Langit7, Jakarta - Selain menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional, pemerintah saat ini juga tengah berfokus untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat terdampak pandemi Covid-19.
Hal itu dilakukan demi mendorong Indonesia agar tidak terjebak menjadi negara
middle income trap atau negara dengan pendapatan menengah sehingga sulit menjadi negara maju.
Untuk itu, reformasi struktural menjadi kunci penting dalam peningkatan kualitas SDM dan transformasi ekonomi menuju ekonomi yang berkelanjutan.
Baca juga: Simkatmawa 2021 UMY Masuk Peringkat 1 PTS di IndonesiaHal itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat memberikan Kuliah Umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mahasaraswati, ”Peluang dan Tantangan Perekonomian Indonesia pada Masa New Normal”, Bali, Jumat (17/12).
“Generasi muda diharapkan memanfaatkan peluang dalam momentum Presidensi G20 Indonesia, mengingat penyelenggaraan beberapa pertemuannya juga dilakukan di Bali. Selain itu, dengan kemampuan digital yang dimiliki, generasi muda diharapkan tidak hanya berperan sebagai
job seeker, tapi juga
job creator,” katanya.
Untuk itu, peningkatan kualitas SDM perlu dilakukan guna mendorong aktivitas kewirausahaan yang saat ini masih rendah, atau sekitar 3,47 persen dari total populasi. Kemampuan adaptasi tinggi, kompetitif, berjiwa
entrepreneur, dan berkarakter menjadi prasyarat utama yang perlu dimiliki generasi muda.
Airlangga menyebutkan, dalam 15 tahun ke depan, Indonesia diperkirakan membutuhkan talenta digital sebanyak 9 juta orang atau 600 ribu orang per tahun.
Baca juga: Universitas Islam Indonesia, Cita-cita Pendiri Bangsa Lawan Hegemoni Pendidikan BelandaPengembangan keterampilan digital diperkirakan akan memberikan kontribusi senilai Rp4.434 triliun terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia di tahun 2030. Pemanfaatan talenta digital ini juga akan berperan sebagai akselerator bagi wirausaha dan menjadi peluang bagi generasi muda.
"Selain itu, pemerintah juga terus mendorong digitalisasi UMKM sehingga mereka dapat meningkatkan produktivitasnya," kata dia.
Indonesia akan melakukan transformasi ekonomi melalui strategi “Making Indonesia 4.0” yang berfokus kepada 7 sektor prioritas. Di antaranya yakni makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, elektronik, farmasi, dan alat kesehatan.
Strategi itu, lanjut dia, diharapkan dapat mendorong Indonesia menjadi salah satu dari 10 ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.
Baca juga: Universitas Muhammadiyah Surakarta, Bermula dari 51 Mahasiswa hingga Jadi Universitas Islam Kelas DuniaUntuk itu, dia mengajak civitas akademika untuk terus meningkatkan koordinasi dan sinergi agar momentum pemulihan dapat terjaga di tahun 2022.
"Efektivitas penanganan pandemi adalah kunci utama bagi perekonomian untuk bangkit dari pandemi. Saya berharap perguruan tinggi dapat meningkatkan perannya tidak hanya sebagai tempat pembelajaran, tapi juga pengantar bagi mahasiswa ataupun lulusannya yang ingin berwirausaha dan meningkatkan kemampuan digital,” tambahnya.
(zul)