LANGIT7.ID - Dunia pendidikan memberikan segudang ilmu bermanfaat bagi anak-anak dan generasi muda. Namun, tidak banyak ilmu yang diberikan secara langsung dalam hal mewujudkan perdamaian.
Hal itu yang menjadikan Irfan Amalee tergerak untuk melahirkan sebuah organisasi yang memberikan pendidikan untuk urusan perdamaian, yakni Peace Generation Indonesia atau Peacegen.
Dikutip dari laman resmi peacegen.id, Irfan menuturkan, Peacegen berfokus pada pada pengembangan pelatihan perdamaian, media pembelajaran perdamaian, dan kegiatan kampanye serta aktivasi konten perdamaian.
"Kami berkomitmen untuk menyebarkan perdamaian dengan cara-cara yang ceria melalui media kreatif," katanya.
Dikenal sebagai tokoh perdamaian, Irfan diketahui telah menyuarakan isu anti kekerasan sejak tahun 1998. Irfan juga menyebutkan bahwa dirinya mendambakan sebuah dunia di mana anak-anak dan kaum muda bisa belajar dan mempraktikkan nilai perdamaian dalam kehidupan.
"Kami memungkinkan setiap anak-anak dan kaum muda untuk mempelajari perdamaian dengan membekali para agen perdamaian dengan media pembelajaran kreatif," ujarnya.
Profil Irfan AmaleePria kelahiran Bandung, 28 Februari 1977 itu berasal dari keluarga muslim yang taat. Ia juga disekolahkan di Pondok Pesantren Darul Arqam Garut.
Irfan melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi, di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung pada tahun 1996-2000.
Tidak hanya itu, melekat dengan pendidikan Islam, kini Irfan juga telah mendirikan Peacesantren Welas Asih (PWA) di Desa Sukarasa, Semarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Pesantren ini adalah salah satu yang unik di Indonesia. Di PWA, santri belajar berbasis proyek untuk memecahkan masalah kehidupan nyata (project/problem based learning).
Sekilas Peace GenerationKelahiran Peacegen berawal dari pertemuan antara Irfan Amalee dan pria berkebangsaan Amerika Serikat, Eric Lincoln pada 2006. Hubungan keduanya merupakan guru dan murid, di mana Eric merupakan guru bahasa Inggris di kantor Penerbit Mizan, tempat Irfan bekerja.
Awal pertemuan itu, keduanya memiliki pandang berbeda dan berseberangan terhadap pribadi masing-masing. Di mana Irfan beranggapan Amerika sebagai sumber masalah, sementara Eric menganggap Irfan sebagai seorang Taliban.
Seiring cukup intens berinteraksi, ternyata keduanya memiliki minat yang sama, yakni tertarik pada dunia pendidikan untuk remaja dan anak-anak.
Di mana pada akhirnya mereka berdua bersahabat, dan pada 2007 mendirikan Peace Generation Indonesia, dengan modul 12 nilai perdamaian yang mereka rancang bersama.
Berkat konsistensinya mengkampanyekan perdamaian, Irfan berhasil meraih beberapa penghargaan, di antaranya sebagai International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Communication Award 2009 dari British Council, Alumni Australia Award, Kick Andy Heroes, 500 Most Influential Muslim dari Royal Institute for Islamic Studies Amman Yordania, Wirausaha Muda Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2012 dan Top 6 ASEAN Social Impact Award 2017.
(jqf)