LANGIT7.ID - , Purbalingga - Gaya arsitektur Masjid Jami’ Piti Muhammad Cheng Ho Purbalingga, Jawa Tengah, punya ciri khas yang berbeda. Masjid ini banyak mengadopsi arsitektur China, menyerupai kelenteng tempat beribadah umat bergama Khonghucu yang dikombinasikan dengan sentuhan budaya Jawa dan Arab.
Budaya China di bangunan masjid ini terlihat pada pagoda, warna, pilar dan lainnya. Seperti kebanyakan kelenteng, warna merah pun mendominasi masjid ini dengan atap berwarna hijau.
Baca juga: Pesona Masjid Cheng Ho, Tempat Ibadah Sekaligus Destinasi Wisata Religi di PalembangSedangkan sentuhan budaya Jawa terletak pada wuwungan, usuk-usuk pada langit-langit. Kaligrafi di dinding dan atap bagian dalam masjid merepresentasikan budaya Arab.
Masjid yang kaya akulturasi budaya ini berlokasi di Jalan Raya Mangunegara, di jalur Purbalingga –Bobotsari Km 8, tepatnya di Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet Purbalingga. Berjarak sekitar 12 km dari pusat Kabupaten Purbalingga, menuju ke jalur Purbalingga- Pemalang, dan persis berada di pinggir jalan utama Bobotsari.
Pintu masuk masjid berbentuk melengkung dan terdapat kaligrafi relief yang diukir dengan membentuk lafadz Allah. Bagian teras dan dalam masjid diberi sentuhan nuansa Tiongkok, dengan lampion merah sebagai penghias masjid. Sedangkan di bagian eksterior, memiliki atap tumpang tiga seperti Masjid Cheng Ho Surabaya, Jawa Timur.
Adalah Persatuan Islam Tionghoa Indonesia Purbalingga (PITI) dengan Ketua Herry Susestyo, seorang keturunan China yang telah mualaf yang memprakarsai pembangunan masjid ini.
Dalam wawancaranya dengan Imam Ramadhan Bagus Panuntun, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang menyelesaikan skripsi pada 17 Juli 2017, Herry Susetya memiliki ide untuk membangun masjid karena telah menjalankan perintah agama Islam, mulai dari mengaji, salat, dan amal ibadah lainnya selama tiga tahun sejak mualaf pada 2001.
“Saya berpikir mau lakukan apalagi untuk Islam? Apakah saya cukup untuk bisa mengaji saja? Wah, kaya-kayanya saya tak mungkin membangun masjid saja yang bernuansa arwanalah, bercorak Arab, Jawa-China gitu mungkin lebih baik,” kata Herry.
“Disamping itu saya gak tahu kok, dengan beraninya seolah-oleh mendirikan, padahal uang cuma sedikit, paling ada Rp80 juta sampai Rp100 jutaan tapi kok ingin bangun masjid yang nuansanya kecinaan,” ujarnya lagi.
Herry mengaku terinspirasi dengan Masjid Cheng Ho di Surabaya. Dan banyak belajar mengenai desain bangunan dan gaya masjid di sana, termasuk corak dan warnanya. Kemudian ia mendatangi Bupat Purbalingga waktu itu, Triono, dan menyampaikan keinginannya, ternyata disetujui.
“Akhirnya saya dipinjami mobil, dikasih sangu dan saya berangkat ke Surabaya. Setelah saya studi banding, terus pulang lalu saya mulai merubah-rubah. Ya, artinya nggak mengikuti apa aslinya di sana. Saya banyak rubah supaya bagaimana lebih nyaman, akhirnya terbentuklah seperti ini,” kata pria bersapa Herry Wakong tersebut.
Masjid Muhammmad Cheng Ho ini berdiri dan diresmikan pada 5 Juni 2011. Pembangunannya dimulai pada 2005. Pada tahun 2006 sempat berhenti pembuatannya, hingga akhirnya tahun 2010 kembali dilanjutkan. Berdiri di tanah seluas 35,30 x 29 meter persegi dengan tinggi sekitar 14,8 meter.
Takmir Masjid Jami’ Piti Muhammad Cheng Ho Untung Supardjo membenarkan masjid tersebut kali pertama digagas oleh Herry Susetyo, yang memiliki nama asli Thio Hwa Kong. Pada tahun 2001 dia menyatakan masuk Islam, dituntun oleh salah seorang kiai.
Dikatakan, setelah dinyatakan masuk Islam, pada 2003 Herry Susetyo dilantik sebagai Ketua PITI Purbalingga. Nama organisasi itu sempat berubah menjadi Pembina Iman Tauhid Islam, karena situasi politik saat itu banyak orang China yang diragukan ke-Indonesiaanya.
Baca juga: Masjid Cheng Hoo Makassar, Duet Tiongkok dan Timur Tengah Gaya Modern“Ya politislah, golek selamet (cari selamat). Tapi dalam musyawarah nasional terakhir di Pontianak disepakati kembali ke nama asal Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, tapi misinya tetap pembina Iman Tauhid Islam,” kata Untung.
Destinasi wisata religi di Kabupaten Purbalingga tersebut tidak dipungut biaya untuk masuk. Masjid difungsikan untuk beribadah salat lima waktu masyarakat sekitar, maupun pengendara mobil atau motor yang melintas dari luar kota. Sobat Langit7 hanya tinggal membayar biaya parkir di areal masjid saja.
(est)