LANGIT7.ID, Jakarta - Saptuari Sugiharto, seorang motivator bisnis dan penulis buku. Disela kesibukannya menulis, ia menjalankan empat bisnis yang bergerak di berbagai bidang. Di antaranya kuliner seperti Tengkleh Hohah dan camilan Jalusugih yang berarti Jamur Lunas dan Usus Nagih.
Selain itu, Sugiharto juga memiliki usaha percetakan Kedai Digital, dan bisnis pakaian. Bukunya dipasarkan di situs yang ia buat, jogist.com.
Pria kelahiran Yogyakarta, 41 tahun lalu ini menyebut dirinya sebagai provokator enterpreuneur. Dasarnya, Sugiharto sering menjadi motivator dan membagikan inspirasi kepada para pelaku usaha.
Buku yang dituliskannya berdasarkan pengalaman pribadi menjadi inspirasi banyak orang. Keempat bukunya, Kembali ke Titik Nol, Berani Menjadi Taubaters!, Mencari Jalan Pulang, dan Doa Tak Tertolak, menjadi andalannya di pasaran karena keempat buku ini menjadi best seller.
Namun siapa sangka, menjadi motivator bisnis dan seorang penulis yang menyuarakan tema hijrah, berangkat dari pengalaman pahitnya dulu ketika masih menjalankan bisnis yang mengandung unsur ribawi.
Menurut Sugiharto, sebuah pengalaman buruk seseorang di masa lalu perlu dijadikan pelajaran. Termasuk juga sebagai bentuk motivasi untuk bertaubat.
“Saya merasa terselamatkan di momen itu, karena dulu selama sembilan tahun itu saya berbisnis, saya juga mainan riba, waktu itu 2009 saya ingat,” katanya dikanal Youtube Suara Hidayatullah.
Saptuari mengisahkan, dirinya dulu yang senang berutang di bank konvensional, melakukan kredit dari mobil dan rukonya. Hingga akhirnya, ia merasa banyaknya cicilan dan minim pengetahuan soal riba, membuatnya terbebani.
Saat itu, ia merasa bisnis yang selama ini dijalani tidak terasa berkahnya. Aliran uang yang ia dapatkan, hilang dengan begitu cepat dan tidak jelas ke mana. Merasa ada yang salah dalam bisnis yang saat itu ia jalankan, Sugiharto berpikir untuk menelusuri penyebabnya.
Ia mengatakan, saat itu memiliki kantor sendiri bahkan bisnisnya juga sudah memiliki beberapa cabang. Tapi, ia tidak pernah merasakan adanya keuntungan yang ia dapat.
“Tidak ada duitnya, dari situ saya dipertemukan Ustadz Syamsul Arifin dari Bogor, saya pantau kultwitnya yang saat itu membahas soal riba,” katanya.
Muncul kesadaran dari Saptuari. Ia jadi faham, melakukan pinjaman dari bank konvensional memiliki unsur riba. Dalam satu kesempatan sekitar tahun 2014 ia bertemu dengan ustadz yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk berhijrah dari riba.
Sugiharto mengaku selama menjalankan bisnisnya dulu telah memiliki total utang Rp2,1 miliar. Tapi habis terkikis akibat cicilan membayar utang yang tiap bulannya mencapai Rp25 juta. Akhirnya ia menyadari penyebabnya. Dibalik momen pahit dari bisnis yang dijalani, tanpa sadar ia masuk ke dalam dunia ribawi.
“Kenapa saya yakin semua karena riba, soalnya beberapa cobaan datang ke saya, mulai kantor kemalingan, istri kecelakaan, karyawan yang menusuk saya dari belakang, siapa yang bisa datangkan itu semua kalau bukan karena riba,” tuturnya.
Dari situ, Sugiharto berjanji untuk berhijrah dan tidak menambah utang baru dan akan menyelesaikan semua masalahnya satu per satu. Termasuk kartu kredit, kata Saptuari, yang saat itu ia mengaku memiliki empat kartu kredit dan berhijrah harus memiliki komitmen yang kuat.
“Saya jual aset, kerja keras lagi, semua pintu halal saya kerjakan. Alhamdulillah ternyata kalau kita sudah niat karena Allah, itu diberikan kemudahan dan keajaiban akan muncul,” terangnya.
Mencengangkan, selama delapan bulan Saptuari berhasil melunasi utangnya sebesar Rp2,1 miliar. Kelegaan yang tidak bisa dibayarkan setelah melunasi utang-utangnya.
Saptuari mengaku ada lagi satu keajaiban yang saat itu benar-benar ia rasakan setelah terlepas dari riba. Setelah enam tahun menikah, Saptuari dan istrinya mengidamkan sang buah hati yang juga belum bisa didapatkannya.
“Saya putuskan hijrah dan mengakui kesalahan kepada Allah dengan niat hijrah dan tidak main di dunia riba lagi. Hanya selang tiga bulan istri saya hamil di 2015,” tuturnya.
Dari kisahnya ini, Saptuari semakin berkomitmen untuk melunasi utangnya sebelum anak pertamanya lahir. Kemudahan pun didapatkannya, tiga hari sebelum anaknya lahir utangnya lunas.
Saptuari berpesan, hijrah yang diniatkan karena Allah, maka energi baik akan hadir. Tapi jika memang hijrah ini dilakukan setengah-setengah, maka hasilnya pun akan setengah. Jika masih ada keraguan maka bisa menyebabkan kehancuran. Niat yang bersih, maka hidup pun akan naik kembali.
(zul)