LANGIT7.ID, Jakarta - Hukum menjawab adzan adalah sunnah. Menjawab adzan dan iqamah adalah dengan mengikuti apa yang diucapkan oleh muadzin dan
muqim (orang yang iqamah).
Menjawab adzan disunnahkan bagi orang yang mendengar adzan. Cara menjawab adzan ialah dengan mengikuti kalimat adzan yang diucapkan muadzin, kecuali pada beberapa kalimat.
Mualim KH Muhammad Syafi’i Hadzami menjelaskan, saat muadzin mengucapkan Hayya ‘alâ as-salâh dan Hayya ‘alâ al-falâh, maka yang mendengar mengucapkan Lâ haulâwalâ Quwwata illâ billâh. Adapun untuk adzan subuh, saat muadzin mengucapkan As-salâtu khairum mina an-naum maka dijawab dengan sadaqta wa barirta.
Baca Juga: Innalillahi, Mantan Ketua BPK Harry Azhar Azis Meninggal DuniaSedangkan untuk iqamah sama seperti halnya menjawab adzan. Namun, ketika muaqim mengucapkan Qad Qâmati as-salâh, maka dijawab dengan, Aqâmahallâhu wa adamaha wa ja‘alanâ min sâlihî ahlihâ.
Mualim menerangkan, seseorang yang berhadats besar maupun kecil, wanita yang sedang haid dan nifas diperbolehkan menjawab adzan dengan sempurna. Kebolehan tersebut karena menjawab adzan merupakan dzikir.
“Telah ijma’ ulama atas bolehnya dzikir dengan hati dan lidah bagi yang berhadas besar, wanita yang sedang haid dan sedang nifas. Dan yang de mikian itu pada tasbih, tahlil, tahmid dan takbir dan shalawat atas Nabi doa dan lain daripada itu.” (Al Adzkâr Imam Nawawi).
Baca Juga: Breaking News: Pemerintah Tunda Pemberangkatan Umrah Hingga 2022Akan tetapi, makruh menjawab adzan ketika buang air, sebagaimana tersebut pula di dalam Al Adzkâr, “Maka sebagian dari yang demikian itu, bahwa dimakruhkan dzikir ketika duduk qadha hajat atau buang air.
Adapun mengenai adzannya beberapa orang muadzin, maka sunah Anda jawab semuanya, dan yang paling afdal adalah yang suaranya yang terdengar lebih dahulu.
Sumber: Taudhîhul Adillah Penjelasan tentang Dalil-Dalil Shalat.Baca Juga: Cegah Penyebaran Omicron, DPR Minta Pemerintah Tutup Pintu Masuk TKA(zhd)