kebutuhan sekunder terlebih tersier dan fokus pada kebutuhan pokok, kemudian mengolah kembali sampah agar sebisa mungkin tidak dibuang dengan cara pengomposan atau didaur ulang.
Tujuannya membangun sistem kehidupan di mana sumber daya dapat dikembalikkan sepenuhnya ke alam dan mengurangi bahan-bahan yang tidak ramah terhadap alam.
Gerakkan ini cukup tren di masyarakat, bukan hanya di kalangan penggiat lingkungan. Tren ini terutama didorong kesadaran akibat dampak menyedihkan kerusakan lingkungan, salah satunya yang terkini yakni sampah plastik terhadap kerusakan ekosistem laut, di mana ditemukan sejumlah hewan laut mati dengan gumpalan plastik tak tercerna dalam perut mereka.
![Mengapa Perlu Gaya Hidup Zero Waste? Rawat Bumi Sekaligus Islami]()
Bagaimana memulai?
Gaya Hidup zero waste sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dijalani. Sebagai permulaan, kita dapat memulainya dari rumah dengan metode 5R, yaitu r
efuse (menolak), r
educe (mengurangi), r
euse (menggunakan kembali),
recycle (mendaur ulang) dan r
ot (pembusukan sampah).
RefuseSetiap orang berhak menolak menggunakan barang yang sekiranya akan menghasilkan sampah, dengan menghindari penggunaan plastik ketika berbelanja ke pasar dengan membawa tas keranjang atau belanja sendiri yang telah disiapkan dari rumah sebagai gantinya.
Selain tas belanja sendiri, ada baiknya membuat kantong-kantong kecil dari kain atau bahan jaring yang kuat untuk mewadahi barang belanja seperti telur dan buah
ReduceSalah satu contohnya yakni mengurangi pemakian tisu ketika akan membersihkan meja di rumah. Satu kotak tisu berisi 20 lembar diproduksi dari satu batang pohon. Bayangkan berapa jumlah pohon yang harus ditebang untuk tumpukkan tisu di supermaket?
Satu pohon memiliki arti besar. Jika masih belum bisa stop total, paling tidak kurangi dengan menggunakan kain lap di rumah.
Cara lain mengurangi sampah yaitu membawa wadah makan sendiri ketika membeli makan di luar sehingga tidak perlu menghasilkan sampah kemasan. Upayakan pula tidak membuang makanan dengan cara memasak secukupnya dan mengambil makanan sesuai kebutuhan. Lagipula bukankah Islam melarang pemeluknya untuk berlebih-lebihan?
"يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا
تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A'raf: 31).
ReusePrinsip ini yakni sebisa mungkin tidak mudah membuang barang dan memanfaatkan kembali barang-barang, wadah/kemasan, apalagi yang memang terbuat dari bahan yang aman untuk digunakan kembali.
Jangan buru-buru membuang barang yang sekiranya menurut kita rusak, karena siapa tahu kita bisa memperbaikinya dan menggunakannya kembali
Aisyah meriwayatkan, bahwa ia ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah di rumahnya. ‘Aisyah menjawab. “Beliau menjahit pakaiannya dan memperbaiki sandalnya sendiri.” (HR Bukhari)
Kekasih Allah dan pribadi yang agung, Nabi Muhammad SAW, saja memperbaiki pakaian dan sepatunya sendiri, baik di saat sulit maupun di saat lapang. Maka sebagai umatnya tidak seharusnya merasa gengsi mengikuti langkah beliau.
RecyclePilah sampah-sampah dan barang yang tak digunakan lagi. Hal ini untuk menentukan mana yang dapat didaur ulang dan mana yang bisa diurai alam. Kita dapat melakukan penanganan sampah organik menjadi pupuk kompos dan melakukan penanganan sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat.
RotMembusukkan barang yang dikonsumsi, poin ini hanya bisa diterapkan pada barang dan sampah organik yang mudah terurai, seperti kulit buah, tangkai sayur menjadi pupuk kompos. Selain mengurangi sampah, kita juga bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi Bumi ciptaan Allah SWT sekaligus tempat kita dikubur kelak.
(arp)