Hamas memilih pemimpin baru setelah kematian Ismail Haniyeh di Tehran. Yahya Sinwar, arsitek serangan 7 Oktober, terpilih sebagai pemimpin baru meski kontroversial. Pilihan ini menandakan fase lebih ekstrem bagi Hamas di tengah konflik berkepanjangan dengan Israel. Upaya gencatan senjata terus berlanjut, namun prospek perdamaian masih jauh.
Pemimpin baru Hamas, Yahya Sinwar, menuai protes warga Israel. Dianggap sebagai perwujudan kekejaman Hamas, Sinwar diharapkan bernasib sama seperti pendahulunya. Pengangkatannya terjadi di tengah ketegangan tinggi pasca serangan 7 Oktober. Warga Israel menyoroti latar belakang Sinwar yang pernah dipenjara dan fasih berbahasa Ibrani sebagai ancaman potensial.
Yahya Sinwar, pemimpin baru Hamas, muncul di tengah perang Israel-Gaza. Mantan tahanan Israel ini dituduh sebagai dalang serangan 7 Oktober. Dikenal sebagai tokoh keras, Sinwar menggantikan Ismail Haniyeh yang tewas di Tehran. Militer Israel menyebutnya orang mati berjalan. Sinwar kini menjadi target utama operasi militer di Gaza.
Pasca tewasnya Ismail Haniyeh, Hamas menghadapi pergantian kepemimpinan krusial. Dewan Syura akan memilih pemimpin baru dari beberapa kandidat potensial seperti Zaher Jabarin, Khaled Mashaal, dan Yahya Sinwar. Pilihan ini akan menentukan arah Hamas: negosiasi dengan Israel atau melanjutkan perlawanan bersenjata. Dunia menanti, apakah pemimpin baru akan membawa perubahan atau mempertahankan kebijakan lama Hamas.