Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Kisah Sayyidah Hajar dan Nabi Ismail di Lembah yang Sunyi

azhar azis Selasa, 20 Juli 2021 - 12:00 WIB
Kisah Sayyidah Hajar dan Nabi Ismail di Lembah yang Sunyi
Masjid Halil-ur Rahman (Kekasih Allah) dan Kolam Ibrahim, Urfa (Sanliurfa), Turki. Foto: LANGIT7.ID/ iStock)
LANGIT7.ID - Nabi Ibrahim Khalilullah dan istrinya, Sayyidah Sarah, memutuskan pindah ke Mesir dan tinggal di sana dalam jangka waktu tertentu. Sarah tidak memiliki anak disebabkan mandul. Hingga rambut Nabiyullah Ibrahim AS memutih, belum juga dikaruniai keturunan.

Usia yang terus bertambah tak menghentikannya bermunajat kepada Allah agar diberi keturunan yang kelak menjadi nabi-nabi dan penerus risalah Tauhid yaitu Islam. Nabi Ibrahim tak pernah putus asa. Sementara istrinya, Sarah, berpikir bahwa Ibrahim kesepian karena tak kunjung dikaruniai buah hati.

Disebutkan, usia Sarah saat itu menginjak 67, lainnya menyebut 77 tahun. Sedangkan Baginda Ibrahim berusia 87 tahun. Tercetuslah ide di benak Sarah untuk menikahkan suaminya dengan Sayyidah Hajar. Status Hajar saat itu adalah pelayan yang diberikan kepada Sarah dari raja yang berkuasa saat itu.

Nabi Ibrahim pun menikahi Hajar hingga akhirnya diberi karunia seorang putra bernama Ismail. Namun, rumah tangga Ibrahim berguncang. Kehadiran Hajar dan Ismail membuat Sarah cemburu, layaknya wanita biasa lainnya. Maka turunlah perintah dari langit agar Nabi Ibrahim AS membawa Hajar dan putranya Ismail ke gurun tandus di Makkah.

Dinukil dari Kisas al-Anbiya' dan Story of Ibrahim (alim.org), Nabi Ibrahim AS bangun dan meminta istrinya, Hajar, untuk membawa serta putranya dalam sebuah perjalanan panjang. Tibalah waktunya, mereka pergi meski sang anak masih menyusui dan dan belum disapih.

Nabi Ibrahim, Hajar, dan ismail, berjalan melalui pertanian, gurun, dan pegunungan sampai mencapai sebuah gurun di Semenanjung Arab. Mereka pun tiba di sebuah lembah yang gersang. Sunyi tak berpenghuni. Tak ada jejak manusia di sana. Tiada tanaman, apalagi buah-buahan atau hasil bumi. Air untuk minum pun kering.

Lembah itu tak memiliki tanda-tanda kehidupan. Kemudian, Ibrahim membantu istri dan anaknya turun ke lembah tersebut. Hanya sekantung air sebagai bekal untuk Hajar dan Ismail, serta beberapa butir kurma. Ibrahim pun meninggalkan mereka berdua di lembah itu.

Saat akan pergi, Hajar mengejar Ibrahim dan bertanya: "Ke mana Anda pergi, apakah akan meninggalkan kami di lembah tandus ini?"

Sang Nabi tidak menjawab, tetapi terus berjalan. Hajar bertanya lagi, tetapi Nabi Ibrahim tetap diam. Akhirnya, Hajar paham bahwa suaminya tidak bertindak atas kehendak sendiri. Hajar menyadari bahwa Allah telah memerintahkannya untuk melakukan ini. Lalu bertanya lagi kepadanya: "Apakah Allah memerintahkan Anda untuk melakukannya?" Nabi Ibrahim menjawab, "Ya."

Hajar pun tenang, dan berkata: "Kami tidak akan tersesat, karena Allah, yang telah memerintahkan Anda, bersama kami."

Dalam perjalanan pulang, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah: "Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit." (QS Ibrahim: 37-38).

Sepeninggalan Ibrahim, Hajar menanggung panasnya gurun. Dia juga harus merawat bayinya yang baru lahir hingga kehabisan bekal. Air susunya mengering. Hajar bingung harus mencari air ke mana. Sementara bayinya mengerang kelaparan dan haus.

Berlarilah Hajar di antara pegunungan Safa dan Marwa sebanyak tujuh kali berulang-ulang untuk mencari air. Dari kisah ini, jadilah syariat sebagai rukun haji untuk sa'i antara Safa dan Marwa. Sampai Hajar kelelahan, air belum juga tampak. Sementara bayinya terus menangis.
Seketika, seperti ada penampakan. Riwayat lain menyebutkan, Hajar sepertinya mendengar suara. Sumber suara itu kemudian memintanya agar tidak takut dan sedih. Saat itu, Allah SWT mengutus Jibril AS dan Jibril mengepakkan sayapnya ke bumi, tak jauh dari posisi Ismail. Keluarlah mata air, tepat di samping kaki si kecil, Ismail.

Hajar berlari menuju sumber air itu dengan memuji Allah SWT atas berkat-Nya. Sedari awal, Hajar memang yakin bahwa Allah menyertai dirinya dan Ismail. Keduanya pun minum. Karena Hajar takut airnya akan habis, dia mengumpulkannya dengan tangannya dan berkata: "Zami Zami." Artinya, berkumpullah, berkumpullah. Maka, kini air itu dinamakan zamzam.

Hari berlalu, hanya ada Hajar dan Ismail di lembah itu. Beberapa lama kemudian, barulah orang-orang dari suku Jurhum datang kepada mereka meminta air. Karena kesulitan sumber air, mereka meminta untuk tinggal di sebelahnya dan berbagi air Zamzam. Hajar menyambut dan tinggallah mereka berdampingan di lembah tersebut.

Hajar membesarkan dan merawat Ismail dengan iman kepada Allah SWT dan cinta kebaikan. Ismail belajar bahasa Arab dari suku Jurhum. Ismail pun tumbuh besar dan sangat taat kepada ibundanya, Hajar. Sang ibu pun bahagia ketika melihat anaknya telah dewasa dan menjadi seorang pemuda.
Ibu yang mulia dan agung ini pun meninggal dunia pada usia 90 tahun, dan dimakamkan di sebelah rumah suci Baitullah. Kaum Jumhur begitu mencintai dan mengaguminya Ismail. Ismail pun dinikahkan dengan seorang wanita dari kalangan mereka.

Menurut kitab Qishash al Anbiya karya Ibnu Katsir, Hajar adalah seorang putri bangsa Qibthi (Mesir). Hajar seorang anak raja Maghreb, leluhur dari para nabi-nabi dalam Islam. Namun, ayahnya dibunuh oleh Firaun yang bernama Dhu l-'arsh dan dia ditawan dan dijadikan sebagai budak. Karena dia masih golongan bangsawan, dia hendak dijadikan selir. Hingga akhirnya, sang raja memberikan Hajar kepada Sarah untuk dijadikan sebagai pelayan. Wallahu a'lam.

(jak)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)