LANGIT7.ID-, Jakarta- - Rakyat Israel mengecam keras pemimpin baru Hamas, Yahya Sinwar, pada hari Rabu. Beberapa berharap dia akan bernasib sama seperti pendahulunya yang tewas minggu lalu.
Di dekat Alun-alun Dizengoff Tel Aviv, yang air mancurnya dikelilingi penghormatan untuk sandera Gaza dan korban perang Israel, pengangkatan Sinwar disambut dengan kegelisahan.
Kepala Hamas Gaza, yang diduga sebagai otak serangan 7 Oktober, diangkat sebagai pemimpin gerakan itu pada Selasa malam setelah tewasnya Ismail Haniyeh di Tehran.
"Pilihan ini sudah menjelaskan segalanya," ujar Hanan, manajer perusahaan logistik, yang tidak ingin menyebutkan nama keluarganya.
"Artinya mereka memilih Sinwar dan tidak merasa perlu mencari seseorang yang kurang militan, seseorang dengan pendekatan yang tidak sebrutal ini."
"Saya sangat berharap masa depannya akan sama seperti pendahulunya, dan itu terjadi segera," tambahnya.
Sinwar yang misterius, yang tidak terlihat sejak 7 Oktober, muncul sebagai pemimpin kelompok Palestina itu 10 bulan setelah perang Israel-Hamas dimulai.
Kebangkitannya terjadi di saat ketegangan memuncak, setelah kematian Haniyeh dan pembunuhan komandan top Hizbullah di Lebanon oleh Israel memicu kekhawatiran akan respons terkoordinasi dari Iran dan sekutunya.
Serangan Hamas pada 7 Oktober mengakibatkan 1.198 orang tewas, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP berdasarkan data resmi Israel.
Militan Palestina menyandera 251 orang, 111 di antaranya masih ditahan di Gaza, termasuk 39 yang dinyatakan tewas oleh militer Israel.
Kampanye militer pembalasan Israel di Gaza telah menewaskan setidaknya 39.677 orang, menurut kementerian kesehatan wilayah yang dikuasai Hamas, yang tidak merinci jumlah korban sipil dan militan.
Lebih Mudah MelenyapkannyaDi Yerusalem, konsultan Laurent Cudkowicz mengatakan bahwa Sinwar mungkin kini menjadi lebih rentan terhadap serangan Israel.
"Hamas benar mengangkat Sinwar sebagai pemimpinnya," kata pria berusia 58 tahun itu kepada AFP. "Dialah yang mewujudkan kekejaman mereka dan yang mampu memadukan tindakan mereka dengan cara berpikirnya."
"Dan mungkin ini akan memaksanya untuk menampakkan diri dan memudahkan Israel untuk melenyapkannya."
Di Tel Aviv, pusat komersial Israel, para wisatawan berkumpul di Alun-alun Dizengoff, mengamati foto-foto, boneka beruang, dan hadiah lain yang ditinggalkan untuk mereka yang tewas dan ditawan.
"Saya rasa ini pernyataan yang sangat kuat dari Hamas karena Israel telah berusaha membunuh Sinwar sejak lama dan mereka tahu dia target yang sangat penting bagi kami," kata Juliette, seorang mahasiswa, di dekat situ.
"Jadi, saya rasa mereka benar-benar ingin mengatakan bahwa mereka tidak takut dan masih memberinya banyak tanggung jawab atas perang ini."
Sagie Havshosh, mahasiswa lainnya, menunjukkan bahwa Sinwar yang fasih berbahasa Ibrani "mengenal musuhnya" dari waktu yang dihabiskannya di penjara Israel.
"Tidak mengejutkan mereka memilih orang seperti Sinwar untuk memimpin organisasi teroris yang destruktif dan jahat seperti yang kita kenal sebagai Hamas," kata pria berusia 26 tahun itu.
"Sinwar benar-benar orang yang sangat berpengalaman. Dia pernah dipenjara di Israel, dia bisa berbahasa Ibrani, dia mengenal musuhnya, yang sebenarnya adalah kita."
"Dan kita semua tahu bahwa tujuannya adalah agar (orang Israel) tidak berada di sini."
(lam)