Perwakilan tinggi Aliansi Peradaban Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa pembakaran Al-Qur'an bukanlah manifestasi kebebasan berekspresi. Badan PBB mengecam aksi pembakaran Al-Qur'an di Swedia.
Aksi pembakaran Kitab Suci Al Quran di Swedia bukan saja tidak sesuai dengan nilai keagamaan dan toleransi, malah lebih dari itu bisa memicu ketegangan
Tak hanya dunia Islam yang mengecam aksi tersebut, namun juga komunitas Kristen dan Yahudi dari berbagai belahan dunia ikut mengutuk tindakan tercela ini.
Namun, Buya Yahya menekankan, pembakaran Al Quran tersebut dengan tujuan untuk memuliakan kalimat-kalimat Allah SWT. Hal tersebut pernah terjadi di zaman sahabat Utsman bin Affan dengan niat memuliakan.
Aksi Paludan membakar Al Quran bukan baru kali ini terjadi. Sebelumnya pada 14-15 April 2022, Paludan membakar Al Quran di berbagai kota di Swedia. Bersama kelompoknya Paludan menyiarkan secara langsung aksi tersebut.
Aksi pembakaran Al-Qur'an terjadi di depan Kedutaan Turki di Stockholm. Pemimpin partai Hard Deal sayap kanan Denmark itu mendapat izin dari aparat keamanan Swedia menggelar demonstrasi.
Kristersson menegaskan, aksi tersebut meningkatkan ketegangan dan sangat tidak sopan. Menurutnya, kebebasan berekspresi tidak sesuai dengan norma yang ada.
Wakil Ketua Komisi 1 DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menilai pembakaran Al Qur'an di Stockholm, ibu kota Swedia, Sabtu (21/1/2023) jelas-jelas ungkapan kebencian. Aksi tersebut bukanlah kebebasan berekspresi.