LANGIT7.ID, Jakarta - Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang telah berdiri ratusan tahun baru saja dilebur ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumya, LBM Eijkman berada di bawah naungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).
Lembaga riset yang sudah diakui secara internasional itu pertama kali didirikan pada 1888. Lembaga itu didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan nama Central Geneeskundig Laboratorium atau Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat di area Rumah Sakit Militer Hindia-Belanda, kini menjadi RS Gatot Subroto di Jakarta Pusat.
Pada 1938, nama Eijkman digunakan untuk mengganti Geneeskundig Laboratorium. Nama itu diambil dari dokter sekaligus peneliti Belanda, Christiaan Eijkman. ia adalah penerima penghargaan Nobel bidang kedokteran pada 1929 atas konsep penemua vitamin, saat meneliti penyakit beri-beri di Batavia.
Dikutip dari buku 'Eksperimen Keji Kedokteran penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Maut Romusha 1944-1945' yang ditulis J. Kevi Baird & Sankot Marzuki, Eijkman menjadi direktur pertama lembaga tersebut.
Baca Juga: Epidemiolog Laura Navika Yamani, Muslimah Cemerlang yang Selaraskan Sains dan Wahyu Ilahi
Lembaga ini merupakan aset langka yang signifikan di bidang kedokteran tropis yang kala itu berkembang pesat. Ada banyak sumbangsih lembaga ini seperti penemuan penyebab penyakit, pengobatan, pencegahan penyakit beri-beri, hingga vitamin B1.
Pada 1938, lembaga ini berubah nama menjadi Lembaga Eijkman dan dipimpin oleh Prof Dr Achmad Mochtar. Ia merupakan orang Indonesia pertama yang memimpin lembaga tersebut.
Namun, nasib Mochtar sangat malang. Ia dihukum pancung oleh tentara Jepang karena fitnah terkait pencemaran vaksin tetanus yang dikembangkan pada saat itu. Dia dihukum karena menyelamatkan rekan-rekannya pada saat itu.
Lembaga ini pernah ditutup pada 1960-an karena dinamika politik dan ekonomi. Eijkman sempat melebur dengan RS Cipto Mangunkusumo.
Lalu, Eijkman dibuka kembali pada Desember 1990. Kelahiran itu berkat inisiatif BJ Habibie, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Meski begitu, lembaga ini baru sah sebagai lembaga pada 1992.
Sementara itu, guna mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, Habibie meminta Eijkman beralih dari dunia mikrobiologis ke ranah biomolekuler. Ia lalu menunjuk Profesor Sangkot Marzuki, ahli biomolekuler lulusan Monash University, sebagai pemimpin. Ia menahkodai lembaga itu hingga 2014.
Pada 1 September 2021, terjadi integrasi Kemenristek dan empat lembaga pemerintah nonkementerian (LPNK) ke BRIN. Status LBM Eijkman kemudian menjadi PRBM Eijkman di bawah Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati.
(jqf)