LANGIT7.ID, Jakarta - Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami erupsi pada Sabtu (4/12/2021). Bagi seorang muslim, setiap musibah yang terjadi merupakan kehendak Allah dan merupakan ujian bagi orang-orang yang beriman.
Musibah, kesulitan, dan cobaan dalam kehidupan dapat terjadi pada siapa saja; tidak pandang status sosial, kealiman, kekayaan, dan sebagainya. Allah menguji hamba-hambanya dengan beragam cara, baik dengan kemudahan maupun kesulitan.
Merespon musibah erupsi Gunung Semeru, khatib Jumat dapat menguatkan umat Islam dengan menghadirkan khutbah yang bersifat penyemangat keimanan. Termasuk khutbah berisi motiviasi dan kisah-kisah terdahulu agar dapat dipetik ibrah (pelajaran).
Baca Juga: Kemenkeu Siapkan Anggaran Negara Bantu Warga Terdampak BencanaBerikut lima tema khutbah Jumat terkait musibah dan bencana:
1. Nabi Yusuf dan Pentingnya Mitigasi BencanaKisah Nabi Yusuf alaihissalam menggambarkan betapa pentingya mitigasi bencana. Upaya mitigasi direncanakan dan dilaksanakan dengan matang. Kisah ini bermula dari mimpi Raja Mesir melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan tujuh sapi betina kurus dan tujuh bulir gandum hijau serta tujuh bulir gandum kering.
Nabi Yusuf menafsirkan mimpi tersebut bahwa tak lama lagi akan terjadi bencana paceklik. Nabi Yusuf menyarankan agar masyarakat bercocok tanam selama tujuh tahun yang subur itu. Setelah dipanen, hasilnya disimpan dengan baik sebagai persediaan untuk masa tujuh tahun musim paceklik.
Baca Juga: Anggota DPR Minta Pemerintah Segera Mitigasi Bencana Semeru2. Buah Kesabaran Nabi AyubNabi Ayub merupakan salah satu nabi yang dapat dijadikan teladan dalam menghadapi cobaan dari Allah. Pada mulanya, Nabi Ayub merupakan merupakan seorang kaya raya yang kemudian jatuh miskin dan dihindari banyak orang karena suatu penyakit.
Nabi Ayub didera musibah berupa penyakit selama 18 tahun. Ia terpaksa harus tinggal di pinggiran negeri, karena orang-orang takut tertular penyakit yang dideritanya. Tak hanya sampai disitu, harta Nabi Ayub semuanya habis karena musibah kebakaran. Belum berhenti, Nabi Ayub juga ditinggalkan oleh istrinya. Namun Nabi Ayub senantiasa bersabar hingga Allah memulihkan keadaaannya seperti semula.
3. Maksiat sebagai Pemicu BencanaBencana dapat terjadi karena maksiat yang dilakukan para penduduk. Bentuk maksiat bermacam-macam, mulai dari tidak mengindahkan syariat Allah sampai karena ulah manusia itu sendiri yang tidak menjaga keseimbangan alam.
Baca Juga: Yuk Awali Aktivitas dengan Doa Meminta Perlindungan AllahMisalnya, bencana yang terjadi pada era Nabi Luth di mana kaumnya saat itu gemar melakukan perbuatan yang sangat dimurkai Allah Swt, yakni melakukan hubungan seksual sesama jenis. Lalu Allah mengazab kaum tersebut dengan membalikkan tanah dan tidak tersisa satupun. Kisah ini diceritakan kembali dalam Alquran agar umat Islam bisa mengambil hikmah dan pelajaran.
4. Musibah dan MuhasabahRentetan musibah yang terjadi hendaknya mendorong manusia untuk bermuhasabah (introspeksi), apakah musibah yang ia terima merupakan bentuk ujian, peringatan atau justru azab. Sehingga, manusia lebih berhati-hati dalam menjaga amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Baca Juga: Kemenag Salurkan Bantuan Rp 31,7 Miliiar untuk 1.000 Pesantren Dalam Alquran, Allah menegaskan bahwa kerusakan di bumi adalah akibat mempertuhankan hawa nafsu. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, baik kota maupun desa, disebabkan karena perbuatan tangan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan jauh dari tuntunan fitrah (Islam).
5. Bijaksana Menyikapi MusibahMusibah mengandung hikmah yang luar biasa bagi seorang muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Musibah merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah agar dijadikan pelajaran bagi setiap muslim untuk semakin yakin kepada Allah.
Musibah apapun, besar maupun kecil, berat ataupun ringan, akan memberikan manfaat bagi seorang Muslim jika dihadapi dengan sikap ridha dan sabar. Musibah itu akan mengangkat derajat dan menghapus dosanya.
Baca Juga: Wakil Ketua MPR: TNI Sudah Lama Rekrut Santri Jadi Tentara(zhd)